Rumput

Rumput

hampar ilalang mengering jadi hitam
ku berjalan di padang, bawa air tinggal setitik
aduhai betapa terik, aku mestinya tunggu malam
mengira-ira hanya akan datangkan pelik
ini rerumputan milik siapa?
ditinggal mati habis dilumatkan api
tiada satu yang meratapi, menangisi

itu rerumputan mengapa bisa?
bangkit dari maut jadi kembali ada
menghijau melambai seperti ‘kan selamanya
sudah begitu, masih tiada satu yang merayakannya
sedang aku berjalan sesak melupa jarak
tiada ‘kan menanti, tau hanya susah sedih tinggal nama
kubur saja aku, biarkan jadi rumput selamanya

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: