Simbolisme Sultan Hamengku Buwono I (Bagian 1)

*Catatan editor:  tulisan ini merupakan opini dari WS. Rendra di majalah BASIS pada tahun 1972 yang dikumpulkan kembali dalam buku Mempertimbangkan Tradisi

Ketika serdadu kompeni Belanda di Jogya meminta izin pada Sultan Hamengku Buwono VIII untuk memindah Pasar Beringharjo yang terletak di Jalan Malioboro, di sebelah utara benteng mereka, ke suatu tempat lain di Patuk, agar mereka bisa meluaskan pertangsian mereka, maka Sri Sultan menolak permohonan mereka sambil menerangkan bahwa letak pasar itu mempunyai arti simbolis.

Meskipun banyak terbukti bahwa orang Jawa itu bersifat ganas (pembunuhan-pembunuhan dalam pergolakan politik, perang batu antara pemuda, pemerkosaan-pemerkosaan, pemukulan-pemukulan terhadap orang-orang yang menyalahi kebiasaan masyarakat, pembunuhan terhadap pencuri-pencuri kecil, penganiayaan terhadap pencopet-pencopet, dan lain-lain) tetapi ternyata di dalam dunia ideal mereka perasaan halus penting sekali kedudukannya. Adat-istiadat dan sopan-santunnya penuh dengan kehalusan. Rupa-rupanya kebudayaan Jawa dengan sadar memberikan imbangan terhadap watak ganas massanya. Kawruh (pengetahuan umum, bukan science), kebatinannya, bahasa dan kesenian mereka, penuh dengan pengarahan perasaan halus. Simbolisme di dalam kehidupan mereka bukan simbolisme yang logis, melainkan merupakan bentuk terakhir dari elaborasi pengalaman perasaan halus.

Misalnya pada situasi tertentu, kemuning merupakan simbol dari kesucian. Untuk mengerti ini otang tidak bisa sekedar menganalisa secara rasional apakah sifat-sifat suci bunga kemuning itu. Sebab bila demikian, ia tidak akan menemukan pengertian apa-apa karena bunga kemuning tidak pernah ada hubungannya dengan upacara agama dan tidak pernah ada sangkut-pautnya dengan dongeng-dongeng tentang dewa-dewa. Melainkan harus dihayati situasi di mana kemuning itu MENJADI kesucian… Syahdan, di dalam upacara keberangkatan Sultan Hamengku Buwono I dari istana menuju ke bangsal penghadapan, ia harus berhenti dulu di suatu tempat untuk menyiapkan dan meneliti pancaindranya. Sesudah itu ia berjalan melewati simbol yang mengingatkannya agar ia mempersiapkan kewaspadaan hati, lalu melewati lagi satu simbol yang berisi peringatan agar ia menguasai kebimbangan-kebimbangannya, dan akhirnya sampailah a pada dua batang pohon kemuning. Tetapi di tempat itu, dalam situasi serupa itu, kemuning tiba-tiba menjadi unik. Bau bunganya memberikan intensifikasi pada persiapan mental seorang raja yang sedang menuju kebalai penghadapan, ditunggu oleh rakyat-rakyatnya. Bunyi namanya: ke-mu-ning… ngemu-ning… mengandung ning… mengandung keheNINGan dan kebeNINGan,… dalam hubungannya dengan persiapan hati: ia menjadi kesucian.

Maka simbolisme ini tidak berarti bahwa: kemuning sama dengan…, melainkan: kemuning menjadi… Ini sama dengan simbolisme di dalam puisi menurut pengertian saya sebagai penyair, yang mungkin bertentangan dengan pendapat guru-guru sekolah. Simbolisme di dalam puisi tidak bisa “disamadengankan”. Simbolisme di dalam puisi tidak bisa dicari di dalam kamus simbol-simbol. Melainkan pertama harus dihayati dulu puisi itu dari pemulannya baru simbol itu akan menjadi dengan sendirinya. Jadi dalam hal ini obyektivitas dan sikap ilmiah tidak akan menolong apa-apa, sebab simbolisme itu hanya bisa didekati dengan penghayatan dan intuisi.

Tersebutlah, bahwa ketika Sultan Hamengku Buwono I menciptakan rancangan peta denah istananya, ia mendasarkan ciptaannya itu pada ismbolisme yang berasal dari penghayatannya akan makna sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana isi alam ini). Setiap kali ia berjalan menuju tahtanya di balai penghadapan, ia akan bertemu dengan simbol yang melukiskan perjalanan manusia di dalam hidup. Dan pada waktu ia berjalan kembali dari balai penghadapan menuju ke kwatirnya di istana, maka ia menjumpai simbol-simbol yang melukiskan perjalanan manusia pada akhir hidupnya. Satu per satu peristiwa ini akan saya lukiskan. Syahdan, apabila Sultan hendak bertahta di balai penghadapan di hari raya Grebeg, maka ia duduk mempersiapkan dirinya lebih dulu di sebuah bangsal yang bernama Ponconiti, sambil juga menunggu persiapan pihak-pihak lainnya. Adapun ponco niti berarti lima penelitian. Di dalam hubungannya dengan persiapan diri, maka “ponco niti” menjadi saran untuk meneliti kelima pancaindra.

(lanjut ke bagian 2)

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>