(Cerpen) Bonifasia

(Cerpen) Bonifasia

Cerpen Gonsy Tono

Juni selalu memiliki keistimewaan untuk melukis seribu satu cerita setelah perjalanan yang panjang menata hidup yang kian menantang atau mungkin sengaja ditantang. Pada liburan bulan Juni kala itu aku sempatkan diri untuk bersantai menikmati senja di pantai. Sore hari itu cuaca di pantai sangat panas menusuk kulit. Situasinya tampak lengang.  Tidak ada satu pun pengunjung yang datang. Tak seperti biasanya. Padahal hari itu adalah hari minggu. Yang ada hanya pak Amir, penjaga pantai yang sedang membersihkan guguran daun angsono dan bunga jambu satu-satunya yang tumbuh di situ. Aku pun berjalan mendekati pak Amir yang sementara membersihkan kotoran itu. Kuletakan gitar dan buku puisi yang kubawa di atas kursi tua yang sudah lapuk sebelum menyalami pak Amir. Setelah memberikan salam, aku memilih untuk membantunya membersihkan kotoran yang berserakan itu sampai semuanya bersih.

Setelah membantu pak Amir aku beristirahat sejenak di bawah pohon jambu yang sedang berbunga itu. Pak Amir datang memberikan sebotol minuman mineral kepadaku. Dengan cepat aku habiskan air itu sebagai pelepas dahaga. Sesekali aku melirik ke jam tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul 15: 30 Wita. “Mengapa jam begini dia belum datang juga ya?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku beranjak untuk berteduh di bawah sebuah pohon tepatnya di bibir pantai sambil membawa gitar dan buku puisi.

Angin bertiup sepoi-sepoi basah menerbangkan imajinasiku yang liar dan tak karuan. Deru gelombang kian meronta. Menepi menghantam deretan karang yang kaku. Mentari perlahan menuju ke peraduannya meninggalkan teja. Burung melayang-layang di atas hamparan laut nan luas. Sesekali mereka hinggap pada cabang pohon mangrove yang berdiri kokoh di pinggiran laut itu. Pohon itu menyisakan dahan dan ranting-ranting yang meranggas. Situasi menjadi syahdu di senja itu. Imajinasiku terus berkelana, mengembara pada horizon yang maha luas itu. Aku pun terlelap.

*********

Lima belas menit aku terlelap. Aku tak menyadari bahwa Bonifasia telah berada di sampingku. Ketika terbangun, aku dikagetkan dengan kehadirannya. Ya, dialah yang aku tunggu. Ini adalah kesempatan yang pertama untuk kami berada di pantai setelah berpisah tiga tahun yang lalu semenjak tamat SMA. Dia sahabatku. Bahkan aku pernah jatuh cinta padanya. Sampai saat ini pun perasaan itu masih tersisa dalam hati dan pikiranku padahal telah sekian lama aku memendamnya. “Semoga senja ini menjadi saksi bahwa hari ini aku berhasil mengungkapkan perasaanku padanya”, gumamku dalam hati. Bonifasia menyadarkan kepalanya di bahu kananku sambil berkata “Dari tadi aku terus memperhatikanmu ketika engkau bernafas dan aku merasakan bahwa kau bernafas untukku juga” katanya sambil tertawa. Dia suka bercanda. Aku pun terdiam. Pikiranku menerawang jauh pada mega yang separuhnya telah menjadi jingga itu.

Jemari tangannya asyik membuat lubang kecil pada pasir, tanpa kata. Yang terdengar hanyalah suara gelombang serta desahan nafasku sendiri dan Bonifasia. Beberapa menit kemudian Bonifasia melanjutkan lagi pembicaraannya. “Hei, saat ini aku mau menceritakan persoalanku padamu. Engkau adalah satu-satunya yang kupercaya. Persoalan ini telah lama membelengguku. Aku bingung untuk memilih jalan yang tepat dari banyak jalan yang dihadapkan kepadaku.” Kemudian dia terdiam. “Siapakah aku ini sehingga dia mendatangiku dan mencurahkan isi hatinya?” tanyaku dalam hati.

Beberapa saat kemudian aku merasakan ada sesuatu yang membasahi tanganku. Bonifasia menangis. Air mata bening itu membasahi kulitku, meresap ke dalam pori-poriku dan mengalir deras di sekujur tubuhku. Begitulah bayanganku sejenak. “Aku menoleh ke arahnya dan kulihat air matanya mengalir lagi lalu terhenti sejenak pada lesung pipinya dan jatuh membasahi pasir. Dengan nada yang lembut aku berkata; “Ceritakan saja. Siapa tahu aku dapat membantu.” Dia pun mengusap air matanya dan menatapku sambil tersenyum. Seakan ada sesuatu yang dia harapkan dariku. Aku juga menatap kedua bola matanya dan berkata “Ceritakan sekarang karena di setiap air matamu tak kutemukan satu huruf atau kalimat yang dapat dieja dan aku pahami”.

*********

Tatapannya kepadaku mengandung sejuta harapan. Aku berharap pada diriku agar dapat memberikan jawaban kepadanya. Dia mulai menceritakan kisah hidupnya. Semenjak dilahirkan oleh ibunya, dia dipelihara oleh kakek dan neneknya hingga dewasa. Kedua orang tuanya pergi merantau di luar daerah. Bonifasia yang masih kecil pada waktu itu mendapatkan kasih dan sayang yang tulus dari kakek dan neneknya layaknya anak sendiri. Mulai saat itu pula dia memanggil neneknya mama dan kakeknya bapa. Semua nilai-nilai kehidupan ditanamkan dalam dirinya semenjak kecil agar kelak bisa menjadi manusia yang baik. Tetapi dia malah menjelaskan lagi bahwa bukan itu persoalan utama yang sedang dialaminya.

Kini Bonifasia telah menjadi perempuan yang menginjak usia dewasa. Paling tidak dia telah mengerti dirinya sendiri, orang-orang di sekitarnya dan hidup yang sedang dijalaninya. Lagi-lagi air mata membasahi pipinya. Dia berbicara dengan terbata-bata katanya, “Saat ini kedua orang tua dan kakek serta nenekku tidak akur seperti dulu lagi. Mereka memperebutkan aku. Hal itu terjadi ketika orang tua dan adik-adikku tiba di kampung. Aku bingung memilih yang mana. Mereka semua adalah orang yang berarti dalam hidupku dan….” Kata-katanya terputus lagi. Air matanya terus berderai.

Kini tatapannya tertuju pada hamparan laut yang luas itu. Mungkinkah ada sesuatu yang dia harapkan dari laut? Ataukah hanya sebatas tatapan kosong? Entahlah. Betapa bahagianya laut yang menjadi tujuan akhir dari semua muara kasih. Laut memberikan rasa pada setiap kasih yang tawar lalu menjadikannya tiada. Dia menoleh ke arahku dan kami pun saling berpapasan dengan jarak setipis kertas. Dia melanjutkan lagi; “Kini aku telah sampai di persimpangan jalan dan aku bingung pada jalan mana aku temukan perhentianku.” “Bagaimana menurutmu?’’ tanyanya lagi.

Aku tersenyum dan dalam hati berkata “Setiap perjalanan kita adalah perhentian-perhentian untuk sejenak berteduh pada kasih yang kita jumpai. Kita mengebas setiap butiran debu pada kaki kita sebelum sampai pada tujuan.” Aku meraih kedua tangannya  dan berkata “Engkau perempuan tegar. Engkau bersyukur karena pernah berjalan. Jika engkau tak pernah berjalan engkau tak akan melihat duniamu dan tak pernah sampai pada persimpangan. Cintai persimpangan itu.” Ekspresinya tiba-tiba berubah menandakan kebingungan dengan jawabanku. Dia balik bertanya “Maksudnya bagaimana? Aku bingung dengan jawabanmu.” Kemudian aku berdiri menghadap laut dan dia juga ikut berdiri di sampingku. Dia meraih tangan kananku dan bertanya lagi “ Bagaimana maksudmu?”

 

Aku mengubah arah pandangku ke matanya. Secara refleks kuangkat tangan kiri yang dari tadi berada dalam kantong celana jeansku hendak merangkulnya dalam pelukan kasih namun belum sempat tanganku menyentuhnya tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari belakang “nak, pulanglah. Hari hampir gelap. Sebentar lagi angin senja berhembus dan bayang-bayang berlalu.” Suaranya sendu. Kata-katanya berjuta makna yang tak habis ditafsir.

Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata itu dia si pak Amir, penjaga pantai. Bonifasia hanya tersenyum padaku dan aku berbisik kepadanya “Kembalilah ke sini lagi. Bukankah engkau membutuhkan jawabanku? Aku juga membutuhkan kehadiran dan semua pertanyaanmu.” Dia mengedipkan mata kirinya. Dari kisah hidupnya itu aku belajar banyak hal mengenai hidup yang penuh dengan kerumitannya masing-masing. Lalu kami berjalan pulang meninggalkan pantai dan senja dengan goresan kisah yang bermakna untukku dan mungkin untuknya juga. Mungkin.

 

Puncak Scalabrini, Maret 2020.

 

(Penulis adalah mahasiswa semester empat STFK Ledalero. Saat ini tinggal di Biara Scalabrinian, Maumere dan bergiat di kelompok sastra Jarum Scalabrini).

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: