Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon oleh WS. Rendra

Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon karangan dari WS. Rendra ini terbilang cukup sederhana. Karena seolah-olah, puisi ini menggambarkan diri Rendra yang berada di tempat itu, dan melihat segala ketidak-adilan yang ada di negerinya. Dalam satu puisi ini, dia mencoba menceritakan tentang segala masalah yang ada di negeri ini. Masalah sosial, politik, hukum, dan mungkin, perut yang lapar.

Sesuai dengan temanya yang keras, Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon ini menggunakan diksi yang keras, bahkan terkesan kasar. Namun, kami melihat Rendra bukannya ngawur dalam memilih diksi itu. Untuk menggambarkan emosi yang keras (atau mungkin itu bukan penggambaran, melainkan emosi yang sesungguhnya dari Rendra) tentu dibutuhkan sebuah pemilihan kata yang keras dan carkas, sehingga saat puisi ini dibaca ulang pada beberapa tahun setelahnya, kemarahan dari penulis tetap bisa dirasakan oleh pembaca. Dan memang, Rendra berhasil memuntahkan emosinya itu menjadi sebuah semangat pergerakan yang menggelora.

Bagaimanapun, menurut kami, Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon ini adalah (sekali lagi) merupakan bukti kepiawaian Rendra sebagai seorang sastrawan dan budayawan tersohor di masanya.

Sahabat, inilah Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon dari WS. Rendra:

SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON

Oleh :
W.S. Rendra

Inilah sajakku,
seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,
dengan kedua tangan kugendong di belakang,
dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman.
Aku melihat gambaran ekonomi
di etalase toko yang penuh merk asing,
dan jalan-jalan bobrok antar desa
yang tidak memungkinkan pergaulan.
Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi.
Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
Dan sebatang jalan panjang,
punuh debu,
penuh kucing-kucing liar,
penuh anak-anak berkudis,
penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari,
menyusuri jalan sejarah pembangunan,
yang kotor dan penuh penipuan.
Aku mendengar orang berkata :
“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.
Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,
kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.
Mengatasi kemiskinan
meminta pengorbanan sedikit hak asasi”
Astaga, tahi kerbo apa ini !

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?
Di negeri ini hak asasi dikurangi,
justru untuk membela yang mapan dan kaya.
Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,
dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan,
berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan.
Aku mendengar pengadilan sandiwara.
Aku mendengar warta berita.
Ada gerilya kota merajalela di Eropa.
Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,
seorang yang gigih, melawan buruh,
telah diculik dan dibunuh,
oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan.
Kakiku ngilu,
dan rokok di mulutku padam lagi.
Aku melihat darah di langit.
Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang.
Yang kuasa serba menekan.
Yang marah mulai mengeluarkan senjata.
Bajingan dilawan secara bajingan.
Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.
Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,
maka bajingan jalanan yang akan diadili.
Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?
Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?
Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?
Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?
Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala !
Singkat tapi menggetarkan hati !
Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana !
Kerna langit di badan yang tidak berhawa,
dan langit di luar dilabur bias senjakala,
maka nurani dibius tipudaya.
Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan.
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
Sebagai seorang manusia.

Pejambon, 23 Oktober 1977 
Potret Pembangunan dalam Puisi

Tertarik dengan karya Rendra lainnya? Kunjungi Halaman Spesial WS. Rendra ini.

This entry was posted in Puisi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>