Suatu Hal atau Sesuatu Hal

Seorang pemerhati bahasa bertanya kepada saya melalui surat, “Bagaimana sebenarnya pemakaian yang tepat kata suatu dan sesuatu? Tampaknya seolah-olah sama saja: menjelaskan suatu hal atau menjelaskan sesuatu hal.”

Pertanyaan itu memang menarik karena apa yang dikemukakan oleh penanya itu, sering kita jumpai dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Kalau kita teliti pemakaian kedua bentuk kata itu lebih mendalam, akan tampak kepada kita perbedaannya.

Kata suatu saya masukkan ke dalam kelompok kata penggolong benda seperti sebuah, sebatang, seekor menunjukan benda yang belum tentu, yang belum diketahui benar yang mana yang dimaksudkan. Perhatikan contoh berikut:

Di dalam sebuah hutan, diam seekor harimau betina.
Pada suatu hari, harimau itu melahirkan anak.
Kebetulan pada hari itu, seorang pemburu masuk ke dalam hutan itu mencari binatang perburuan.

Pada frase sebuah hutan, seekor harimau, suatu hari, hutan, harimau, dan hari itu adalah benda-benda yang belum tentu. Sesudah dikemukakan kepada kita, dan sesudah kita ketahui, pada pemberitahuan berikutnya, tidak lagi digunakan kata penggolong tak tentu itu, tetapi diganti dengan kata itu: harimau itu, hari itu, hutan itu.

Kata sesuatu bukan kata penggolong seperti pada contoh-contoh di atas. Kata ini merupakan “pengganti” suatu benda yang belum kita ketahui. Karena itu, bentuk sesuatu dapat berdiri sendiri. Dalam kalimat, kata sesuatu itu dapat menduduki jabatan sebagai gatra kalimat subyek atau obyek. Perhatikan bentuk sesuatu yang dapat berdiri sendiri sebagai gatra kalimat.

- Anak itu menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. (obyek kalimat)
- Sesuatu yang disembunyikannya di balik punggungnya menarik perhatian adiknya. (subyek kalimat)

Pada contoh di bawah ini, dapat Anda bandingkan pemakaian bentuk sesuatu dengan suatu.

1)      Rupanya engkau menyembunyikan suatu hal kepadaku.
2)      Rupanya engkau menyembunyikan sesuatu kepadaku.
3)      Rupanya engkau menyembunyikan suatu kepadaku.

Kalimat contoh ketiga adalah kalimat yang salah karena kata suatu tidak tepat dan tidak boleh digunakan seperti itu dalam kalimat. Suatu hal yang berfungsi sebagai obyek kalimat dalam kalimat contoh pertama dapat digantikan tempatnya oleh kata sesuatu yang dapat berdiri sendiri sebagai gatra kalimat, tetapi tidak oleh kata suatu seperti tampak pada kalimat contoh ketiga.

Kita dapat pula membandingkan pemakaian kata suatu dan sesuatu itu dengan kata seorang dan seseorang. Kata seorang kita gunakan sebagai kata penggolong, sedangkan kata seseorang sebagai kata yang dapat berdiri sendiri sebagai gatra kalimat. Perhatikan contoh pemakaian berikut:

-          Saya tahu ada seorang laki-laki bersembunyi di balik pintu itu.
-          Saya tahu ada seseorang bersembunyi di balik pintu itu.

Bedanya dengan contoh sebelumnya ialah bahwa kata seorang dapat juga dipakai berdiri sendiri, tetapi tidak lagi merupakan kata penggolong.

-          Saya tahu ada seorang bersembunyi di balik pintu.

Di sini seorang sama artinya dengan satu orang dan dalam kalimat itu dimaksudkan hanya satu orang, bukan dua atau tiga orang.

Frase seorang laki-laki dalam kalimat contoh di atas berarti ‘laki-laki yang belum tentu, yang belum diketahui siapa dia’, sedangkan seseorang artinya ‘seorang yang belum tentu, belum dikeetahui’.

Mudah-mudahan keterangan yang singkat di atas ini dapat memperjelas masalah yang dikemukakan oleh si penanya. Dalam beberapa hal, Anda akan melihat bahwa bentuk suatu tidak dapat digantikan oleh bentuk sesuatu. Misalnya, pada suatu hari tidak dapat dikatakan pada sesuatu hari; dalam suatu kesempatan janggal rasanya jika dikatakan dalam sesuatu kesempatan.

Kesalahan seperti ini timbul karena kurang cermatnya pemakai behasa menggunakan bahasa. Karena seringnya bentuk yang salah itu digunakan orang, jadilah ia suatu bentuk salah kaprah lagi menambah sekian banyaknya bentuk salah kaprah dalam bahasa kita. Berhati-hati dan teliti dalam menggunakan bahasa dapat menghindarkan kita dari kesalahan berbahasa. Sifat seperti itu tentu saja sangat terpuji.

Diambil dari buku: Inilah Berbahasa Indonesia yang Benar karangan J.S. Badudu

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>