Puisi “Sajak Tangan” Karangan WS Rendra

Sebagai mahasiswa yang tidak tamat di Universitas Gadjah Mada, pandangan Rendra terhadap dunia kampus memang sangat unik. Nada-nada satire yang melingkupi “puisi-puisi kampus”-nya memang tidak terhindarkan. Rendra mampu menciptakan dimensi tersendiri dalam kegamangannya tentang nasib mahasiswa Indonesia. Dan Sajak Tangan ini adalah salah satunya.

WS Rendra membiarkan Sajak Tangan yang dibacakannya di Taman Ismail Marzuki ini sebagai puisi yang menghentak dan merobek-robek perasaan para mahasiswa. Puisi ini seakan menjadi afirmasi dari rasa takut yang menghampiri para mahasiswa. Rasa takut yang selalu dimulai dari pertanyaan sederhana: “Akan jadi apa diriku di masa depan?”

Dan diakhir puisinya, tak lupa Rendra memberikan ending yang menarik, tentang tindakan yang biasanya akan dilakukan oleh para mahasiswa saat kegamangannya semakin menjadi.

Sahabat, mari kita simak bersama, Sajak Tangan karangan WS Rendra:

SAJAK TANGAN

Oleh :
W.S. Rendra

Inilah tangan seorang mahasiswa,
tingkat sarjana muda.
Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai,
yang terpegang anderox hostes berumbai,
Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu,
tak ada jawaban.
Aku tendang pintu,
pintu terbuka.
Di balik pintu ada lagi pintu.
Dan selalu :
ada tulisan jam bicara
yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana
dan aku keluar mengembara.
Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan
muncul di depanku.
Tanganku aku sodorkan.
Nampak asing di antara tangan beribu.
Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur,
tangan nelayan yang bergaram,
aku jabat dalam tanganku.
Tangan mereka penuh pergulatan
Tangan-tangan yang menghasilkan.
Tanganku yang gamang
tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong,
tangan pejabat,
gemuk, luwes, dan sangat kuat.
Tanganku yang gamang dicurigai,
disikat.

Tanganku mengepal.
Ketika terbuka menjadi cakar.
Aku meraih ke arah delapan penjuru.
Di setiap meja kantor
bercokol tentara atau orang tua.
Di desa-desa
para petani hanya buruh tuan tanah.
Di pantai-pantai
para nelayan tidak punya kapal.
Perdagangan berjalan tanpa swadaya.
Politik hanya mengabdi pada cuaca…..
Tanganku mengepal.
Tetapi tembok batu didepanku.
Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku.
Aku berjalan mengembara.
Aku akan menulis kata-kata kotor
di meja rektor

TIM, 3 Juli 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>