[PUISI] Tentang Karang karya Oktavia

[PUISI] Tentang Karang karya Oktavia

Tentang karang

 

Ada suatu waktu ketika aku berlabuh dibawah bentang langit malam,

Yang sepi, gelap dan tak terpeta…

Aku menghirup udara yang tak lagi sama,

Semesta ini telah berpendar, melayang tak tentu arah,

hilang dalam lautan nyawa, terurai dalam  bongkah waktu yang mengudara

Samudra luas yang membentang dihadapan,  kini tak lagi sama …

Suara gelombang dan aroma langit yang kian memburu, menembus batasan kilah ruang tanpa waktu.

 

Dan ada sebuah rumah,

Yang kesepian, melamun seorang diri dalam palung laut terdalam.

Secercah cahaya menyibaknya, tak salah lagi di kehidupannya ia sendiri

 

Ini tentangnya yang dulu menjadi ibu,

Dan ini keadaannya,  yang akan menjadi abu …

 

Dulu, saat jubah ini masih membiru, dan gelombang pasang masih saling beradu.

Irama dari napas insan tak bernyawa ini masih terasa, detak jantung yang menggenang, memenuhi penjuru tempatnya berpijak masih teramat suluh terasa.

Kala itu waktu bukan menjadi sebuah batasan, ia slalu hadir membawa kebahagiaan dalam ingatan. Sang insan mampu mengurai senyum panjangnya, sang lautpun mengayunkan dengan gembira gelombangnya, mengoyak seluruh isi samudra, mendukung dan mendorongnya untuk terus melaju dan tumbuh

 

Karna ia dibutuhkan,

Sebagai tempat berpijak,

Sebagai unsur nyawa kehidupan,

sebagai sebuah bitara yang harus slalu ada mengiringi sang senja menyambut insan baru yang masih mudah terlena …

 

Ia dihakikatkan sebagai rumah, dimana ia melindungi, dan menaungi, 

Ia sebagai ibu yang membahasakan diri, dengan pembelajaran kehidupan yang akan terus slalu berarti,

Ia tak mampu menapak dengan benar. Karna ia bukanlah insan yang disengaja, ia lugu dan tak pernah berpura-pura.

ia terlahir sebagai kepingan unsur yang menjaga,

ia tumbuh dengan sapuan alur bermakna

dan itulah ia,

 

namun suatu waktu, aku kembali pada langit malam, terbangun dari mimpi panjang. Berdiri dan menengok dalam samudra luas tanpa batasan.

Ini tentang keadaannya.

 

Saat ia kembali menjadi sepi,

Saat ia tenggelam dalam karam,

Saat ia, berdetak dengan nyawa setengah jalan.

 

Hitam dan abu-abu menjadi sebuah tanda prasyarat,

Akan tentangnya yang tak lagi bernyawa,

Ia terkubur dalam palung laut terdalam,

Menjadi rangka duri tertusuk yang mengejang

 

Tak sempat berkata, ia sirna.

Ia ada namun tak bernyawa,

Tertidur dalam selimut panjang,

Di bawah semesta alam yang membentang …

 

 

                                                                                                                                                180417

Oktavia Putryana, tercatat sebagai Mahasiswi Arsitektur UNS Surakarta, lahir 12 Oktober 96 hobi memaknai objek tertentu dan mencari esensi.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: