Senja, Merelakan, Memaafkan

Senja, Merelakan, Memaafkan

Senja, Merelakan, Memaafkan

Aku benci Senja.
Kamu tahu mengapa dulu aku tidak menyukai senja ? Karena senja memberikan keindahan dan kenyamanan namun hanya hadir sebentar saja, lalu berganti malam yang dingin dan kehampaan yang pekat. Senja berada di ambang terang menuju gelap, berwarna jingga, warna bagi penikmat luka.

Senja pemisah siang dan malam, seakan ia tak rela apabila keduanya bersua, dia memang tampil cantik seakan senang melihat sang mentari dan rembulan tak bisa bersatu. Senja membiarkan jiwa ini tak bermakna dan hati ini tak tidak mengenal rasa, tiba tiba menetes air mata, saat mata ini menyaksikan indahnya senja, sungguh kejam !

Tetapi sekarang aku sadar, ternyata senja tak sekejam itu, senja mengajarkanku merelakan dan memaafkan, ketika harimu dipenuhi kekecewaan, penderitaan dan sakit, senja hadir menemanimu, menguatkanmu seolah ia ingin berbisik padamu bahwa “semuanya akan baik baik saja”, senja membuatmu sadar bahwa kita tak perlu protes dan adu argumen dengan Tuhan meskipun kekecewaan menyeruak dan hatimu tersayat oleh belati menyakitkan.

Ternyata senja hadir dikala sore hanya untuk memastikan, bahwa kita pasti akan mampu menghadapi malam dan bersiap menyongsong mentari saat fajar, kelak akan ada hari dimana kamu akan ditemani seseorang, menemani jiwamu yang sepi sambil menikmati syahdunya senja

#jurnaljuang
Yogyakarta, 15 Oktober 2018

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: