Sajak Seorang Tua untuk Istrinya Karangan WS Rendra

Sajak romantis namun satire khas dari WS Rendra ini adalah bukti, bagaimana Rendra tetap memiliki sentuhan cinta dalam karya-karya sastranya. Sebuah puisi penuh cinta yang jauh dari picisan. 

Rendra memiliki ciri khas sebagai sastrawan yang lekat dengan kritik politik dan budaya, namun dalam beberapa fase dalam karyanya, tetap saja ada sentuhan romantis yang terkandung. Dalam puisinya kali ini, Rendra memperlihatkan sisi ‘lembut’ darinya yang kadang orang sering lupa, saking seringnya dia memperlihatkan sisi keras darinya.

Dalam Sajak Seorang Tua untuk Istrinya ini, Rendra menceritakan kisah roman dua orang tua yang tengah (dalam konteks yang lembut) menunggu ajal. Seperti biasa, dia tidak terlalu berputar pada diksi yang nyeleneh. Dia memilih menggunakan diksi yang umum, namun berkat komposisi yang tepat, puisi itu tetap terlihat garang dan puitis.

Sahabat, inilah Sajak Seorang Tua untuk Istrinya karangan dari WS Rendra untuk anda semua:

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

…BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>