Sekilas Tentang Blurb Dalam Dunia Pustaka

Dalam dunia sastra, terlebih khususnya dalam dunia kepustakaan, kita akan seringkali menemui blurb. Apa itu blurb, dan apa pengaruhnya dalam dunia sastra Indonesia? Tulisan ini akan membahasnya.

Sebelumnya, mari kita bahas terlebih dahulu, di mana kita akan menemukan blurb dalam dunia sastra? Sebenarnya, bisa dibilang kita menemuinya setiap hari. Setiap kali kita berjalan di toko buku bersama pacar-pacar kita. Setiap kali kita menemui dosen pembimbing dengan membawa belasan buku referensi untuk dijadikan senjata skripsi kita. Setiap kali kita mendatangi acara bincang dengan penulis buku yang tulisannya membuat kita tersenyum sendiri di malam hari. Maka, pada saat itu pula, kita sudah bertemu dengan blurb.

Kenapa bisa seperti itu? Karena hampir semua buku yang dijual, pasti akan memiliki blurb. Di bagian mana? Sekarang silahkan ambil buku di samping anda, boleh novel, boleh buku keilmuan, boleh pula buku komik. Sudah? Selanjutnya silahkan lihat cover buku yang anda pegang, lalu balik buku itu. Di bagian belakang ada tulisan yang menceritakan sedikit cerita atau janji penulis terhadap buku ini, bukan? Ya, itulah blurb.

Tidak terlalu rumit bukan? Karena memang sejatinya, kita sudah seringkali melihat blurb itu dalam kehidupan sehari-hari kita. Bahkan bisa jadi kita membeli sebuah buku karena tertarik dengan blurbnya.

Ya, blurb memang ditujukan untuk memberikan stimulasi kepada otak dan perasaan kita keinginan untuk membaca buku secara utuh. Bisa dibilang, blurb adalah ejawantah dari pepatah lama yang mungkin sudah sering kita dengar juga, don’t judge a book by its cover. Jangan nilai buku dari kafernya.  Literally.

Ya, blurb membantu pembaca untuk menentukan, apakah buku yang ada di tangannya ini nantinya akan sesuai dengan yang dicari oleh pembaca itu sendiri atau bukan?

Walaupun sebenarnya harus diakui, kadangkala blurb tidak selalu mewakili kualitas buku yang ada di dalamnya. Tak jarang kita mendengar ada orang yang merasa kecewa setelah membaca sebuah buku. Padahal, di awal si pembaca itu merasa sudah cocok dengan blurb yang dibaca. Tapi seiring dengan naiknya ekspektasi pembaca karena bagusnya blurb yang dibaca, saat kemudian isi dari buku ternyata tidak sesuai, maka kekecewaan akhirnya tidak dapat dihindari.

Ya, itulah tadi sekilas bahasan kami tentang blurb. Bisa dibilang, blurb adalah tonggak awal harapan dari pembaca. Blurb bagus dan isi bagus, artinya blurb telah menjadi sebuah peta harta karun untuk pembaca. Blurb bagus dan isi tidak sebagus yang diharapkan, artinya blurb telah menjadi pintu megah berlapis emas untuk sebuah rumah hantu.

Jika ada yang ingin ditanyakan soal pembuatan blurb, bisa ditanyakan di kotak komentar. Terima kasih.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>