Untuk Adik yang Meninggalkanku

Apa kabar, dik? Kuharap kau baik-baik saja,
Karena kudengar, kau baru saja ditinggalkan pejantanmu,
Dengan cara yang sama persis dengan kau meninggalkanku, dik.

Tak mengapa dik,
Manusia punya jalan hidupnya masing-masing
Manusia juga punya kesalahannya masing-masing
Yang tidak dimiliki masing-masing oleh manusia adalah kumis lebat seperti punyaku

Aku yakin, dik
Ada sedikit penyesalan dalam dirimu
Ada rasa bersalah yang tak tertahan pada dirimu
Mungkin, kamu bahkan jauh lebih sakit dari aku ketika kamu tinggalkan dulu, dik
Sayang, empatiku sudah tertutup oleh pekatnya darah di hati
Darah yang dikeluarkan langsung dari hatiku, dik

Untungnya, dik
Perlahan-lahan darah ini mulai mengering,
Meskipun belum sepenuhnya,
Atau lebih tepatnya,
Tidak akan pernah sepenuhnya,
Karena bekas lukanya akan selalu ada, dik
Abadi,
Jauh lebih abadi dari cinta kita dulu (sudah kita lihat buktinya)
Bekas luka yang kamu torehkan, kini sudah menjadi bula
Lukanya menganga, tapi sudah tidak sakit ketika disentuh
Itulah, dik
Sekarang sudah tidak sesakit dulu lagi

Karena itu, dik
Jangan kamu takut untuk melihat lukaku ini
Karena luka ini sudah siap untuk kau lihat kembali
Terserah kau melihatnya dengan cara apa
Apakah dengan tatapan penuh cinta seperti dulu?
Atau dengan tatapan penuh rasa bersalah?
Atau dengan tatapan penuh kebencian?
Terserah kamu, dik

Kenyataannya, dik
Aku sudah tidak peduli pada tatapanmu
Karena seperti yang kamu lihat sekarang,
Sudah ada basuhan air gunung yang diberikan pada lukaku
Dan kamu tahu siapa yang membawa itu, dik

Yang jelas, dik
Bukan kamu, dik

Solo, 25 Mei 2014 

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>