Yang Mengganggu Selama Ini

Yang Mengganggu Selama Ini

Ketika ku bertukar pikiran dengan pena dan kertas putih tentang bagaimana cara meluluhkan hatiku sendiri
dengan seuntai puisi,
Aku teringat dirimu:
Kau yang semula mengganggu hari-hariku
hingga sel-sel tubuhku terbiasa denganmu,
Kau yang semula hanyalah untaian kata yang tertangkap mata
hingga menjadi jalur suara yang selalu kutunggu

Dan sementara ku berbisik lirih kepada tinta yang menodai secarik kertas itu
Aku kisahkan padanya tentang dirimu yang menarik kembali pelangi yang sempat menghiasi langit-langit di sudut senyumku
…setiap hari…
Kau layaknya induk yang membesarkan hatiku
Hingga suatu waktu kau sapih dia untuk kembali padaku
tanpa peduli, ia telah lekat denganmu
Kau pun berlalu sambil merangkul jemari sang waktu
yang detik-detiknya takkan mau tahu
Perihal hatiku yang kau tinggal pergi
dan merangkak kembali
dengan lebam yang membekas
menjadi ku lagi tanpa sejumputpun rasa ikhlas
.
.
.
Hingga pagi tadi, rintik hujan memelukku
dan buainya berhasil menipu
ia meresap masuk ke dalam celah memori
dan membaca keras rekam kisahmu
Memaksaku untuk berbincang lagi denganmu
Tapi ada simpul kuat yang-entah dari mana asalnya-mengikat jemariku untuk tidak menyapamu
menghadangku melontarkan tanya itu:
Bagaimana kau taklukan hatiku dulu?

dan

Maukah kau taklukan lagi?

Sebab

Ia rindu kau yang selalu mengganggu

NB:
aku tak marah padamu
Sebab tanpamu takkan lahir sajak ini
dan hatiku?
ia pun sudah tersenyum kembali

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: