Simbolisme Sultan Hamengku Buwono I (bagian 3)

*Catatan editor:  tulisan ini merupakan opini dari WS. Rendra di majalah BASIS pada tahun 1972 yang dikumpulkan kembali dalam buku Mempertimbangkan Tradisi. Post ini merupakan lanjutan dari bagian 1 dan 2.

Dengan agungnya ia duduk di singgasana, dalam hening. Di kanan kirinya para pengawal manggung membawakan peralatan ipacara berupa patung-patung unggas dari emas, sembilan jumlahnya. Itulah lambang dari “lubang hidup” dan dalam tubuh manusia (mata, hidung, telinga, dubur, dan kemaluan), yang harus selalu dikuasainya.

Di hadapannya, duduklah pegawai-pegawai yang berpakaian berwarna-warna, yakni warna-warna cahaya dalam alam yang harus dihayati. Nampak pula atap serambi berumbaikan hiasan yang bernama tarub agung (atap agung), yakni atap yang sudah selayaknya bagi jiwa yang sedang dikerahkan dalam samadi. Dan di depannya lagi: terlihat tatag rambat, sebuah tempat peristirahatan yang sepi tanpa hiasan. Lalu lebih jauh lagi nampaklah pagelaran, sebuah ruang luas, di mana par apegawai duduk menghadap. Masih terus ke depan lagi, pandangannya berjalan, sehingga ia menatap alun-alun, sebuah tanah lapang, yang dalam hubungan ini menjadi lambang luasnya hati yang terbuka, bagai lautan tanpa tepi… tidak membatasi diri. Sedang di tengah lapangan itu ada dua buah pohon beringin kembar… diri di dalam diri… kembar terpancang di dalam hati yang terbuka. Di luar alun-alun, di utaranya terlihat pangurakan, tempat orang yang bersalah dihinakan…. Pandangan diteruskan ke utara lagi, ke kamar-bola, tempat hiburan dengan bola-bola billiard dan musik. Tetapi pandangan tak boleh berhenti di sini, melainkan harus ke utara lagi melewati pandangan Pasar Beringharjo, dan gerbang rumah Patih, yang dalam hal ini keduanya menjad lambang godaan duniawi, kemeriahan dan kekuasaan, terus. Sambil sekaligus melalap semua pemandangan tadi, toh pandangan harus dikerahkan ke utara lagi, hingga akhirnya nampak sebuah tugu, yaitu yang di jaman sekarang terletak di perempatan di muka toko Gunung Agung. Tugu ini kecil langsing, menjulang, menjadi Alif. Titik dari konsentrasi adalah Allah. Tanpa Allah manusia itu tidak akan berdaya. Segala perbuatan manusia hendaknya dimulai dengan mengucap syukur kepada Allah. Dia-lah asal dari segala isi alam ini.

Apabila upacara perjalanan Sultan ke tahtanya di hari Grebeg itu merupakan lambang perjalanan manusia ke arah kematangan hidup, maka upacara perjalanan manusia menuju akhir hidupnya. Sekali lagi, bangsal-bangsal yang dilewati dan disinggahi, pohon-pohon yang terpandang di jalan dan terendus baunya, serta peralatan yang dibawa serta dipakainya, semuanya merupakan setting dan properties yang seluruhnya berhubungan erat dalam keseluruhan perlambang perjalanan orang menuju akhir hidupnya. Serupa dengan simbolisme yang diuraikan di atas. Maka ternyata, dari simbolisme yang dihayati raja dan rakyatnya itu, bahwa bagi orang Jawa penting sekali kedudukan penyadaran akan “dari mana dan akan ke mana seisi alam ini”. Bahwa hidup mereka berasal dari Tuhan, dan bahwa akhirnya harus dibimbing dengan baik agar nanti juga pulang ke Tuhan. Oleh karena itu hidup perlu diselaraskan dengan kehendak Tuhan: yakni cara hidup secara total solider dengan lingkungan. Dalam hidup manusia, pancaindra, hati, dan pikiran tidak boleh tidur. Melainkan harus selalu menemani sang badan, dalam totalitas, menanggapi kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu hidupnya. Hanya dengan kepekaan pada isi dan waktu serupa itu, maka manusia bisa merasakan dekat dengan Tuhan, Sang Pencipta dari semuanya itu.

(Lanjut bagian 4-akhir)

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>