Puisi Sedih seorang wanita hamil untuk suami yang sudah meninggal

Kekuatan cinta memang tidak bisa diprediksi. Seringkali, kekuatan yang berlandaskan pada ikatan hati itu, bahkan mengangkangi logika ruang dan waktu. Hal itu terlihat secara jelas dalam puisi ini. Puisi yang ditulis oleh seorang wanita hamil di Korea untuk suaminya yang sudah meninggal. Puisi ini ditulis pada tahun 1568, namun baru ditemukan pada tahun 1998, melalui penggalian arkeologi di Korea. Puisi penuh kesedihan ini, ditemukan berada di mayat sang lelaki. Mayat lelaki itu berada pada posisi mendekap puisi cinta dari si istri.

Silahkan baca sendiri puisi ini dan rasakan kesedihan yang dialami si istri:

Kamu selalu berkata, “Sayang, mari kita hidup bersama sampai rambut kita berubah abu-abu dan mati pada hari yang sama.” Kenapa kamu meninggalkansaya? Siapa yang harus saya dan bayi kita dengarkan, dan bagaimana kami bisa hidup? Kenapa kamu pergi mendahului saya?

Setiap kali kita berbaring bersama,kamu selalu mengatakan kepada saya, “Sayang, apakah orang lain saling menghargai dan saling mencintai seperti kita? Benar-benar seperti kita?” Kenapa kamu meninggalkan semua itu dan pergi lebih dulu?

Saya tidak bisa hidup tanpamu. Saya ingin pergi bersamamu. Mohon bawa saya ke sana, ke tempat di mana kamu berada. Saya tidak mampu melupakan dunia ini dan kesedihan saya tidak berbatas. Di mana saya menaruh hati saya sekarang dan bagaimana saya bisa hidup dengan seorang bayi yang kehilangan kamu?

Mohon bacalah surat ini dan ceritakan secara detail di mimpi saya. Karena saya ingin mendengarkan kamu menceritakannya secara rinci, saya menulis dan memasukkan surat ini. Perhatikan secara teliti dan bicaralah kepada saya.

Kelak ketika saya melahirkan anak dalam diri saya ini, kepada siapa  dia harus memanggil ayah? Adakah seorang yang mampu membayangkan perasaan saya? Tidak ada, tidak ada tragedi sedalam ini di bawah langit.

Kamu berada di tempat lain, dan tidak merasakan kesedihan seperih yang saya rasakan. Tidak ada akhir dan batas kesedihan saya sehingga saya menulis surat ini dengan kasar. Bacalah surat ini dan datanglah kepada saya, masuklah ke mimpi saya, dan tunjukkan dirimu dengan jelas dan bicaralah kepada saya. Saya percaya, saya bisa melihat kamu di mimpi saya. Datanglah kepada saya diam-diam dan tunjukkan dirimu. Tidak ada batas kata-kata yang ingin saya ungkapkan, dan saya berhenti di sini.

Puisi sedih ini tidak akan sampai pada pembaca dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami seperti ini jika bukan karena Aan Mansyur. Untuknya, kami ucapkan terima kasih.

 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>