(Cerpen) Pesan Dari Seorang Guru

(Cerpen) Pesan Dari Seorang Guru

Jingga meraja di ufuk barat. Semilir angin berhembus menyapa wajah-wajah lelah. Kulipat goni tempat ikan-ikan sungai yang sudah terjual habis. Orang-orang berkerumun menunggu robin yang akan mengantarkan kami pulang ke kampung. Di antara wajah orang-orang tadi ada satu wajah teduh yaitu wajah guruku, bu Aisyah, kami memanggilnya. Bu Aisyah tak sadar dengan keberadaanku karena ia sibuk merapikan belanjaan mingguan yang menyembul dari wadah plastiknya. Baru ketika ada seorang ibu yang entah mengeluh, entah bertanya pada bu guru Aisyah tentang robin yang di tunggu tak kunjung datang. Bu Aisyah memandang kepadaku dengan senyum khasnya, namun di telingaku pertanyaan seorang ibu tadi seperti kata hatiku yang juga gelisah menunggu.

“Pulang dari pekan juga, Din?” Tanya bu Aisyah padaku.

“Iya, Bu!” jawabku.

“Habis ikannnya, Din?” sambungnya.

“Alhamdulillah, Bu. Habis.” Sambil tersenyum aku menjawabnya. Bu Aisyah,seorang sosok guru idolaku. Wajahnya yang selalu teduh dan senyum khasnya yang selalu memberikan semangat dan motivasi pada kami anak-anak kampung agar tak patah semangat dalam mengejar cita-cita. Bu Aisyah pula yang telah memberikanku banyak kekuatan ketika hidupku seakan sirna saat ditinggal sosok Ayah.

Suara robin seakan memecah gelisahku. “Ayo… naik… hati-hati!” teriak ogek Sawal . kamipun bergegas menaiki robin yang sudah lama ditunggu-tungu. Robin bergerak laju menelusuri sungai  Lae Souraya.

“Lama kali, Gek, datang..,” sapaku pada Ogek Sawal.

”Beh, yang tak sabar kau rupanya!. Ya..habis minyak tadi… Leja keliling mencari solar baru jumpa di kedai Uan Haji Awal. Bagaimana habis ikan yang kau jual?” Tanya Ogek Sawal.

“Alhamdulillah, Gek.”.sahutku.

Berbinar rasanya hatiku membayangkan wajah bahagia emak ketika tahu ikan yang kujual telah habis. Setiap hari pekan, aku menjual ikan yang sudah kukumpulkan di dalam ember tampungan. Apabila ikan yang kujual tidak habis, Ibulah yang mengambil alih dengan menjadikan ikan sale atau ikan asap. Memang memerlukan proses yang panjang agar menjadi uang, nafkah untuk keluarga kami. Ikan yang sudah disiangi dan dibersihkan harus diasapi sampai berhari-hari dan benar-benar kering baru ikan sale tersebut siap dijual. Tidak sepraktis menjual ikan segar langsung dapat uang, jadi harus penuh kesabaran.

Azan magrib menyambut kami ketika turun dari robin. Kulihat bu Aisyah juga bergegas. Tak lupa ku salam bu Aisyah pamit berjalan dahulu menuju rumah. Ibu dan kedua adikku sudah menunggu di ruang tamu. Dengan senyum mereka menyambutku. Hari pekan adalah hari yang paling ditunggu-tunggu adik-adikku karena pasti selalu ada kue pancong kesukaan mereka.

” Bagaimana, Din?” Tanya ibu.

“Alhamdulillah, Bu.” Jawabku.

Ibu mengusap kepalaku dengan mata yang berbinar dan berkata, “Mandilah, Din. Biar kita sholat sama-sama”.

Akupun menuju kamar mandi kami yang berada terpisah di luar rumah dan maghrib itu terasa begitu sahdu dari biasanya.

Gemuruh bersahut-sahutan di langit. Gerimis riang menyapa setiap makhluk yang ada di bumi. Tak ketinggalan koor katak yang berebut mengisi pertunjukan malam ini. Dingin. Kutarik selimut. Lamunanku terbawa ke masa satu tahun yang lalu. Malam yang sama, dingin seperti ini ketika ayah yang kami tunggu-tunggu pulang dengan kondisi sangat lemah dibopong tetangga kami karena tersambar petir waktu mencari ikan. Hingga tak berapa lama kemudian nyawanya tak tertolong lagi. Ada hawa panas yang mengalir di pipiku. Aku rindu. Rindu sekali ayah. Dan malam itu kulalui dengan bayang ayah.

Bel berbunyi tiga kali kamipun berbaris di depan pintu kelas. Aku adalah salah satu murid kelas tujuh SMP Swasta Hamzah Fansuri. Kholik sahabatku yang menjabat ketua kelas menyiapkan barisan. Pagi ini dibuka dengan pelajaran Penjas pelajaran favorit kami. Hari ini kami akan bertanding bola kaki dengan kelas delapan sesuai janji Pak Adi, guru Penjas kami. Jantungku berdegup cepat. Ups… kutarik napas panjang. Bertanding dengan kelas delapan berarti juga bertanding dengan Irul kakak kelas yang selalu mengejekku. Si bau amis. Udin bau amis julukan yang selalu disematkannya padaku. Aku tak tahu kenapa ia selalu berbuat demikian padaku. Sabar. Ya, hanya sabar yang bisa kulakukan karena aku tahu dia adalah anak kepala kampung yang punya kuasa. Dan benar saja sepanjang pertandingan ia ingin memecah konsentrasiku dengan ejekannya. Aku tak terpengaruh dan pertandingan ini kami tutup dengan kemenangan kelas tujuh. Kamipun bersorak gembira.

