Tuhan Selalu Tahu

“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah, Nanda mohon Ya Allah…”

Hening.

Semua anak terus diam sampai Refa menekan sebuah tombol, dan..

“GOLLLLL!!” suasana hening yang tadi menggelayuti ruangan kecil itu langsung berubah seketika begitu Refa berhasil mencetak sebuah gol melalui tendangan penalty. Suara enam orang anak yang ada di sana langsung bercampur satu sama lain dalam satu nada suara, seolah-olah ada dirigen yang mengatur bunyi dari mulut mereka. Satu kata itu adalah gol. Semuanya, kecuali Nanda yang hanya menatap layar televisi dengan nanar.

“Astaghfirullah Hal ‘Adzim, kok masih bisa kemasukan sih? Padahal kan Nanda udah berdoa sama Allah.” Nanda masih tidak puas dengan hasil yang didapatnya.

“Haha, bego Lu! Mana mungkin Allah mau dengerin doa Lu! Allah tu banyak urusan. Presiden aja saking sibuknya ngurusin negara sampe gag apal orang miskin di Indonesia sapa aja, apalagi Allah, yang ngurusin seluruh dunia!” suara Rio dengan sok tahunya mencoba menggurui Nanda dan ke empat temannya yang lain. Rio yang nota bene adalah orang tertua di situ (8 tahun) jelas merasa paling ngerti tentang dunia dibanding yang lain.

“Hah? Emang gitu ya Yo?” Nanda dengan polosnya percaya dengan kata-kata Rio.

“Ya iyalah, gitu! Masak gitu aja gag tau? Wuu!” Rio yang merasa di atas angin langsung menanggapi kepolosan Nanda.

“Makanya, kalau main PES itu, gag usah sok-sokan alim Da!” teriak Refa, yang sedang berbahagia karena baru aja memenangkan sebuah partai bergengsi. Antara Manchester United melawan Barcelona yang diselenggarakan di dalam dunia Pro Evolution Soccer 2011 yang dimainkan di laptop milik ayahnya Refa.

Nanda berpikir sejenak menanggapi omongan teman-temannya. “Emang gitu ya Yo? Emang pak Presiden gag tahu semua orang miskin di Indonesia ya? Kamu tahu dari mana Yo?” Nanda masih berusaha mengejar perkataan Rio yang belum dipercayanya sepenuhnya.

“Iya lah, buktinya kemarin aja, waktu Merapi meledak kan pak Presiden kemari, tapi dia gag nengokin pak Ahmad yang ngungsi di rumah tetangga kita pak Badrun kan? Padahal kalau orang kenal tuh pasti bakalan nengokin. Iya gag?”

Nanda manggut-manggut pelan. Dia masih belum percaya sepenuhnya kepada penuturan teman-temannya itu. Namun untuk saat ini, dia tidak memiliki jawaban yang lebih baik dari itu. Dia yang masih berumur enam tahun memang masih belum memahami akan dunia ini. Apalagi dia tidak punya kakak ataupun om yang tinggal di rumahnya. Dia adalah anak pertama dari pasangan muda yang mungkin juga baru pertama kali punya anak. Sehingga kadangkala Nanda justru sering menimba ilmu dari teman-temannya. Terutama Rio.

Mungkin karena Rio adalah anak tertua yang ada dalam teman sepermainan Nanda, sehingga dia jadi orang yang paling dipercaya di dalam kelompok itu. Apalagi Nanda merupakan anak terkecil dan paling cupu. Meskipun saat ini, barangkali Nanda pun belum tahu apa arti cupu itu.

Refa dan Andri memainkan partai final dalam turnamen itu. Sedang Rio –yang sudah kalah paling awal- menjadi pemandu sorak Refa, melawan Dani dan Doni –yang selalu menjadi penonton setia karena tidak bisa memainkan PES- yang menjadi pendukung Andri. Nanda? Dia masih asik bermain dengan pikirannya sendiri tentang ilmu baru yang baru saja diberikan Rio kepadanya tadi.

Kamar Refa yang penuh dengan mainan terdengar sangat gaduh sekali. Suara jam dinding yang berdetak sama sekali tidak terdengar. Hanya suara kipas angin yang diputar dalam kecepatan penuh yang dapat dirasakan kehadirannya oleh anak-anak itu. Hingga akhirnya, terdengarlah suara yang menggelegar dari Dani dan Doni, “GOOLLLL!!!”

Rupanya, Cristiano Ronaldo yang dimainkan oleh Andri telah membobol gawang Victor Valdez dengan mantapnya.

***

“Mah, emang Allah tu gag kenal Nanda ya?” tanya Nanda tiba-tiba waktu sedang makan malam dengan Mamah dan Papanya. Otomatis, kedua orangtuanya tersedak mendengar pertanyaan Nanda itu.

“Kok Nanda bilang gitu?” jawab papanya.

“Tadi Rio yang bilang Pah! Katanya Allah gag mungkin kenal ama Nanda, gitu.” Kata Nanda, polos dengan tatapan polos yang menandakan ketidaktahuan yang sejati. Menandakan kerendahan hati yang kadang tidak ada pada manusia dewasa saat bertanya. Kadangkala, orang dewasa justru cuma ingin adu pintar dengan lawan bicaranya saat dia bertanya.

Papa terperangah juga mendengar kata-katanya Nanda. “Emang Rio bilang apa sayang?” tanya Mama kemudian.

“Rio bilang pak Presiden aja gag kenal sama semua orang miskin di Indonesia, padahal pak Presiden cuma ngurusi satu negara aja. Nah, kalo Allah kan ngurusi seluruh dunia Ma, makin susah donk? Iya kan?”

Papa dan Mama Nanda tersenyum mendengarnya. Lalu papa mulai bicara dengan nada bijaksana yang mungkin sering dibuat-buat oleh orang dewasa agar terlihat keren di mata anaknya. Bahkan, kadangkala itu terjadi tanpa disadarinya.

“Nanda sayang, Presiden itu kan manusia, beda sama Allah.”

“Maksudnya Pa?”

“Jadi gini, kalau Presiden, beliau memang tidak mungkin kenal sama semua orang yang ada di Indonesia, Jangankan orang miskin, artis yang terkenal saja mungkin Presiden tidak kenal semuanya.”

“Oh, berarti Presiden gag kenal sama Cinta Laura ya Pah?” Nanda langsung memotong pembicaraan papanya.

Papa hanya tersenyum melihat kepolosan anaknya. “Papa juga gag tahu sayang.” Katanya sambil menggeleng pelan dan penuh dengan senyum ‘sok’ hangat.

“Kalau Andika Kangen Band? Jerinx Superman Is Dead? Trus Drummernya band punk Gerap Gurita?” Nanda memberondong papanya dengan berbagai pertanyaan tentang nama-nama artis yang dia kenal.

Papa langsung tersenyum kecut. Selain kesal karena omongannya dipotong, dia juga bertanya-tanya dalam hati, dari mana anak ini tahu orang-orang itu? Perasaan aku gag pernah ngasih tahu siapa namanya waktu aku sedang muter lagu-lagu mereka.

“Nanda mau dilanjutin gag nih? Tadi baru sampai Presiden loh, belum sampe Allah.” Mama yang melihat perubahan mimik Papa (yang pastinya tidak disadari sama sekali oleh Nanda) langsung berusaha mengembalikan pembicaraan ke arah yang benar.

“Mau!!!” balas Nanda tegas.

“Nah, berarti sekarang Nanda tau kan kalau Presiden itu gag mungkin kenal sama semua orang Indonesia?” Papa mecoba meyakinkan bahwa Nanda tahu apa yang dibicarakan.

“Iyaaaa!!” Nanda masih membalas dengan tegas.

“Nah, sekarang kalau Allah itu beda sama Presiden sayang.”

“Bedanya apa Pah?”

“Kalau Allah itu bukan manusia.” Jawab Papa peunh dengan senyuman.

“terus Allah itu apa donk Pah? Matahari? Elang?”

“Allah itu ya Allah, Tuhan.”

“Apa Pah maksudnya?? Nanda gag mudeng.” Mata polosnya kembali menjadi sebuah cermin yang jelas tentang kejujuran akan ketidaktahuannya.

“Jadi gini loh Nanda sayang. Allah itu beda sama semua yang ada di dunia ini. Kan dunia ini ciptaan Allah, jadi gag mungkin Allah mirip sama ciptaannya. Nanda kalau gambar juga gag mungkin bisa bikin wujud Nanda yang persis sama kayak Nanda kan?”

“Tapi Pandi bisa Pah.” Balas Nanda cepat.

“Pandi siapa?”

“Itu loh, pelukis yang punya museum. Kan dulu Papah pernah ngajak Nanda ke sana.”

“Oh, itu Affandi. Haha. Tapi kan tetep aja gag bisa gerak kayak aslinya kan?”

“Iya Pah…”

“nah, Allah juga gitu. Allah gag memnciptakan sesuatu yang mirip dengannya. Jadi kita gag tahu Allah itu apa. Yang jelas, Allah itu bukan manusia kayak Presiden. Nanda paham?”

“Iya Pah, terus kalau Allah itu beda sama pak Presiden, Allah itu kenal Nanda ya?” Nanda masih memburu Papanya.

“Gag cuma Nanda, Allah itu kenal sama semuaaaaaa yang ada di dunia.” Papa menjelaskan sambil memperagakan tangan yang melebar, tanda keluasan Allah.

“Trus kok Nanda tadi tetep kalah waktu main PES Pah? Padahal Nanda udah berdoa terus loh. Refa yang teriak-teriak gag jelas malah menang. Kan berarti Allah tuh gag adil Pah?”

Papa berpikir sebentar. Sedikit banyak, dia tak menyangka juga bahwa pangkal kegalauan anaknya adalah karena peristiwa kalah bermain PES. Dulu waktu muda aku juga sering kalah waktu bermain Winning Eleven, sepertinya bakatku menurun ke Nanda. Pikir Papa.

“Pah, kok diem?” Nanda tidak sabar menunggu jawaban dari papanya.

Papa mengernyitkan dahi sejenak, lalu menjawab, “Nanda inget gag waktu Nanda minta dibeliin es krim kemarin?”

“Inget Pa, kemarin Mama gag mau beliin es krim! Padahal Nanda pengeeen banget. Huh!” Nanda sebal sendiri mengingat kejadian saat rengekan mautnya sama sekali tidak berhasil menyentuh hati mamanya.

“Hahaha. Nanda tahu gag kenapa mama gag mau beliin Nanda?” Papa mencoba mengarahkan Nanda.

“Enggak.”

“Karena es krim itu masih gag bagus buat Nanda. Soalnya kan Nanda kemarin masih pilek. Entar takutnya Nanda malah makin sakit. Jadi, kemarin itu apa yang diinginkan Nanda justru gag bagus buat Nanda.”

“Oooohh…” Nanda mengiyakan dengan tatapan kosong.

“Nah, waktu main PES tadi juga begitu. Nanda pengen banget menang, trus minta sama Allah. Tapi belum tentu menang PES memang yang terbaik buat Nanda. Jadi ya dikalahain sama Allah deh. Tapi itu bukan karena Allah gag sayang sama Nanda, bukan.” Papa mencoba memberi kejelasan sejelas mungkin. Walaupun matanya melihat wajah Nanda yang tidak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan Papanya.

“Jadi Allah sayang sama Nanda Pa?” Nanda mencoba mencari sebuah kata kunci.

“Iya sayang, gag cuma Allah, papa sama mama juga sayang Nanda kok.” Balas Mama dengan lembut, disertai dengan senyum manis dari seorang wanita cantik.

“Pa, tanya lagi donk…”

“Apa?”

“Kok tadi pagi-pagi banget sebelum sholat subuh Nanda liat papa mandi? Ngapain Pa?”

