Simbolisme Sultan Hamengku Buwono (Bagian 2)

*Catatan editor:  tulisan ini merupakan opini dari WS. Rendra di majalah BASIS pada tahun 1972 yang dikumpulkan kembali dalam buku Mempertimbangkan Tradisi. Tulisan ini merupakan lanjutan dari bagian 1.

Adapun menurut pengertian Sultan Hamengku Buwono I, sebagaimana tertera pada nasihatnya kepada Ronggo Wirosetiko dan Demang Djojoroto sepert yang diceritakan di dalam Babad Giyanti, penelitian pancaindra ini dalam rangka menyatukan dua unsur dalam tindakan, yaitu lahir dan batin (“…yen wus tunggal den maksih kekalih… tepung lahir lan batin…”). Jadi pancaindra dikerahkan dan diteliti ketajamannya, dipergunakan untuk menanggapi lingkungan sepenuh dan seluas mungkin, kemudian ditingkatkan hingga menjadi pengalaman batin. Dan pada puncaknya, pancaindra itu menjadi jendela bagi batin untuk menangkap kejadian di dunia luar. Dalam hal ini, fokus perhatian Sultan adalah sebuah balai yang bernama Kemandungan, tempat mandung atau bertumpuk, yakni tempat berkumpulnya para pegawai istana, yang apabila penuh terisi maka isinya itu komplek sekali.

Apabila persiapan dilihatnya sudah selesai, maka Sultan lalu bangkit berjalan menuju arah utara, yaitu ke arah Sitinggil, dengan diiringkan oleh beberapa orang.

Ia melewati gerbang yang bernama Brojonolo (brojo = senjata, nolo = hati), dalam hal ini menjadi saran untuk mempersiapkan perasaan. Lalu sampai ke bagian luar gerbang yang berupa semacam undakan yang bernama grenteng mangu, yang dalam urutan persiapan diri ini, dengan sendirinya, mengingatkan kita pada hati yang renteng (susah) dan yang mangu (bimbang). Adapun grenteng mangu ini ditutup oleh sebuah perisai tembok yang bernama baturono (tembok penutup). Demikianlah perjalanan Sultan sejak saat itu hendaknya jangan memperlihatkan kebimbangan dan kegelisahan hati. Sebagai pemegang hukum, seorang Sultan harus menempatkan keadilan hukum di atas perasaan-perasaan pribadinya.

Menaiki undakan yang membelok ke arah kanan atau batu rono, Sri Sultan melihat pohon jambu kamplok arum yang dulu senagaja ia perintahkan untuk di tanam di situ, agar dalam saat seperti itu bisa menjadi peringatan bagi dirinya untuk selalu harum dalam bersabda, harum dalam rasa dan pikirannya pula.

Setelah menikungi batu rono dan tiba di belakangnya, maka ia lalu menuju arah utara lagi. Baru beberapa tindak akan terpandang olehnya pohon-pohon kemuning yang telah pula sengaja ia perintahkan tanam dahulunya, yang kini bagus tumbuhnya dan baunya harum sampai ke hidungnya. Demikianlah sehingga dalam persiapan diri itu pohon-pohon kemuning itu menjadi peringatan kepadanya akan keheningan dan kesucian hati, yang penting untuk menjadi landasan tindakan seorang raja.

Sesudah menghayati semua itu, masuklah ia ke sebuah bangsal di depannya yang bernama bangsal witono (memulai). Ya, dari tempat ini banyak hal bisa dimulai. Di sinilah singgasana Sultan yang diletakkan di sebuah bangsal kecil, di dalam bangsal itu juga, yang bernama bangsal manguntur tangkil… inilah bangsal di dalam bangsal… roh dalam diri manusia… kehidupan halus di dalam kehidupan kasar. Di situlah Sri Sultan duduk bertahta, di dalam bangsal manguntur tangkil di dalam bangsal witono. Adapaun manguntur tangkil artinya menghadap, sedang witono itu memulai. Jadi itulah saatnya Sri Sultan menghadap. Karena biarpun saat itu ia sedang dihadap oleh beratus-ratus orang, namun ia sendiri mulai menghadap kepada yang lebih tinggi lagi, kepada langit di balik segala langit, kepada Allah pemberi hidup ini. Dalam saat seperti itu tak ada orang yang berbicara atau bergerak. Sri Sultan sendiri juga diam, tidak bergerak. Hanya terdengar gamelan dibunyikan dalam lagu monggang: ning-no, ning-no, hek-hek-hek… irama jalannya napas orang yang melakukan samadi. Hal itu berlangsung minimum sepuluh menit.

Demikianlah, klimaks upacara itu sebetulnya samadi. Segala macam protokol, peralatan, dan setting upacara meriha itu sebenarnya adalah simbolisme dari perjalanan Sultan dalam samadi menghayati makna sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan kemana seluruh isi alam ini).

(Lanjut ke bagian 3)

This entry was posted in Sastra and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>