Simbolisme Sultan Hamengku Buwono I (Bagian 4-akhir)

*Catatan editor:  tulisan ini merupakan opini dari WS. Rendra di majalah BASIS pada tahun 1972 yang dikumpulkan kembali dalam buku Mempertimbangkan Tradisi. Post ini merupakan lanjutan dari bagian 1, 2, dan 3.

Syahdan, sikap religius semacam itulah yang menjadi dasar politik pembangunan Sultan Hamengku Buwono I waktu ia membangun kerajaannya. Tidak materialistis, namun tidak perlu antimaterialisme. Kepekaan terhadap lingkungan yang diperoleh dari militansi badan, perasaan, pikiran, dan ketajaman pancaindra, yang lalu ditingkatkan menjadi pengalaman rohani, dan kemudian dalam tingkatan intensitas yang lebih dalam lagi mendatangkan kepekaan pada kehadiran Tuhan dalam hidup, justru malahan mempersatukan yang lahir dengan batin… materi dengan roh. Maka dalam kondisi kepribadian serupa itu hubungan antara manusia dan materi adalah hubungan yang sejajar. Sang manusia tidak dijajah oleh materi, sebaliknya sang materi juga tidak diremehkan oleh sang manusia. Seharusnya inilah kunci dinamisme pembangungan. Sang rohani peka akan problem-problem materialistis, namun sekaligus juga mempunyai kemampuan mengontrolnya, karena pergaulan antara sang rohani dan unsur-unsur totalitas manusia yang lain cukup terhada dalam harmoni.

Tapi dewasa ini… upacara Grebeg tidak pernah dilakukan dalam kelengkapannya lagi. Tradisi latihan totalitas sudah ditinggalkan oleh kebudayaan Jawa Baru yang bersifat bodoh dan angkuh Orang Jawa “modern” tercabut dari akarnya, dan jiwanya pun jadi kering meranggas. Mereka menjadi kaum sinis yang fanatik pada sinismenya. Kerpibadian yang mencerminkan totalitas tak ada lagi. Keterbukaan jiwa juga tak ada. Kaum tradisionalis, yang sudah kehilangan totalitas itu, telah tenggelam dalam “spiritualisme” dan “ideologi” yang mengawang, tidak berakar di bumi dan juga tidak berakar pada tradisi leluhur. Dengan kata lain… kebudayaan Jawa Baru sudah tidak berakar lagi pada hidup. Sedang kaum modernnya, yang sama sekali tak punya kesadaran pula akan pentingnya totalitas karena justru mereka dididik dalam tradisi spesialisasi dan “kotak-kotakan”, orientasinya terlalu condong ke materialisme melulu. Ukuran kemakmuran dan kemajuan mereka melulu penjumlah materi saja. Sehingga oleh karenanya, mereka tak lebih dari mesin tabungan saja… robot kaya yang kehilangan jiwa, yang selalu repot dalam pergaulan… yang juga tak mampu dalam hubungan seksual, sebab bahkan dalam aktivitas seksual mereka juga seperti robot… yang tak mampu menghargai filsafat, bunga, gunung, angin, sungai, kulit halus, kesenian, dan kecantikan; sebab semuanya itu bagi mereka hanya berarti dalam hubungannya dengna organisasi atau perdagangan.

Dahaga akan kepuasan agama adalah dahaga yang sukar terpuaskan di negeri ini.

1972

Basis

This entry was posted in Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>