“Hei, bau amis! Udin, bau amis..!” suara Irul mengejekku pada saat jam istirahat.

“Ada apa, Rul” jawabku.

“Jangan sok kali kau, ya. Jangan harap kau menang tanding bola berikutnya!” bentaknya.

Aku tak mau terpancing amarah. Aku hanya diam dan ingin berlalu. Tapi tangan Irul mencengkram leherku.

“Udin, si bau amis! Tak pantas kau menang. Coba kau tengok dulu sepatumu. Bolong dimana-mana!”

Degup jantungku melaju memicu darah mengalir deras. Ya, memang sepatuku bolong dimana-mana sehingga jempol kakiku terlihat jelas. Aku genggam tanganku meredam rasa yang ingin meronta keluar.

“Apa? Apa? Marah kau, hah?! Bau amis! Miskin..! Dasar yatim!” hardiknya.

Ahhkh…kukepalkan tinjuku dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Di ruang OSIS kami didamaikan oleh bu Aisyah. Saat ku tatap wajah keibuannya ada rasa bersalah terselip di hatiku. Kenapa aku tidak bisa sabar seperti biasanya. Di sisi lain hatiku meradang. Boleh saja Irul memanggilku amis. Udin amis. Tapi jangan jadikan yatimku sebagai ejekan karena aku juga tak menginginkannya. Sekelebat bayangan ayah muncul di pikiranku berganti dengan wajah lebam Irul. Bu Aisyah menasehati kami berdua, matanya berkaca-kaca dan rasa sesalku pun datang meraja.

Sejak kejadian itu Irul tak lagi menggangguku. Ada perasaan lega dan aku tak perlu melihat kecewa di mata guru yang selalu memberikanku semangat dan nasihat. Bu Aisyah, bagiku lebih dari sekedar guru. Dia selalu sabar menghadapi segala kenakalan kami. Saat menasihati kami tak lekang senyum khasnya. Senyum yang sama seperti milik ayahku. Dulu ayah selalu menasehatiku sambil tersenyum. Tak ada kata-kata kasar apalagi kekerasan. Ada perasaan damai mendengar nasihatnya.

Kalau kuingat dulu pernah aku membuat ayah sangat marah. Waktu itu, aku dan Apri, adikku pulang sekolah melewati ladang Adong Siti. Saat itu musim durian. Kami menemukan sebuah durian jatuh dam membawanya pulang ke rumah. Awalnya aku mau mengantarkan durian tadi ke rumah Andong Siti. Tetapi karena baunya yang begitu menggoda dan rengekkan adikku untuk memakannya, akhirnya durian tadi kami bawa ke rumah kami.

Ketika kami tiba di rumah bayangan makan durian sirna. Ayah marah karena tahu durian ini kami dapat tanpa izin pemiliknya dan menyuruh kami mengembalikan durian tadi ke rumah Andong Siti. Tak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulut ayah tapi aku tahu ayah marah karena rahangnya mengeras. Masih dengan senyum ayah berkata tak usah makan durian kalau dari mencuri. Tapi, selepas kami pulang mengaji dari surau, tercium bau durian dari dapur. Ternyata Ayah sudah membelikan durian untuk kami. Ayah, kenapa cepat sekali engkau pergi. Akh… kuberharap tak ada lagi caci karena kepergianmu. Tak ada lagi yang mengejekku dasar yatim…! Mereka tak tahu rasanya hati ini bagai terkuliti.

Sekumpulan burung pipit berlomba pulang ke sarang. Sang mentari masih menampakkan keanggunannya sebelum pamit keperaduan. Perpaduan warna jingga dan merah berkuasa di barat. Derasnya arus sungai Lae Souraya berlomba dangan denyut kehidupan di atasnya. Sesekali tubuhku terguncang karena robin yang kutumpangi beradu dengan kayu yang hanyut. Senyum mengembang dari bibirku membayangkan kedua adikku dengan girang menyamputku sambil berteriak kue pancong-kue pancong. Suara mengaji terdengar dari pengeras suara menyambutku pulang dari pekan. Senyum ibu terkembang melihatku dan ibu mengatakan ada bingkisan di kamar diantar oleh Kholik sahabatku siang tadi. Bingkisan batinku, .aku tak sabar menuju kamar. Kulihat sebuah kotak berbungkus rapi, tak ada nama pengirim. Langsung kubuka dan ternyata isinya sepasang sepatu baru, sebuah kartu terselip dalam kotak.

“Tetaplah tersenyum dan raih mimpimu! Tak ada keterbatasan yang dapat menghalangi langkahmu. Yakinlah pada kuasa-Nya!” tertanda gurumu, bu Aisyah. Bulir-bulir hangat menetes di pipi cepat-cepat kuhapus. Aku tak boleh cengeng. Pesan dari bu Aisyah akan tetap kuingat. Dalam hati aku berjanji akan terus meraih mimpi demi ibu dan adik-adikku.

 

Keterangan :

Robin              : Transportasi sungai / sampan yang dilengkapi mesin motor

Ogek,Gek        : Abang

Uan                 : Kakek

Leja                 : Capek

Adong              : Nenek

Beh                  : Ya / Hah

Kue pancong   : Kue yang dipanggang dicetakan terbuat dari tepung,gula dan kelapa

Ikan Sale         : Ikan yang dikeringkan dengan cara diasapi

Tentang Penulis

Seriana adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Penanggalan Kota Subulussalam Propinsi Aceh. Ia lahir di Tandem Hilir II Deli Serdang pada tanggal 23 Oktober 1984.

Alamatnya di Dusun Suro Kampung Sukamakmur Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam Propinsi Aceh.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: