The Ugly Truth

Kawan, kadang Tuhan sudah memperlihatkan segala sesuatunya dengan begitu jelas kepada kita. Namun, memang dasarnya logika yang tidak mau kalah, seringkali kita mencoba mencari-cari pembenaran lain. Mencoba mengartikan sesuatu seperti yang kita inginkan. Meskipun dalam lubuk hati kita tahu, bahwa yang kita harapkan tidaklah benar, bahkan tidak logis. Absurd.

Seperti kisah Andrew ini, yang terbutakan oleh logika. Jangan membuat kemungkinan-kemungkinan sendiri, kata orang di sekitar kami, setelah mendengar kisah ini. Kisah pilu yang bodoh, yang tertutupi oleh bebalnya pikiran Andrew. Kisah yang mengajak kita untuk membuka mata, dan memperhatikan tanda-tanda yang diberikan semesta kepada kita.

***

“Kamu kenapa, yank?” Andrew bertanya kepada kekasihnya dengan getir. Sebenarnya dia tahu apa yang sedang terjadi, dia hanya berlagak bak seorang empiris sejati, yang tidak akan benar-benar percaya pada kenyataan, sebelum dia mencari tahunya sendiri.

“Aku…” Suara di seberang tampak ragu. Perempuan itu, yang kita sebut saja si hidung pesek, tersedak saat akan melanjutkan kata-katanya. Mendadak bibirnya kelu. Dia belum siap untuk mengungkap kenyataan ini. Dia tidak akan pernah benar-benar siap.

Hening. Andrew masih setia menunggu lanjutan kata dari si hidung pesek. Dan si hidung pesek masih mengumpulkan kekuatannya. Menyadarkan diri, bahwa momen  ini adalah kenyataan, bukan latihan dalam benak yang sudah dilakukannya sejak satu bulan yang lalu.

“Aku…” Si hidung pesek mulai mendapatkan kekuatan. “Aku suka sama cowok lain, Mas, ugh…” Tersedak, akhirnya pertahanannya luluh juga. Setengah mati dia menahan air matanya. Nyatanya, ketika kata ‘cowok lain’ keluar, dia tak kuasa lagi untuk membendungnya. Layaknya bendungan yang dibuka pintunya, air bah muncrat dengan derasnya. Lega.

Hening. Andrew masih mencoba memproses data-data yang baru didapatnya. Sejenak dia berpikir, mungkin ada fakta yang dilewatkannya.

Hening. Andrew masih terdiam. Tak percaya.

***

Mungkin dia menderita penyakit. Batin Andrew mengarang cerita. Cerita indah yang membuatnya yakin, bahwa cinta si hidung pesek masih tertambat padanya. Hanya saja, si hidung pesek tidak memiliki masa depan yang ditawarkan untuk Andrew.

Ya, pasti jatuh cinta lagi bukanlah alasan yang sebenarnya. Logika Andrew masih mencari alasan dan pembenaran terhadap rasa cintanya.

Cinta mereka nyata, katanya. Mereka jatuh cinta setiap hari, katanya. Tidak mungkin si hidung pesek mendadak berubah, katanya.

***

“Udah kamu putusin, Beb?” Terdengar suara serak nan gagah di samping si hidung pesek.

“Udah beb, sekarang kita bisa pacaran. Pacaran yang benar-benar pacaran, hehe,” sahut si hidung pesek. Tangisannya tadi, perlahan-lahan berubah menjadi senyuman. Meskipun, masih ada satu-dua bulir yang merengsek keluar.

“Aku cinta kamu, beb,” kata si suara serak.

“Iya, aku juga cinta kamu, beb. Tanpa alasan apapun, aku hanya cinta kamu. Dan itu sudah lebih dari cukup,” balas si hidung pesek, disambung dengan pelukan dua raga yang tengah dimabuk asmara ini.

***

Manusia memang lebih sering melihat apa yang INGIN dia lihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi.

Solo, 25 Mei 2014 

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>