Aturan Penggunaan Kata “Pun”

Dalam membuat sebuah tulisan yang berpedoman pada EYD, masalah tanda baca dan kata sambung bisa menjadi rumit. Hal ini wajar, mengingat sifatnya yang terkesan remeh-temeh dan tidak terlalu terlihat, membuat tanda baca dan kata sambung seakan tidak terlalu penting. Akibatnya, banyak orang yang malas untuk mempelajarinya. Hal ini bisa memusingkan bagi pembaca dan editor, yang seringnya menginginkan kesempurnaan dalam sebuah karya tulis.

Dan salah satu kasus yang sering terjadi adalah: kesalahan penulisan pada kata “pun”. Karena itu, dalam artikel kali ini, kami akan membahas tentang aturan penggunaan kata “pun” yang baik dan benar.

Jadi, bagaimana penulisan kata pun yang benar? Untuk mengetahui itu, kita harus melihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dan menurut KBBI, kata pun berarti:

pun p 1 juga atau demikian juga: jika Anda pergi, saya — hendak pergi; 2 meski; biar; kendati: mahal — dibelinya juga; 3 saja …: berdiri — tidak dapat, apalagi berjalan; apa — dimakannya (jua); 4 (···pun ···lah) untuk menyatakan aspek bahwa perbuatan mulai terjadi: hari — malamlah; 5 untuk menguatkan dan menyatakan pokok kalimat: maka baginda — bertanya pula

Sebagai kata yang memiliki arti sendiri, membuat pun menjadi harus dipisah penulisannya. Penulisan kata saya pun, atau mobil itu pun, harus dipisah.

Selain kata yang harus dipisah seperti pada KBBI di atas, ada juga kata pun yang berfungsi sebagai paduan. Artinya, penggunaan pun sebagai paduan itu membuatnya harus disambung. Lalu bagaimana untuk membedakannya? Tenang saja, karena Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sudah mengelompokkannya secara spesifik. Adapun kata khusus itu adalah: adapun; andaipun; ataupun; bagaimanapun; biarpun; kalaupun; kendatipun; maupun; meskipun; sekalipun; sungguhpun; dan walaupun. Kata pun yang melekat itu, bisa juga kita sebut dengan klitika.

Pun yang disambung adalah: adapun; andaipun; ataupun; bagaimanapun; biarpun; kalaupun; kendatipun; maupun; meskipun; sekalipun; sungguhpun; dan walaupun.

Itulah aturan penggunaan kata pun yang seringkali kita lupakan. Hal kecil seperti ini, memang jika dibiarkan, tidak akan terasa. Namun, begitu kita mulai menulis dan mendapati kasus seperti ini, barulah kita kebingungan. Untuk itu, pastikan kita selalu mencari referensi yang tepat sebagai dasar menulis. Dalam kasus bahasa Indonesia, buku Pedoman EYD dan KBBI adalah dua ‘kitab suci’ yang harus kita miliki.

Penulis: Pengembara Mimpi

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Aturan Penggunaan Kata “Pun”

  1. Pingback: Aturan Penggunaan Kata “Pun” | Yunita Martha Irine

  2. bagaimana penulisan pembayarannya pun?
    pun disini harus dipisah atau tidak?

  3. rizqi haristya says:

    kalau kata “kemana pun” di pisah atau digabung

  4. safri naldi says:

    terima kasih.. sangat bermanfaat

  5. Makasih banget gan, sangat membantu pembuatan laporan PKL ane

  6. Dedi Styawan says:

    Meski pun singkat, artikel ini sangat bermanfaat :D

  7. Iwan says:

    Ada aturan yang membolehkan kata “pun” ditulis serangkai. Adapun, meskipun, bagaimanapun, dll. Mungkin itu perlu dicantumkan juga.

  8. dhinar says:

    Apakah penulisan yang benar dimanapun atau di mana pun ?

Leave a Reply to Preman Teknologi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>