Puisi Rustam Effendi – Pekik Asmara

Hampir semua sajak yang dikumpulkan dalam Percikan Permenungan itu adalah sajak-sajak murung, yang melukiskan kesedihan seorang remaja yang mesti bercerai dengan kekasihnya (meski tak pernah dijelaskan sebab-musabab perpisahan itu), penuh kenangan akan “masa nyawa boleh bercumbu,” nyata dari kebanyakan judul sajak itu sendiri: ‘Berduka,’ ‘Bernasib,’ ‘Gelap,’ ‘Gulita,’ ‘Lengang,’ ‘Di tengah Badai,’ ‘O, Hati,’ ‘Sebagai Mimpi,’ ‘Kenangan Lama’ dan lain-lain. Judul-judul yang menyarankan hati yang pilu, suasana yang murung, penuh duka cita dan kesedihan. Demikian berlarut-larut kesedihan itu didendangkan Rustam Effendi, sehingga menyenakkan perasaan kita tatkala membacanya. Apapula karena kebanyakan kesedihan-kesedihan itu adalah rengekan seorang remaja yang belum dewasa, yang mencucurkan air mata karena mesti bercerai dengan kekasihnya. Tidak pernah kita tahu mengapa ia menangisi “kenangan lama,” karena sebab-musababnya tidak pernah diceritakan pemurung itu kepada kita, namun kadang-kadang disebutnya perkataan “makam,” menyarankan bahwa kekasihnya telah lebih dahulu meninggalkannya di dunia yang fana ini:

Pekik Asmara VI

Inilah madah bingkisan kanda
pada adinda di muka makam.
Kenangan kanda dalam dada,
di dalam maut kita bersalam.

Adiklah jadi buahan madah,
penggubah syair pelukis rindu.
Pencabut kata yang lemah-lemah,
kan jadi serunai suling nyawaku.

Sambutlah kata penyairan hati
berlagu tidak menuntut gamat,
bernyanyi beta menurut bunyi,
bukanlah lagu ku buat-buat.

Meskipun Rustam Effendi berkata “berlagu tidak menurut gamat”, bukan pula dibuat-buat,” namun karena nyanyinya terlalu “menurut bunyi,” maka terlalu dibikin-bikin dan nilai puisinya menjadi kurang. Sajak-sajak itu umumnya penuh ratapan dan keputusasaan yang tidak meyakinkan, bahkan menggelikan.

Lantaran itulah, terasa tenggelam beberapa buah sajaknya yang melukiskan perasaannya terhadap tanah air “seloka Tanah Air” di antara tumpukan sesal dan kesedihan yang berlebih-lebihan itu. Dengan demikian memang berhasillah maksud penyair untuk menyelipkan lagu-lagu cinta tanah air itu di antara lagu-lagu yang penuh erotik dan romantik. Dan demikian berhasil, sehingga takkan ketemu oleh kita jika tidak benar-benar dicari dengan ketelitian luar biasa.

Diambil dari buku Membicarakan Puisi Indonesia oleh Ajip Rosidi

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>