Ungkapan “tidak semena-mena” yang menjadi “semena-mena”

Dalam penggunaan bahasa, sering pemakai bahasa suka menghilang-hilangkan unsur bahasa tertentu, atau menambahkan unsur bahasa yang sebenarnya tidak diperlukan. Kali ini akan kita bicarakan peristiwa bahasa yang disebutkan mula-mula itu.

Dalam tiap bahasa, ada yang disebut ungkapan. Ungkapan itu ada yang terdiri atas sepatah kata, namun ada pula yang terdiri atas dua atau tiga patah kata, atau lebih. Ungkapan yang tergolong kepada yang disebut semacam peribahasa, mengandung arti kiasan atau arti tertentu. Kalau terdiri atas beberapa patah kata, maka artinya bukanlah artinya bukanlah arti yang didukung oleh tiap kata dalam kelompok kata itu (frase), melainkan arti yang terdapat pada kelompok kata itu sebagaimana arti yang diberikan oleh pemakai bahasa tersebut.

Kita ambil contoh dalam bahasa Indonesia. Jika dikatakan bahwa Amat setiap hari harus membanting tulang untuk menghidupi anak istrinya, tidak berarti bahwa ‘Amat membanting tulangnya’ karena sudah tentu hal itu tidak dapat dilakukannya. Ujaran membanting tulang  dalam bahasa Indonesia merupakan suatu ungkapan dengan arti kiasan ‘bekerja keras’. Jika kalimat bahasa Indonesia di atas itu diterjemahkan ke bahasa asing, tentu saja ungkapan membanting tulang itu tidak boleh diterjemahkan secara harfiah kata demi kata, melainkan menggantinya dengan ungkapan dalam bahasa asing itu yang semakna dengan ungkapan membanting tulang, atau langsung diterjemahkan saja dengan artinya yaitu bekerja keras.

Selain daripada ungkapan yang mengandung arti kiasan, ada juga kelompok kata yang dapat kita anggap sebagai ungkapan sebab kelompok kata tersebut selalu muncul dalam tuturan dengan rangkaian dan urutan yang tetap. Karena kelompok kata itu merupakan kelompok tetap, janganlah kehadiran tiap komponennya “diganggu gugat” lagi. Artinya, tiap komponennya harus tetap seperti itu, baik bentuknya maupun tempatnya/urutannya di dalam kelompok itu. Selain itu, komponen yang membentuk kelompok kata itu tak ada yang boleh dihilangkan karena sudah merupakan pasangan tetap dengan komponen yang lain.

Saya kutipkan sebuah contoh dari surat kabar.

“Semua tamu sama di mata kami,” kata karyawati yang telah berpengalaman tadi. “Ada yang baik dan sopan, ada pula yang semena-mena dan kurang ajar baik tamu domestik maupun tamu asing.”

Saya minta perhatian Anda terhadap ungkapan semena-mena dalam kalimat di atas. Jika Anda buka Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta halaman 642 kolom 2 (cetakan tahun 1976), akan Anda temukan sebagai berikut:

Mena : tidak semena-mena; tidak dengan kira-kira, semau-maunya; sewenang-wenang; tidak beralasan yang patut; misalnya dibunuhnya dengan tidak semena-mena

Melihat yang tercetak di dalam kamus itu, Anda tahu bahwa ungkapan yang benar bukan semena-mena, melainkan tidak semena-mena. Kata tidak di depan kata semena-mena sama sekali tidak boleh dihilangkan seperti pemakaiannya di dalam kalimat kutipan dari surat kabar itu. Ungkapan yang sama artinya dengan sewenang-wenang (yang umum dipakai sekarang) ialah tidak semena-mena bukan semena-mena.

Berbuat tidak semena-mena terhadap seseorang sama artinya dengan berbuat ‘berbuat sewenang-wenang’ terhadap seseorang. Kata tidak di dalam ungkapan itu berfungsi menentukan arti ungkapan itu, jangan dihilangkan. Tentu saja tidak pandai tidak sama dengan pandai saja tanpa tidak; tidak berwibawa tidak sama artinya dengan berwibawa. Yang pertama bersifat ingkar, sedang yang kedua justru sebaliknya.

Sengaja ungkapan tidak semena-mena ini saya bicarakan kali ini karena pemakaiannya kacau. Kadang-kadang orang mengatakan/menulis tidak semena-mena, tetapi kadang-kadang juga hanya semena-mena. Ungkapan yang benar ialah yang menggunakan kata tidak dengan arti sama dengan sewenang-wenang.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, karya JS Badudu.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Ungkapan “tidak semena-mena” yang menjadi “semena-mena”

  1. Ternyata banyak juga kesalahan kecil yang sering saya lakukan. Tambah lagi ilmu bahasa Indonesia saya, terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>