Catatan Pengantar Polemik : “Apakah ‘Curriculum Vitae’ itu Sebuah Novel?”

Catatan Pengantar Polemik : “Apakah ‘Curriculum Vitae’ itu Sebuah Novel?”

Oleh : JAJA SUHARJA***

 

                                                            1

                                              ‘Apa itu novel?’

 

“Apakah ‘Curriculum Vitae’ Itu Sebuah Novel?”

Pertanyaan itu seolah igauan sehabis mimpi ‘yang tak dimengerti’. Tahun 2016 telah terlemparkan kalendernya dengan senyuman para pemenang lomba penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta. Dan , satu tahun kemudian juga berlalu manis – setelah novel para pemenang itu di terbitkan dan saya sebagai pembacanya ‘merenungkan’ tak menghabis oleh satu soal ini :

                                              “Apa itu novel?”       

      Di dalam kepala saya bergemuruh sebuah kata , “proporsi” .

Proporsi dalam artian penokohan,setting, menjadi ‘hal yang minimal’ harus ada dalam sebuah karya sastra yang disebut ‘novel’.

Proporsi itulah, sebagai kata yang semestinya menjadi ‘benteng’ dari upaya otoritarianistik seorang pengarang novel yang ‘bersembunyi’ dari ‘topeng’ kredo sastra ( semakin seseorang mendekatkan tokoh-tokohnya kepada suatu typologi dan bahkan suatu analitis, semakin dekat penulis tersebut kepada ilmu sosial atau ilmu sejarah dan semakin gagal sebagai sastrawan. Sebaliknya, semakin dia sanggup melukiskan keunikan setiap tokohnya sebagai pribadi yang hidup dan individu yang konkret. Maka, semakin jauh dia meninggalkan keilmuan dan semakin berhasil dia dalam penulisan sastra (Ignas Kleden , “Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan”, hal: 67).

Kredo tersebut kiranya tepat tersematkan pada naskah novel ‘Semua Ikan di Langit’ – ‘Rivalnya’ naskah novel ‘Curriculum Vitae’ di ajang lomba penulisan- novel di tahun yang sama di DKJ.

Karya Ziggy tersebut berhasil ‘mempermainkan’ sudut pandang tokoh-tokoh novelnya yang aneh. Sementara, kesan yang sama tidak penulis dapatkan pada naskah novel Curriculum Vitae karya Beny Arnas. Hingga keluar dari kepala penulis sebuah pertanyaan retoris,

                        “Apakah naskah ‘Curriculum Vitae’ karya Beny Arnas itu , layak- di sebut sebagai novel?”

Pertanyaan itu lama mengendap di benak penulis.

Setidaknya, keraguan penulis tersebut berdasarkan pada sebuah ingatan lama dari diktat ‘pelajaran bahasa dan sastra indonesia kelas 1 SMA’ tahun 1990-an , masa penulis sekolah di SMA PGRI 1 Serang-Banten.

Ada bahasan tentang ‘apa itu novel dan roman’ di buku yang dimaksud. Pertanyaannya , Apakah rentang waktu puluhan tahun itu dapat merubah sebuah definisi karya sastra bernama ‘novel’ ?

  Toto ST.Radik , kurun waktu 10 tahun terakhir, pernah menulis di Fajar Banten , “Novel : dari Italia Sampai Ke Banten”. Tidak ada yang berubah secara garis besar tentang definisi , ‘apa itu novel?’ Dalam tulisannya Presiden Penyair Banten itu.

Namun , dengan adanya kasus , naskah Curriculum Vitae yang disebutkan dewan juri DKJ 2016 sebagai sebuah novel tersebut. Hemat penulis, definisi karya sastra bernama novel telah mengalami perubahan secara signifikan?

Inilah catatan pengantar yang mungkin dapat menjadi polemik dalam khazanah sastra indonesia bahwa, dewan juri lomba penulisan novel DKJ 2016 telah ‘sembrono’ mengkategorikan naskah ‘Curriculum Vitae’ sebagai sebuah novel.        

                                                                  2                            

                                      ‘Pembenaran Terstruktur’        

                                              

      Penulis telah menudingkan telunjuk atas ‘Esensi Kemenangan’ novel ‘Curriculum Vitae’ karya Beny Arnas sebagai pembenaran terstruktur anggota dewan juri penulisan novel DKJ 2016.

Apa Ke-istimewa-an naskah ‘Curriculum Vitae? Begitu ujar penulis  meretoris. Maka, diperbandingkanlah oleh penulis apa yang pernah terjadi pada sebuah naskah roman – yang di kemudian hari di kenal sebagai novel ‘Saman’. Novel Saman pernah ‘diabaikan’ atau menurut pengakuan anggota dewan juri roman DKJ 1997 – pernah mau disingkirkan sebagai peserta lomba penulis roman DKJ 1997. ‘Sebuah fragment yang tak utuh’.

Begitu , seingat penulis ‘statement’ yang pernah di sampaikan anggota dewan juri roman DKJ 1997 terhadap naskah novel Saman.

Kesan sebagai, ‘sebuah fragment yang tak utuh’ itu, – justru penulis dapatkan tidak pada novel Saman tapi, pada novel ‘Curriculum Vitae’ karya Beny Arnas.Tidak ada ‘Sebuah greget’. Yang terjadi malah ‘pusing-serupa gasing’ karena, setelah dua halaman diawal pengisahan tentang,

                                           “dua telur

                             

yang ditemukan oleh ‘kau’ dan dua telur itu kemudian menetas (siapa yang mengerami? Induk bebek atau induk ayam? Tak jelas).

     Sebagai sebuah metafor pun, tak terang mewakili sebuah pandangan hidup manusia tentang apakah ‘filosofi dua telur itu?’

Maka pertanyaannya, sandaran logika apakah – sehingga, naskah ‘Curriculum Vitae’ itu – ‘diamini’ oleh anggota dewan juri lomba penulisan novel DKJ 2016 sebagai naskah novel dan yang memiliki nilai ‘kualitas kebaruan’ sebuah cipta sastra?

Hemat penulis, sub judul – sub judul yang bertebaran serupa esai atau catatan harian tidak lantas kita anggap bahwa, Curriculum Vitae adalah novel berbentuk ‘esai’.

Ignas Kleden menulis, “Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan” . Tentang hal-ihwal sebuah esai, biasanya ditulis secara spontan. Entah karena ada pemikiran yang melintas dan dirasa penting atau menarik, entah karena ada dorongan perasaan yang sangat kuat untuk mengatakan sesuatu atau karena seseorang hendak mengisi waktu luang. Dengan lain perkataan, sebuah esai adalah tulisan yang tidak lahir dari rencana penulisan yang ketat  (hal:457). Dilihat dari apa yang tersaji di dalam sub judul – sub judul novel, Curriculum Vitae itu. Sifat dari esai, seperti dibilang Ignas Kleden itu, ‘kental’ dirasa menyelibungi ‘bentuk jadi’novel Curriculum Vitae ( mohon di bedakan dengan novel ‘berbentuk esai’). Nah, novel Curriculum Vitae ini bentuknya tidak jelas.

Pada sub-judul ‘Nonmutlak’ misalnya, Benny Arnas menulis tentang perasaannya menyikapi ketokohan Mario Teguh. Dan itu sama sekali tidak korespondentif dengan pengisahan yang simbolis-absurd pada dua ekor unggas dari tetasan dua telur yang juga, tidak jelas siapa yang menemukannya itu? “Kau”- adalah tokoh yang hampa nilai dalam novel Curriculum Vitae.      Sehingga ‘Amanat’ pada sebuah novel itu dengan sendirinya tidak terbangun oleh setting, penokohan serta alur/plot sebagai sebuah kesatuan yang ‘bulat-bundar’. Adakah yang di sebut sebagai ‘tokoh utama’ dalam naskah Curriculum Vitae?

Jika bentuk novelnya saja sudah terlihat ‘kabur’ ,

“Bagaimana mungkin akan kita dapatkan sebuah ‘penokohan’ yang membentuk konflik, tegangan, dan keluaran  (ending ) dari pengisahan yang digambarkan oleh Benny Arnas dalam naskah Curriculum Vitae itu?”

Pertanyaannya kemudian, “Apakah naskah Curriculum Vitae layak kita sebut sebagai novel?” Semuanya terlihat ‘kabur’.

Kekaburan itu disebabkan ‘tokoh ide’ dalam novel Curriculum Viate telah sejak awal ‘dierami’ sebagai pengisahan tentang ‘dua telur’ yang juga menetas secara absurd. Karena anak bebek dan anak ayam dari dua telur itu lebih sebagai ‘tokoh tempelan’ semata dan bukan menjadi latar sebuah pandangan hidup atau filsafat tertentu sehingga berfigura sebagai sebuah fragment yang utuh. Jalinan sub judul-sub judul pada novel ‘Curriculum Vitae’, sangatlah terpisah menyerupai catatan harian mahasiswa gelisah dalam pencarian hidupnya. Jika saja sub judul-sub judul pada novel itu menyatu sebagai metafora atas fragment ‘anak bebek-anak ayam’ – mungkin novel,

CURRICULUM VITAE :

                                                    106 URUSAN

                                            90 PERUMPAMAAN

                                                     11 TOKOH

                                    SEPASANG KEGEMBIRAAN

Layak kita sebut sebagai sebuah novel filsafat.

Namun sayangnya, dengan banyaknya ‘urusan’ ( seratus enam buah) , adanya ‘klaim’ perumpamaan  (sembilan puluh buah) dan , sebelas ‘tokoh’ yang menjadi ‘judul panjang’ naskah Curriculum Vitae . Rupanya hanyalah tempelan ‘boombastis’ yang mungkin telah menarik perhatian dewan juri penulisan novel DKJ 2016 , memberikan ‘ganjaran’ pada naskah Curriculum Vitae sebagai novel unggulan.

Untuk hal itu, kita mesti ‘mengangkat bahu’ tanya , sebagai pertanyaan, bukan pada rumput yang bergoyang. Setelah dilaksanakannya proyek idealis bernama, ‘penjaringan’ penulis-penulis baru dalam ajang lomba penulisan novel. Semestinya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) juga, hadir ke sekolah-sekolah menengah (SMA) dengan membawa ‘peti teori’ terbaru bahwa, kasus seperti naskah CV telah memberikan khazanah tentang perkembangan terkini ‘apa itu novel”. Yang selama puluhan tahun dalam diktat pelajaran bahasa dan sastra indonesia di sekolah-sekolah tetap statis secara definisi.

Sementara ‘diluar definisi’ itu, setiap dua tahun sekali setidaknya, belasan novel yang disebut ‘terbaik’ diterbitkan dengan beragam bentuk cipta sastra novel : Saman ( 1997-1998) , Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya , Nafas Mayat dan Semusim dan Semusim Lagi ( 2012), Kambing dan Hujan (2014) , serta ‘Semua Ikan di Langit’ (2016).

Ada diantara novel-novel yang diterbitkan itu , keluar dari ‘mainstream’ cipta sastra – yang disebut konvensional. Novel ‘Curriculum Vitae’ adalah sebuah novel yang disebut keluar dari yang konvensional itu , – ‘Eksperimental’.

Jika yang konvensional ‘bermasalah’ tentu, itu kembali ke soal ‘rasa’. Ibarat orang yang disebut ‘cheff’ mencicipi masakan dari peserta lomba memasak. Maka, rasa pada lidah tiap ‘cheff’ yang menjadi jurinya tentu akan bilang sesuai dengan lidahnya. Suka asin, tidak suka manis. Kedua rasa itu seolah ‘jamak’. Dan itulah proporsi.

Namun, meski ada batasan ‘nilai’ sebuah masakan itu dibilang ‘enak’. Sebagaimana juga penulis, yang memandang novel ‘Curriculum Vitae’ sebagai sebuah ‘masakan’ yang lain. ’Enak’ pada bagian apanya? Novel ‘Curriculum Vitae’ seperti bukanlah sebuah novel, pun, jika dibilang ‘aneh’ sebagaimana  ‘Cala Ibi-nya’ Nukila Amal.

Namun, penulis sebagai pembaca masih bisa ‘meraba’ bahwa pada Cala Ibi , ‘rasa’ sebagai novelnya masih tersangkut pada lidah. ‘Masakan’ yang sama – ‘yang disebut novel’ pada ‘Curriculum Vitae’ , penulis sama sekali tidak ‘mencecap’ ada rasa itu pada ujung lidah!

3.

                           Catatan Pengantar Polemik

 

    Novel ‘Curriculum Vitae’ terbagi atas empat bagian : ‘Identitas, Lingkungan, Ujian dan Surga’. Keempat bagian tersebut sama sekali tidak menjadi representasi atas sub judul-sub judulnya yang begitu panjang : 106 Urusan, 90 Perumpamaan, 11 Tokoh dan Sepasang kegembiraan.

 

Identitas.

Dikisahkan ada dua buah telur di pinggir sungai. Telur ayam dan telur bebek ( yang secara tekstual kemudian ‘menetas’ . Siapa yang ‘mengerami?’).

Benny Arnas tidak peduli pada ‘proses itu’.

‘Apakah secara intertekstual kedua buah telur itu koheren dengan entitas tokoh ‘si Fulan’ yang bertemu secara tak sengaja dengan seorang gadis di sebuah gubuk?’

Penulis sama sekali tak melihatnya sebagai peristiwa yang ‘korespondentif’ sebagai sebuah sejarah seorang tokoh.

