“Surat Untuk Ramadhan” Kumpulan Karya Sastra Raditya Dika di Bulan Ramadhan

Raditya Dika, siapa yang tidak kenal dia? Sebagai seorang penulis, sutradara, dan pemain film dia tentu memiliki ketenaran yang tidak wajar. Aktivitasnya di sosial media juga selalu menjadi perhatian dari jutaan pengikutnya. Raditya Dika adalah sastrawan sederhana yang menjadi penyejuk di Indonesia.

Memang, selama ini kita lebih mengenal Radit sebagai seorang komedian. Buku-bukunya pun selalu bergenre komedi. Aktivitasnya sebagai seorang komika terbaik di Indonesia, juga membuat sosok komedi nan lucu lebih melekat di dirinya.

Tapi, ternyata tidak selamanya Radit selalu menghasilkan karya-karya komedi. “Surat Untuk Ramadhan” adalah bukti paling sahih. Proyek pribadi yang dilakukannya ini menampilkan sisi melankolis dan religius dari seorang Radit yang selama ini lebih dikenal sebagai pakar cinta anak alay di Indonesia. Surat Untuk Ramadhan berisikan lima puisi dari Radit yang dikemas dalam bentuk video puisi dan sudah ditonton lebih dari 500 ribu orang. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk video puisi.

Kami mencoba merangkum teks dari puisi-puisi Radit itu. Adapun video dari Radith dapat sahabat saksikan di bawah. Selamat menikmati.

APA KABAR

Ramadhan Apa Kabar?

Aku tahu ini saatnya kamu datang.
Karena iklan syrup mulai main di televisi.
cingcau sudah ada di rumah.
Dan pemakaman didatangi orang-orang yang melepas rindu.

Kamu membawa hal-hal khas bersamamu.
Dan itu yang membuatku selalu menantimu.
Dan selalu saja, kamu datang tepat waktu.

Matahari lebih panas dari tahun lalu Ramadhan.
Dan kadang tak menentu.
Jujur, aku menantikan hujan dan teduh diantara harimu.

Ramadhan,
mudah-mudahan yang kudapat tahun ini bukan hanya lapar dan haus,
tapi juga pengampunan dan pemahaman.
Aku yakin setelah kamu berlalu,
aku lebih bisa memahami diriNya.

Dan jika aku beruntung,
aku bisa lebih memahami diriku sendiri.

Selamat datang Ramadhan, yuk kita mulai.

JALANAN MASA KECIL

Ramadhan,
kemarin aku iseng main ke jalanan rumah tempat aku kecil.
Aku menyusuri langkah demi langkah,
mengingat betapa bandel aku dan teman-temanku sepulang tarawih dulu.

Di jalanan ini kami bermain petasan,
dikejar satpam,
bahkan ada yang masuk ke comberan.

Aku tidak tahu di mana mereka, teman-teman kecilku ini,

Ramadhan.
Sudah belasan tahun aku pindah dari sini.
Dan semua sudah begitu berubah.
Lucu ya bagaimana, sahabat masa kecil bisa tumbuh berpisah jalan?
lalu masing-masing jadi orang yang beda.
Jadi orang yang asing.

Tapi aku tahu sepanjang masa selalu ada yang sama, Ramadhan.
kamu yang datang terus.
Tahun demi tahun.
Membawa kenangan seperti ini mampir.

GITAR

Ramadhan,
kemarin aku membereskan kamar,
diantara barang-barang usang ini aku menemukan gitar lama yang sudah bertahun-tahun tidak aku sapa.

Aku masih hapal tiap lekuknya,
tiap ketidaksempurnaannya.
Tiap nostalgia yang terselip di antara nadanya.

Lalu ada dorongan pergi membeli senar baru, Ramadhan.
Mengganti yang lama, satu demi satu.
Helai demi helai.

Dan diantara semua ini aku merasa seperti gitar ini, Ramadhan.
Kamu yang sedang menggantiku dengan aku yang baru.
Membersihkan karang demi karang,
menghapus noda yang susah hilang selama ini.
Hingga aku bisa kembali merdu.

Sampai aku bisa kamu simpen, sampai tiba akhirnya kita bertemu lain waktu.

TANDA TANYA

Ramadhan,
kamu adalah penanda waktu yang baik.
Ini adalah puasa ketiga yang aku lewati bersama dia.

Kebiasaan dia masih sama.
Cara dia memainkan rambutnya ketika menunggu,
cara dia mendengarkan ceritaku tanpa jemu,
cara dia merajuk ketika aku ada salah,
masih sama.

Ramadhan,
menyayangi seseorang adalah rangkaian pertanyaan tanpa ada yang tahu jawabannya.
Apakah kami hanya menjadi tempat pemberhentian sementara satu sama lain?
Apakah kami akan bisa saling menyamankan seperti ini?
Apakah kami bisa menepati janji kami masing-masing?

Tidak ada yang tahu,
tapi aku menikmatinya.

Tanda tanya, demi tanda tanya.

Tapi Ramadhan,
aku harap kamu bisa menjawab pertanyaan ini.
Apakah tahun depan, kami bisa menemui kamu lagi…

…bersama-sama?

SELAMAT JALAN

Ramadhan selamat jalan.

Terima kasih atas hawa menyenangkan yang kamu bawa ke seluruh penjuru kota.
Terima kasih atas malam yang panjang menunggu sahur,
detik demi detik ketika orang terjaga bersama-sama.

Terima kasih atas ide-ide yang kamu bawa di pagi buta itu.
Semoga goresan ini akan melahirkan karya yang baru.
Aku optimis.

Ramadhan,
kamu membawa pulang kebiasaan-kebiasaan yang akan aku rindukan,
suara-suara yang akan selalu aku kenang,
gambar-gambar yang akan membekas dengan rapi.

Oh ya,
terimakasih Ramadhan telah menemaniku mengerjakan proyek baruku ini.
Doakan sukses ya.

Ramadhan,
terima kasih atas senja yang kamu bawa,
atas udara yang kamu hembuskan,
atas kesepian yang kamu buang.
Terutama itu.
Aku jarang merasa sepi sejak kamu datang.

Ramadhan,
terima kasih atas keluarga yang kamu kumpulkan pada adzan sore itu.
Terima kasih atas kemesraan yang kamu bawa ke meja makan,
atas saus yang kamu siram,
atas lapar yang kamu padamkan,
atas yang kita yang kami bagi bersama-sama.

Terima kasih atas semuanya Ramadhan.
Sampai jumpa tahun depan.

Video puisi dari Radith bisa sahabat saksikan di sini:

Surat Untuk Ramadhan – “Selamat Jalan”

This entry was posted in Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to “Surat Untuk Ramadhan” Kumpulan Karya Sastra Raditya Dika di Bulan Ramadhan

  1. tidak menyangka, ternyata bila menulis puisi Radityadika lumayan bagus. Bukti bahwa suatu karya tidak berkutat pada satu genre saja. Terimabkasih ulasannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>