Rendra, Ia Tak Pernah Pergi

Buku ini merupakan kumpulan makalah, essay, artikel, dan kritik sastra terhadap WS. Rendra dalam kurun waktu 30 tahun yang dimuat di Kompas. Membaca buku ini, kita serasa duduk melingkar di seebuah warung kopi dan berbincang-bincang tentang Rendra bersama tokoh-tokoh hebat seperti Emha Ainun Nadjib, Sujiwo Tedjo, Putu Fajar Arcana, dan masih banyak lainnya.

***

Baginya, menulis puisi bagaikan yoga sastra dan bermain drama itu yoga drama, itu ruang ibadah… Puisi bukan sebatas di atas kertas, drama bukan sebatas di atas panggung. Ia tak mau dibatasi hanya sekadar bicara embun yang jatuh dari ujung daun dan gemercik air kali tapi mau mengerti kebijakan kekuasaan terhadap nasib rakyat. Dengan demikian, puisinya hendak terus-menerus melisankan langsung kepada khalayaknya, bahkan menyiratkan ambisinya untuk mengembalikan puisi pada fungsi sosialnya yang jelas.

Buku rangkuman tulisan yang pernah dimuat di harian Kompas dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini mengajak pembaca untuk selalu mengenang Rendra, laki-laki yang namanya tertulis dengan tinta emas dalam sejarah teater dan kesusastraan Indonesia modern. Rendra telah tiada, namun karya-karyanya yang monumental membuatnya seperti tak pernah pergi…

***

Dua paragraf di atas adalah blurb dari buku Rendra, Ia Tak Pernah Pergi. Sebuah buku yang mencoba untuk mengenang jalan hidup Willibrordus Surendra Broto Rendra atau Wahyu Sulaiman Rendra (nama pilihannya setelah masuk Islam). Dalam buku ini, kita akan menyaksikan sendiri kisah perjalanan hidup Rendra dari sudut pandang orang-orang di sekitarnya. Bagaimana gaya hidupnya, bagaimana karya-karyanya, bagaimana kisah orang-orang tercintanya, dan tentu saja, bagaimana kesan yang tertinggal setelah dia tiada.

Buku ini merangkum tulisan-tulisan hebat dari orang-orang hebat dalam berbagai tema yang berpusat pada ketokohan Rendra. Beberapa penulis yang terlibat adalah: Bakdi Soemanto, Syu’bah Asa, Dahono Fitrianto, Putu Fajar Arcana, Binhad Nurrohmat, Mudji Sutrisno, Arie F. Batubara, Sujiwo Tejo, Emha Ainun Nadjib, Beni Setia, Arya Gunawan, Emmanuel Subangun, Dharmadji, dan masih banyak lagi lainnya.

Buku Rendra, Ia Tak Pernah Pergi ini dibuka oleh kata pengantar Ignas Kleden yang tentu sudah tidak asing lagi dengan WS Rendra dan karya-karyanya. Di buku tentang Rendra lainnya: Rendra, Mempertimbangkan Tradisi, Ignas Kleden juga memberikan kata sambutan yang sarat makna.

Lalu, untuk daftar isinya sendiri, buku ini terbagi dalam 5 bab.

Bab 1, menampilkan tulisan-tulisan mengenai kesan Rendra di mata para tokoh itu. Pada bab ini kita akan membaca banyak pendapat mengenai arti Rendra bagi kehidupan mereka, ataupun kehidupan orang disekelilingnya menurut mereka. Layaknya bayi yang baru belajar mengenal warna, pada bab ini kita akan diajak melihat merah, biru, hijau, kuning, oranye, dan warna-warna lain dari seorang WS. Rendra.

Bab 2, menampilkan tulisan-tulisan tentang kritik terhadap pentas teater Rendra. Bagi generasi muda di tahun 2010-an seperti sekarang, tentu hampir tidak pernah melihat karya Rendra secara langsung. Apalagi kalau kita membicarakan pentas legendaris yang membuat Rendra dicekal seperti Mastodon dan Burung Kondor, Antigone, Lysistrata, dll. Nah, membaca berbagai kritik terhadap karyanya akan memberikan kita sedikit gambaran akan pentas-pentas itu. Meskipun, tentu saja, kenikmatan untuk menyaksikan pentas Rendra secara langsung pastilah tidak bisa ditandingi.

Bab 3, kita akan membaca mengenai pengaruh pemikiran Rendra terhadap bahasan dalam tema politik dan kebudayaan. Kita akan membaca banyak kritik terhadap politik dan kebudayaan waktu itu mendasarkan ataupun berkaca pada Rendra dan ide-idenya.

Bab 4, kita akan berkenalan langsung dengan orang-orang tercinta Rendra. Beberapa di antaranya adalah: Mbak Narti alias istri pertama Rendra. Clara Sinta, putri bungsu Rendra dari Mbak Narti. Maryam Supraba, putri kedua Rendra bersama Ken Zubaida. Dan terakhir, tentu saja, Pak Broto, ayahanda Wahyu Sulaiman Rendra.

Terakhir, bab 5, kita akan membaca orbituari dan berbagai kesan mendalam tentang kepergian si Burung Merak ini. Ya, tulisan di bab ini terbit setelah Rendra wafat. Tulisan yang akan membuncahkan kerinduan kita kepada Rendra.

Buku ini sangat kami rekomendasikan kepada anda yang tertarik untuk mempelajari dan mengenal Rendra lebih jauh. Bisa dibilang, buku ini adalah cara bertutur yang lain dari buku tentang Rendra lainnya: Mempertimbangkan Tradisi.

Detail Buku:

Judul Buku : Rendra, Ia Tak Pernah Pergi

Penerbit: Penerbit Kompas, Jakarta

Tahun terbit: 2009

Jumlah Halaman: 388

 

This entry was posted in Buku and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>