Puisi Rustam Effendi – Mengeluh

Sajaknya yang lain yang menurut hemat saya paling keras menyatakan cintanya kepada kemerdekaan tanah air, berjudul sangat murung: ‘Mengeluh.’ Di bawah ini seluruh sajak itu saya salinkan :

Mengeluh

1.

Bukanlah beta berpijak bunga,
Melalui hidup menuju makam.
Setiap sa’at disimbur sukar
Bermandi darah, dicucurkan dendam.

 

Menangis mata melihat mahluk,
Berharta bukan, berhak pun bukan.
Inilah nasib negeri ‘nanda,
Memerah madu menguruskan badan;

Ba’mana beta bersuka cita;
Ratapan ra’yat riuhan gaduh,
Membobos masuk menyayu kalbuku.

Ba’mana boleh berkata beta?
Suara sebat, sodanan rusuh
Menghimpit madah, gubahan cintaku

II

Bilakah bumi bertabur bunga,
Disebarkan tangan yang tiada terikat;
Dipetik jari yang lemah lembut,
Ditanai sayap kemerdekaan ra’yat?

Bilakah lawang bersinar Bebas,
ditinggalkan dera yang tiada terkata?
Bilakah susah yang kita benam,
Dihembus angin kemerdekaan kita?

Di situlah baru bersuka beta,
Pabila badanku bercerai nyawa,
Sebab menjemput menikam bangasaku.

Sajak ini tidak mempunyai semangat menyala seperti misalnya sajak-sajak cinta tanah air Muhammad Yamin. Rustam memang lebih realistis daripada Yamin yang tenggelam dalam pemujaan keluhuran serta keagungan bangsanya di masa silam: Rustam melihat betapa keadaan bangsanya yang “Setiap saat disimbur sukar bermandi darah, dicucurkan dendam.” Bagaimana ia akan bersuka cita melihat keadan seperti itu, karena ratapan rakyatnya menyayu kalbu?” Dan meskipun dalam sebuah sajaknya yang berjudul ‘Menangis’ ia telah sesumbar “bukan menangis kujadikan sifat” dan haramlah hatiku menaruh sayang pada lelaki berhati put’ri karena “menangis itu tandanya ta’ jantan atau anak yang di bawah umur” maka lantaran itu “menangis beta pantangkan” namun demi melihat mahluk (bangsanya) sangat sengsara “berharta bukan, berhak pun bukan,” tak urung mencucurkan air mata “Menangis mata melihat mahluk, berharta bukan, berhak pun bukan.” Apa yang bisa dibikin? Kecuali menangis, ia hanya mengharap “Bilakah bumi bertabur bunga, disebarkan tangan yang tiada terikat; dipetik jari yang lemah lembut, ditandai sayap kemerdekaan ra’yat!” dan “Bilakah lawang bersinar Bebas, ditinggalkan dera yang tiada terkata? Bilakah susah yang beta benam, dihembus angin kemerdekaan kita?”

Diambil dari buku Membicarakan Puisi Indonesia, karya Ajip Rosidi.

 

 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Puisi Rustam Effendi – Mengeluh

  1. Pingback: Simbur, Sembur, dan Sembul | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>