Puisi “Ratap Ibu” oleh Sariamin

Tak ada seorangpun penyair wanita yang menerbitkan kumpulan sajaknya pada masa sebelum perang. Betapapun besarnya kehendak untuk panjang berbincang mengenai puisi yang ditulis oleh para penyair wanita, namun bahan-bahan yang ada membuktikan bahwa hal itu tidak mungkin. Beberapa nama pernah muncul dalam berbaga majalah menulis, namun tidak cukup berarti untuk dibicarakan. Kecuali orang ini: Sariamin. Dia sering menggunakan Selasih dan Seleguri dan lain-lain, yang lebih terkenal karena romannya Kalau tak untung (1993) dan Pengaruh keadaan (1937). Beberapa sajaknya dimuat juga oleh Sutan takdir dalam bukunya Puisi Baru (1946).

Puisi Ratap Ibu merupakan salah satu karya Sariamin. Sajak ini melukiskan perasaan hati seorang ibu pada hari lebaran yang ditinggalkan mati oleh anaknya:

Ratap Ibu

Anakku tuan remaja putri,
Buah hati cahaya mata ;
Hari raya sebesar ini,
Mengapa tuan tak bangun jua.

Bangun tuan bangun nak kandung,
Bangun nak sayang, muda rupawan,
Sampai hati anakku tuan,
Membiarkan bunda duduk berkabung.

Lihatlah nasi telah terhidang,
Pakailah kain berlipat-lipat,
Tuan penanti jamu yang datang,
Akan penjelang kaum kerabat.

Bunyi tabuh menggegar bumi,
Penuh sesak di jalan raya,
Bunyi petasa gegap gempita,
Segalam umat bersuka hati.

Parau suara kering rangkungan,
Memanggil tuan emas juita,
Mengapa tidak tuan dengarkan,
Suka melihat ibu berduka.

Tersirap darah gemetar tulang,
Melihat gadis duduk bersenda,
Wajah tuan sedikit tak hilang,
Serasa anakku duduk beserta.

Aduhai gadis anakku sayang,
Masih teringat, terbayang-bayang,
Di hari raya tahun dahulu,
Tuan duduk di hadapan ibu.

Bunda selalu dengar-dengaran,
Sebagai mendengar suara tuan ;
Perangai menjadi bayangan mata,
Peninggalan seakan racun yang bisa.

Anakku, tak tertahan tak terderita,
Tersekang nasi dalam rangkungan ;
Terbang semangat letih anggota,
Bila bunda teringat tuan.

Ke rimba mana bunda berjalan,
Lautan manakah bunda arung ;
Agar bertemu anakku tuan,
Supaya terhibur hati yang murung.

Anakku, kekasih ibu,
Buah hati junjungan ulu ;
Lengang rasanya kampung negara,
Sunyi senyap di hari raya.

Bunda sebagai hidup sendiri
Selama tuan tak ada lagi.

Tidak berguna sawah dan bendar,
Emas intan tidak berharga ;
Rumah besar rasa terbakar,
Untuk siapa kekuatan bunda.
Aduh kekasih, aduh nak sayang,
Di mana tuan terbaring seorang ;
Bawalah ibu sama berjalan,
Mengapa bunda tuan tinggalkan.

Sumber : Buku Membicarakan Puisi Indonesia oleh Ajip Rosidi.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>