‘Si Fulan’ tidak secara langsung bisa kita bilang, sebagai ‘benang’ yang disulam dari perumpamaan atas entitas, seorang manusia secara filosofis.

Bab-bab pendek seperti ‘semacam’ catatan harian . Namun, hadir tanpa pre-text bahwa, ‘Si Fulan’ disuatu hari merenung dan penanya secara ‘tekstual’ berbicara. Itulah logika pembaca.

Menjadi tidak logis ketika, ‘Si Fulan’ hadir sebagai tokoh tunggal dan, apakah dimaksudkan sebagai tokoh? Bahkan di dalam novel, ‘Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya’ itu pun, Dewi Kharisma – walau tanpa ‘pre-text’ membuka surat-surat panjangnya meski ada ‘kejelasan’ entitas atas tokoh dalam setiap surat-suratnya. Bentuknya jelas ‘Surat-Surat’.

Apakah bentuk novel ‘Curriculum Vitae’ sebuah esai atau catatan harian?

Jika ada uraian komentar sebagai ‘resepsi pembaca’ atas novel ‘Curriculum Vitae’ bahwa ada tokoh utama disitu (siapa?).

Pertanyaan ini penting diretas. Jika ada novel tanpa tokoh , apakah layak disebut novel ? Namun jika ada novel tanpa – tokoh pahlawan , mungkin! Dan Iwan Simatupang memperbincangkannya itu dalam novelnya ‘Ziarah’.

 

Lingkungan.

     Dipertengahan novel ‘Curriculum Vitae’ , Benny Arnas semakin tak terkendali ‘idenya’. Bahwa, sepasang insan dalam rumahtangga yang dikelilingi oleh bermacam-macam rekan sembari diwarnai peristiwa-peristiwa.

Deskripsi yang natural. Denotatif.

Jika filosofis , maka, tebaran ‘jejaring konotasi’ mengelilingi novel ‘Curriculum Vitae’ secara utuh. Bagi penulis, jejaring konotasi itu berawal dan berakhir di pengisahan ‘telur bebek dan telur ayam’. Begitu ganti sub-judul, ganti pula ‘point of view’ pengisahan. Seorang pembaca*1 menulis begini :

‘setiap satu bab selesai, aku malah diajak penasaran dengan pertanyaan. ‘Habis ini , mau ada ulasan kejadian apa lagi ya?’ ( prediksi penulis, itu semacam komentar Benny Arnas sendiri di dalam proses kreatifnya menulis novel itu – Curriculum Vitae, Kemudian terlupa ‘didelet’. Akhirnya seolah jadi bagian ‘absurditasnya’ tersendiri).

Lebih lanjut ia bilang , ‘ajaibnya, sejauh yang kutangkap selama pertengahan buku ini, nyaris tak ada satu pun prahara hidup yang lepas dari sorotan penulis. Perumpamaan yang disajikan memang terkesan sudah lebar bahkan membosankan. Dan menggoda bagi pembaca untuk berhenti saja.

Sampai di bagian ‘Ujian’ dan ‘Surga’ , penulis sebagai pembaca jenuh dan akhirnya benar-benar membanting novel itu’ ( penulis sarankan , ‘dewan juri kritik sastra membaca ulang novel ‘Curriculum Vitae’ terutama fragment saat -.     komentarnya ‘Benny Arnas’ atas eksistensi seorang ‘Mario Teguh’ menjadi bagian pengisahan. Itu bagian teraneh yang penulis baca).

Masih dari pembaca yang sama** , ia berkesimpulan perihal adanya nuansa ‘Surealisme’ dalm novelnya ‘Curriculum Vitae’.

Padahal kesan itu, tidak penulis dapatkan.

Coba bandingkan dengan ‘Gergasi’ – kumpulan cerpennya Danarto atau dengan novelnya Ziggy, ‘Semua Ikan di Langit’ atau dengan novelnya ‘Semusim dan Semusim Lagi’. Itulah yang berkesan sebagai karya sastra ‘surealisme’. Bukan di novel ‘Curriculum Vitae’.

 

Penutup

Teman saya – Levi Tuzaidi pernah berkomentar (frustasi) atas novelnya Cala Ibi,…

“ ini jenis novel yang ditulis sesukanya ( mungkin maksudnya , mengabaikan pembaca umum yang berharap dilayani sebagai ‘Raja’ – mirip pembeli dan penjualnya (pengarang).Pembeli novel puas membaca dengan hati riang dan terhibur)”.

Inilah yang konvensional itu.

Kesimpulan yang sama juga terjadi pada novelnya ‘Curriculum Vitae’.

Apakah yang keluar dari ‘mainstream’ konvensional itu menjadi pembahasan dalam kelas-kelas pembelajaran Bahasa dan sastra Indonesia di sekolah-sekolah Menengah atau di Perguruan Tinggi?

Apakah Dewan Juri Penulisan Novel di DKJ setiap tahunnya menulis secara khusus dalam jurnal sastra? Misalnya. Tentang ‘yang terbaru’ dari ‘yang terbaru’ setelah ‘era-nya Iwan Simatupang’ berakhir belasan tahun yang lalu  (bagaimanakah kita menghitungnya?).

Bagaimana pun, ‘Curriculum Vitae’ telah menyebabkan kegairahan penulis membuka kembali sejumput teori sastra itu sendiri.

Penulis mengutip apa yang dikatakan Budiman Sudjatmiko dalam bukunya , ‘Anak-Anak Revolusi’ bahwa,

sebuah teori kritik yang tidak dapat melahirkan kegairahan pemikiran baru dalam teori ‘terbaru’ – kita hanya akan melihatnya sebagai ‘batu nisan’ dalam jagat pemikiran teori kritik. Itu juga berlaku dalam ranah sastra!

 

 

 

Renungan-Renungan dalam ‘Curriculum Vitae’

Arti ‘pembenaran’ terstruktur terhadap naskah novel ‘Curriculum Vitae’ adalah dengan adanya ‘kesepakatan’ pemahaman dalam sebuah sudut pandang, ‘anggota dewan juri lomba penulisan DKJ 2016’. Jika sudut pandang tersebut sama-sama ‘menggempur’ teori cipta sastra dengan satu ‘palu’ yang sama – eksperimental. Maka, hasilnya adalah ‘nol kilometer’ bagi naskah ‘Curriculum Vitae’ dalam lomba yang dimaksud. ‘Nol kilometer’ menjadi semacam jarak sudut pandang yang longgar bahwa, ‘ada sesuatu yang baru dalam naskah ‘Curriculum Vitae’ sebagai yang disebut, ‘Novel’. Jika ‘yang baru’ adalah sematan terhadap jenis novel karya Iwan Simatupang,  puluhan tahun yang lalu – masa itu . Maka logikanya, yang disebut ‘baru’ itu adalah sesuatu yang dinamis dimana, ‘yang lama’ yang konvensional sudah tidak lagi jadi ‘trade mark’. Seperti itukah?

Sekian pertanyaan retoris ingin penulis sampaikan sebagai penutup tulisan ini. Seperti serangkaian ‘Renungan-Renungan Aneh’ – semacam kata mutiara, atau apalah ( ada pada naskah ‘Curriculum Vitae’ yang sangat tidak korespondentif dengan pengisahan tokoh – sehingga bisa dibilang Curriculum Vitae ‘novel yang  anti tokoh’) :

‘Dunia ini dibangun oleh kebohongan sehingga mereka yang amanah akan roboh atau mati, sebab semua lahan sudah penuh pestisida kecuali mereka sanggup dan bahagia sebagai orang asing, orang tidak berbohong (halaman : 17-18)’

‘Ketika aku memperjuangkan sesuatu yang baik termasuk hakku – dan kalian yang sepertinya terganggu karenanya, sebaiknya kalian camkan ini baik-baik, itu bukan urusanku. Itu adalah masalahmu.Masalah kalian sendiri (halaman :21)’

 

‘Mencintai tak pernah berkawan dengan kata bayaran atau sejenisnya (halaman :32)’

‘Banyak cara menjahit kebahagiaan . Salah satunya dengan ikhlas menitipkan kegembiraan ini kepada-MU (halaman :200)’

‘Ketika sebuah pedang dengan kilau terindah yang pernah kulihat tertancap ditubuhku, aku sebenarnya baru saja menikahimu (halaman:166)’

‘Tuhan, atas semua celah yang bisa menjadi nila di genangan susu yang ditanak di kerak belanga, kita berlindung dari godaan cinta yang terpuruk (halaman:198)’

                              Bandar Lampung –  Serang, Agustus – September 2019.

Daftar Pustaka :

Beny Arnas , ‘Curriculum Vitae’

Ignas Kleden , “Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan”

Budiman Sudjatmiko , ‘Anak-Anak Revolusi’

Toto ST Radik , ‘“Novel : dari Italia Sampai Ke Banten”., Harian Fajar Banten

*,** anonym , ‘ulasan novel Curriculum Vitae’ di internet

***Penulis adalah Alumnus Fisip Universitas Lampung

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: