Puisi “Tanah Karangan” dan “Jiwa” Karya Sanusi Pane

Sajak Sanusi Pane, ‘Tanah Karangan’ seolah-olah merupakan jawaban atas pertanyaan itu. Alam yang berada di mukanya muram dan “ta’dapat harap kembang.”

Di bawah ini saya salinkan sajak yang menurut hemat saya salah sebuah yang terbaik dalam kumpulan ini:

Tanah Karangan

Alam muram di muka sekarang,
Tempat tertinggal, tidak berhawa,
Penyapu puncak raksasa karang,
Tegak di sana serasa mendakwa.

Hijau ta’ ada tumbuh di batu,
Seluas sejauh pandangan mata,
Warna terlihat hanyalah satu :
Kelabu berduka, itu semata.

Burung ta’ ada bernyanyi terbang.
Hanya gaung terdengar menyahut,
Kalau berseru meminta subur.
Di sini ta’ dapat harap kembang.
Semua tertutup bayang maut.
Di sini benua pintu kubur.

Kecenderungan akan permasalahan hidup beserta serba rahasianya, kelihatan dalam beberapa sajak. Dalam sajaknya ‘Sungai’ penyair mengibaratkan hidup manusia ini dengan sungai yang waktu mudanya “nyala gembira,” “Gagah perkasa,” “Gegap gempita di celah gunung.” Dan tatkala usia karena sudah lebih lanjut, tibalah di dataran rendah “berjalan lambat-lambat” karena “telah lebar sekarang dasar”. Dan dalam muara ia menemui ketenangannya. “Gagah perkasa diganti damai” maka “Ke dalam laut masuk sekarang” yang diperumpamakannya dengan “burung masuk ke sarang.”

Dalam sajaknya ‘Jiwa’ penyair menunjukan kecenderungannya untuk melihat hidup jasmani itu sebagai sesuatu yang hina, kotor, tak berharga. Sebaliknya kehidupan rohani adalah suci, indah, gilang gemilang. Dan jiwa yang suci itu masuk ke dalam tubuh jasmani, dianggapnya:

Jiwa

-jiwaku laksana ratna,
jatuh ke lumpur kehilangan warna,
Dalam palutan badan jasmani.

Tetapi bukan tidak mungkin yang sudah kotor itu kembali berkilau dan bersinar, yaitu “kalau bukti telah diriba.”

Maka dimimpikannya hidup sebagai bunga yang “tidak mengingat diri sendiri” dan mempersembahkan hidupnya untuk kesenangan orang lain dengan memberikan rupa dan harum serta madu dengan “tidak teringat meminta balas” karena “berhati ikhlas.”

Bahkan duka cita kehilangan anak yang meninggalkan tidak di benarkannya. Karena sesungguhnya anak yang meninggal itu “Dibawa gaib ke dalam surga” “Disuruh bermain di tamansari” dan “Bersuka ria sepanjang hari.” Karena itu kalaupun menangis, maka yang ditangisi serta disesali adalah dirinya yang belum juga berikhlas hati:

Bukan anak yang jadi tangisan,
Ia meratap, iba kasihan,
Kepada badan diri sendiri.

Pengalamannya yang mistis diceritakan dalam sajak yang berjudul ‘Menanti Kata.’ Setelah ia “membuat batin hening tenang” maka melihat sinar memancar “Dari dalam, bercaya terang.” Tetapi tatkala hendak dicurahkannya dalam bentuk karangan, ia merasa “Tidak terbanting karena indahnya.” Demikianlah ia menanti kata yang tepat untuk melukiskannya.

Diambil dari buku “Membicarakan Puisi Indonesia” oleh Ajip Rosidi.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Puisi “Tanah Karangan” dan “Jiwa” Karya Sanusi Pane

  1. syifa amalia says:

    Memarik juga *rotfl*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>