Puisi Rendra Sajak Sebotol Bir

Puisi dari Rendra yang judulnya saja sudah sangat kontroversial. Dengan segala sifat mbelingnya’ Rendra menunjukan pada dunia, bahwa bir pun bisa menjadi inspirasi bagi penyair. Dalam puisi Sajak Sebotol  Bir ini, kita tidak boleh terkecoh pada judulnya. Mungkin saja Rendra memberi tajuk yang kesannya sepele dari sajak ini, tapi saat kita membacanya, kita tahu, bahwa isinya jauh sekali dari kata ‘sepele.’

Dalam sebuah sajak panjang dan penuh gizi ini, kita akan menerawang pada kondisi perekonomian Indonesia yang memprihatinkan. Puisi ini menjadi saksi sejarah, bagaimana kondisi perekonomian Indonesia pada waktu itu. Dan kami rasa, dengan mengetahuinya, kita akan bisa mengambil pelajaran yang berharga.

Inilah Puisi dari WS. Rendra

Sajak Sebotol Bir

Oleh : W.S. Rendra

Menenggak bir sebotol,
menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan.
Membakar dupa,
mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.

 

Hiburan kota besar dalam semalam,
sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa!
Peradaban apakah yang kita pertahankan?

Mengapa kita membangun kota metropolitan?
Dan alpa terhadap peradaban di desa?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
Dan tidak kepada pengedaran?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
Akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
Kota metropolitan di sini,
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
Australia, dan negara industri lainnya.

Di manakah jalan lalu lintas yang dulu?
Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.

Jalan lalu lintas masa kini,
Mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
Adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
Pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
Bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
Tidak untuk petani,
Tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
Tanpa ada daya untuk menciptakan.

Apakah kita akan berhenti sampai di sini?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri?
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
Yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan
Harus senantiasa menghasilkan….
Dan akhirnya memaksa negara lain
Untuk menjadi pasaran barang-barang kita?

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata?
Apakah pemikiran ekonomi kita
Hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme?
Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira?
Apakah kita akan hanyut saja
Di dalam kekuatan penumpukan
Yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
Terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?

Kita telah dikuasai satu mimpi
Untuk menjadi orang lain.
Kita telah menjadi asing
di tanah leluhur sendiri.
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
Dan menghamba ke Jakarta.
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
Dan menghamba kepada Jepang,
Eropa, atau Amerika.

(Potret Pembangunan dalam Puisi, Pejambon, 23 Juni 1977)

This entry was posted in Puisi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>