“Puisi yang Bertengger dan Menetap” Serta Kumpulan Puisi Lainnya

SAJAK BANGSA  TERLUKA

Oleh: Leo Marboen

Anak-anak bangsa berseteru saat mereka berebut kekuasaan

Kita asyik ribut tentang kebenaran yang tiada ujung

Media sosial seolah dunia nyata menyalakan emosi berkepanjangan

Kita gagap membayangkan seperti apa menjadi bangsa

Kita belajar demokrasi dengan makian dan cibiran

Pemilu  menjadi ajang berkelahi , kekuasaan membunuh nurani

Politik hanya berarti kursi , segalanya disasarkan materi

Ketika terpilih pemimpin para pendukung seolah menang perang

Politik  berhenti soal kalah menang  rakyat tak pernah pemenang

Anak-anak muda dan orang tua tersandera kata-kata

Kata-kata  Hoax diserap sebagai kebenaran kata

Bangsa dibelah-belah , suku, agama dan ras bukan lagi kekayaan

Orang dewasa menjadi lebih kurang ajar, tak berbahasa beradab

Negeri dipandang hanya di ibu kota

Kita tidak lagi bicara kemiskinan dan kesenjangan

Kita gagal memahami lokalitas, demi loyalitas kekuasaan

Kita gagap akan bangsa sendiri

Berperang degan bangsa sendiri

Sementara bangsa asing ingin menguasai

SATU

Oleh: Ichsan Andika

Kau bilang kau jalang

Kau bilang aku usang

Termakan laparnya biang

Kan dan aku, satu

Terpisah oleh semesta

Kau bilang kau manja

Kau bilang aku raja

Dari segala bising dan hausnya lautan

Kau dan aku, satu

Terbawa oleh ragu

Ichsan A.

26 april 2017

Profil
Nama : Ichsan Andhika
Tempat & tanggal lahir : jakarta , 26 maret 1990
Profesi : karyawan swasta
Alamat : jalan wijaya kusuma 2 blok Q nomor 254, rempoa, ciputat – tangerang selatan

PUISI BERTENGGER DAN MENETAP

Oleh: Prasetyo Aji Laksono

Tolong aku.

Jangan engkau tinggalkan diriku sendiri.

Gelap sepi.

Aku takut tidak bisa menggapaimu lagi.

Bersamamu di antara salju salju.

Bercanda, di malam yang dingin.

Tertawa di bawah gugusan bintang-bintang.

 

Aku menyayangimu.

Dengan segenap raga dan jiwaku.

Dengan ketulusan.

 

“Di manakah puisi-puisi itu bertengger dan menetap?”

Di relung hati ini, setiap kata-kata bernapas dan hidup.

 

“Bukankah setiap manusia mempunyai batasan kata-kata?”

Dan di antara detik kata terakhir di dunia, aku ingin merapal setiap huruf namamu.

Dalam cinta yang kurajut sedemikian rupa menjadi sajak-sajak merah jambu.

 

Tidakkah kamu sadari bahwa aku selalu melihatmu?

Memerhatikanmu dari jauh.

Dari tempat yang tidak kau sadari.

Dari kesunyian .

Dari setiap dinding-dinding puisi aku menuliskan gerak gerik hati.

Tidak jarang aku menghitung berapa kali kita bertatapan mata.

Lalu aku jumlahkan,

Kau tau, aku mulai melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Bukankah ini pertanda bahwa dirimu begitu anggun di mataku?

 

Tolong aku.

Jangan engkau tinggalkan diriku sendiri.

Dalam gelap nan sepi.

 

 

Profil singkat :

Prasetyo Aji Laksono. Kelahiran Jakarta, 7 Mei 1997.  Mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia jurusan Antropologi Sosial tahun 2015. Alumni SMAN 39 Jakarta.

Menyelam dunia menulis dan menuangkannya di halaman inspirasi.co/lentera28. Email prasetyoajilaksono97@gmail.com,

 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>