***

Cup. Sebuah kecupan manis mendarat ke kening Nanda saat dia terlelap. Kecupan penuh cinta dari Papa, setelah tadi sebelumnya Mama membenarkan letak selimut Nanda dan mencium Nanda lebih dulu. Kasih sayang yang penuh dari orangtua untuk anak pertama mereka. Anak yang nantinya diharapkan akan menjadi anak soleh yang selalu berada di jalanNya.

“Anak kita ini ada-ada aja ya Pa?” Mama tiba-tiba memulai percakapan dengan Papa.

Mendengar pertanyaan itu, Papa hanya diam. Lalu seulas senyum tersungging di bibir kasarnya. “Iya Ma, jaman sudah berubah.” Kata Papa kemudian. “Tapi justru dari Nanda Ma, papa ngerasa justru mendapat pencerahan. Ternyata, kalau kita mau mengambil hikmah, justru kita bisa belajar banyak dari Nanda Ma.” Lanjut Papa.

“Belajar dari Nanda?” tanya mama kebingungan.

“Iya, sebenarnya tidak hanya dari Nanda saja, tapi juga semua anak-anak.” Papa menghela nafas sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya, “Anak-anak itu jiwanya masih murni. Bahkan menurut Tony Buzan, penemu konsep mind map yang sekarang banyak dipakai orang-orang, anak-anak adalah jiwa yang paling kreatif di dunia ini.” Papa mulai bercerita panjang lebar. Mama manggut-manggut. “Jadi, jiwa anak-anak tuh masih penuh dengan inovasi. Jauh berbeda dengan orang dewasa yang pola pikirnya sudah terbentuk dalam balutan kebiasaan, tradisi masyarakat, sampai juga tata krama yang dibentuk oleh orangtua. Sedang anak-anak? Mereka masih terbebas dari semua itu, sehingga mereka masih bergerak sesuai dengan apa yang inginkan.

“Namun sayangnya, kemurnian jiwa anak-anak yang seperti itu justru mengganggu jiwa kaku orangtua. Sehingga seringkali orangtua memarahi anak-anaknya karena tidak berlaku sesuai norma kekakuan yang ada. Hasilnya? Ingatan tentang larangan itu melekat kuat di jiwa dan otak si anak dan membuat si anak terdidik untuk menjadi robot berikutnya.” Kata Papa.

“Jadi, sebaiknya anak-anak itu gag dilarang Pa?”

“Selama masih dalam batas kewajaran, Papa rasa sebaiknya mereka dibiarkan menunjukan semua kreatifitas mereka.” Jawab Papa sambil tersenyum, berusaha memberikan senyum terbaiknya untuk Mama.

“Terus tentang Allah tadi, papa percaya sama yang papa omongin ke Nanda?”

“Loh, mama ini gimana toh, masak papa bilang ke Nanda sesuatu yang papa tidak percaya?”

“Hehe, cuma mastiin Pa.” jawab mama sambil meringis.

“Papa percaya penuh kok Ma. Cuman tetep aja, prakteknya susah banget. Kita seringkali susah untuk berprasangka baik sama Allah. Saat kita sedang susah, pasti kita selalu merasa bahwa ini semua tidak adil. Kita cenderung ingin menyalahkan Tuhan atas kejadian ini. Dan itu, sepertinya wajar dialami oleh manusia Ma.”  Papa berkata lirih. Mengingat semua kesulitan yang dialami pada masa lalu. Pada masa awal bersama mama. Wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang selalu ingin dijaganya, walau itu berarti harus mengorbankan banyak hal.

“Tapi memang terbukti ya Pa, pada akhirnya kita merasa mendapat apa yang terbaik yang bagi kita.” Mama menyambung kata-kata suami tercintanya. Suami yang sudah mengorbanakn apapun untuknya itu.

“Iya Ma, Tuhan memang maha tahu. Allah itu selalu tahu.” Ujar papa sambil tersenyum dan memegang tangan mama dengan lembut. Hingga akhirnya, bibir mereka bersentuhan dengan indahnya beserta rahmat Allah.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>