Resensi Buku “Jodoh” Karya Fahd Pahdepie

Apa yang ada di pikiranmu ketika membaca buku yang menurut Dee Lestari merupakan “buku yang tepat untuk yang sedang dimabuk cinta” ?

Itulah yang saya rasakan saat membaca buku Jodoh karya Fahd Pahdepie. Buku yang awalnya saya kira hanyalah Personal Literature yang sempat meledak di kalangan penulis akhir-akhir ini, ternyata merupakan sebuah novel. Fiksi 100% dan seperti yang sudah saya duga: terlalu manis.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang kedua dari Sena, yaitu Keara. Membaca novel ini, kita seperti diajak untuk berbicara secara langsung dengan Keara, wanita sempurna yang sudah mencuri hati Sena semenjak pertama kali bertemu.

Kapan Sena jatuh cinta pada Keara? Waktu SD. Ya, novel ini semacam menceritakan transformasi dari cinta monyet, kepada cinta brontosaurus, hingga akhirnya menjadi cinta sejati yang diidam-idamkan anak adam.

Secara umum, buku Fahd Pahdepie memang selalu berat dan bahasanya memaksa kita konsentrasi penuh saat membacanya. Tapi khusus untuk karya yang satu ini, saya seperti melihat sisi melankolis yang keterlaluan dari Fahd. Ya, saya memang menikmati setiap kata puitis di buku ini. Baik itu dari Fahd sendiri, maupun dari cuplikan puisi Sapardi yang terus menerus didengungkan di buku ini.

Saya terhibur dan menikmatinya.

Tapi tidak bisa saya pungkiri, ada logika yang berontak di dalam diri saat membaca kalimat kelewat puitis yang dikatakan oleh dua anak muda 20 tahunan yang sedang ngobrol. Di zaman sekarang, saya masih kesulitan membayangkan dua anak muda yang pacaran untuk memilih diksi yang berat dan romantis.

Tapi sudahlah, mungkin saya-nya saja yang sudah terlalu lama tidak pacaran.

Lalu kesimpulannya, apakah buku ini layak dibaca? Ya, sangat layak. Jangan kaget jika kamu akan lebih mencintai dunia di sekitarmu setelah membaca buku ini.

Blurb Buku Jodoh

Apa itu Jodoh?

Barangkali imajinasimu tentang jodoh dan belahan jiwa begitu sederhana: di tepi pantai, kau mengandaikan ada orang di seberang di sana, yang tengah menunggumu untuk berlayar.

Namun di saat yang sama, terkadang kau justru meragu sehingga sering kali hanya bisa menunggu, mendambakan orang yang kau nantikan itu akan lebih dulu merakit sampannya, mengayun dayungnya, dan mengarahkan kompasnya untuk menjemputmu.

Tetapi laut, ombak dan isinya, selalu menjadi misteri yang tak terduga-duga, bukan? Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalih perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya.

Ini adalah kisah tentang seorang laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk berlayar-jauh sebelum mereka mengenal ketakutan; jauh sebelum mereka bisa membaca arah atau menebak cuaca; bahkan jauh sebelum mereka disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang waktu, takdir, cinta, dan jodoh itu sendiri.

Penulis Buku Jodoh

Fahd Pahdepie

Penerbit Buku Jodoh

Bentang Pustaka

Jumlah Halaman Buku Jodoh

244 halaman

Tahun Terbit Buku Jodoh

2015

This entry was posted in Buku and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>