Sejarah Pertumbuhan Thasawwuf

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Tulisan sebelumnya: Kesusastraan Kitab: Thasawwuf/Mistik

Nama Tashawwuf baru digunakan pada penghujung abad ke-2 H. Yang mula-mula digelari orang sufi adalah Abu Hasyim dari Koufah (150H=761 Masehi). Tetapi praktek kerohanian yang menyerupai Thasawwuf  telah ada sejak nabi Muhammad s.a.w. membawa ajaran beliau. Kehidupan nabi dan para sahabatnya merupakan kehidupan para sufi. Dari masa mudanya nabi telah sering berkhalwat di gua Hira. Perbuatan tersebut berulang-ulang beliau lakukan setiap bula Ramadhan pada masa-masa sebelum kerasulan beliau. Dalam melakukan khalwat, beliau hanya memerlukan sedikit makanan dan air. Sekali waktu datang pada beliau seorang lelaki berpakaian sorban putih dan serta merta menyuruh Muhammad membaca ayat yang tertulis pada kain yang dibentangkan lelaki itu. Muhammad menggigil, dari tubuhnya memancar keringat. Selama hayatnya baru sekali ini dia melihat makhluk sejenik itu. Barulah kemudian diketahuinya bahwa telah datang padanya Jibril mengantarkan jalan kebenaran yang diridhai Tuhannya. Sekarang baru didapatnya kebenaran yang dicari-carinya itu.

Perbuatan nabi tersebut telah ditiru oleh para sahabatnya, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Abu Zar Al Chiffary, Husaifah bin Al Yaman, dan lain-lain. Abu Bakar, Khalifah pertama, hidup dalam serba sederhana, walaupun dia cukup harta pada mulanya, akhirnya tinggal tiada, seberapa dan hanya memakai sehelai kain saja. Kaum sufi sering memegang lidahnya dan berkata: “Lidah inilah yang senantiasa mengancamku dengan bahaya.” Pada kesempatan lain berkata: “Barangsiapa yang mengecap rasa kesucian ma’rifat, maka dia akan memandang sepi segala sesuatu selain Allah, dan merasa tersendiri dalam manusia banyak.” Umar bin Khatab, khalifah ke-2, diakui sendiri oleh nabi: “Tuhan Allah telah meletakkan kebenarannya di ujung ldah Umar dan hatinya”. (Hamka: Perkembangan Thasawwuf). Berkali-kali beliau disanggah anak buahnya, tetapi dihadapinya dengan dada terbuka, tanpa kesal sedikitpun. Dia selalu hidup serba sederhana, dengan baju yang sampai dua belas tambalnya dan kain sarung dengan empat tambalan. Semuanya ini dilakukan demi mendekatkan diri kepada Tuhan dalam rangka meninggalkan segala kemewahan dunia menuju Ridha Illahi.

Usman bin Affan, Khalifah ke-3 selalu mengingat Tuhan dengan membaca ayat-ayat Illahi dalam waktu lowong. Al-Qur’an selalu berada di tangannya, dia meninggal sedang membaca Al-Qur’an dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyenanginya. Apalagi Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4, terkenal sekali dalam melakukan zuhud, karena itu ia selalu memakai pakaian yang sederhana, “Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan,” kata beliau. Abu Zar Al-Ghiffar dibuang ke Ribzah, karena dia menyanggah Khalifah Usman, yang katanya hidup sangat berlebih-lebihan. Kehidupan kerohanian ini mendapat bentuknya yang lebih maju lagi pada abad ke-7 H (babak terakhir), yaitu setelah perkataan Tashawwuf meluas dalam masyarakat, dan setelah tampilnya para sufi yang besar seperti Hasan Basri (terkenal dengan Khauf dan raja), Rabiatul Adawiyah (zuhud karena cinta), Sufyan Tsuri.

Selanjutnya abad ke-9 sampai dengan 10 menampilkan tokoh-tokoh baru Abdul Hasan Surri Assaqthi, Maaruf al Karakhi, Abu Yazid Bustami, Yahya bin Maaz, Al-Junaid, Abu Bakan Syibli, Al-Hallaj (Husein bin Mansur).

Abad ke-11 muncul dengan tokoh-tokohnya Al Ghazali, pendamai pertentangan kaum sufi dan ahli fiqih, ahli filsafat dan ilmu kalam. Pada abad ke-12 dan ke-13 tampilah bintang-bintang sufi: Suhrawardi (pencipta Hikmatul Isyraq), Mahuddin Ibnu Arabi, Umar Ibnu Faridh (widhatul wujud, Haqiqatul Muhammadiyah, kebebasan memilih agama atau kesatuan agama), Ibnu Nabi’in, Abu Said Jalaluddin Rumi dan lain-lain.

Lama-lama Thasawwuf dimasuki ajaran yang tak betul seperti pemujaan diri pribadi (kultus individu) yang berlebih-lebihan terhadap tokoh thasawwuf. Lebih-lebih yang telah meninggal. Penduduk Baghdad mendewakan kubur Abdul Qadir Jailani dan Musa al Kazim. Segala permintaan dilakukan via kubur-kubur ini. Datang Ibnu Taimmiyah dan Ibnu Qayyim memperbaiki kepercayaan yang telah sesat ini. Tashawwuf dari Persi berkembang sampai ke India, dari India terus ke Nusantara. Di sini tashawwuf berkembang berkat bintang-bintag sufi Hamzah Fansuri, Syamsuddin as Samatrani, Syekh Sitti Jenar dengan paham wihdatul wujudnya yang sangat menggemparkan kalangan agama di Nusantara. Mungkin tanggapan hakiki wihdatul wujud Hamzah cs berbeda dengan tanggapan orang awam, tetapi ajaran ini dianggap berbahaya karena rakyat belum punya dasar agama yang kuat. Sebab itu Sultan Iskandar II meenyuruh bakar semua karya Hamzah Fansuri. Ini dilakukan atas nasihat Nuruddin Ar-raniri yang menganggap Hamzah cs bersufi-sufi saja, bukan al-ahla.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>