Cerpen – Pulau Nelayan

Cerpen – Pulau Nelayan

Oleh : Apriadi*

 

Membuka mata dari tidur yang hanya sebentar ini membuat mataku sedikit merasa perih. Kilauan sinar mentari masuk melalui lubang-lubang dinding anyaman bambu kamarku. Memang rumah kami dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang aku ingat sendiri waktu itu tiap setahun sekali ayah menggantinya dengan anyaman bambu yang baru. Ayah mengerjakannya disela-sela aktifitasnya melaut karena pada waktu  itu musim gelombang tinggi di Kepulauan Ujung Barat pulau Kalimantan, dan itu terjadi pada bulan November sampai dengan akhir januari.

Kampungku adalah kampung nelayan. Hampir mayoritas penduduk kampung ini berprofesi sebagai nelayan. Melaut adalah aktifitas pekerjaan ayah dalam mencukupi kebutuhan keluarga kami, sedangkan ibu juga bekerja sebagai pembuat ikan asin. Apabila hasil tangkapan ayah tidak laku dipasar maka ibu akan membuatnya menjadi Ikan Asin untuk dijual ke kota dengan cara dikemas kedalam karung plastik besar.

Namaku  adalah Ihsan berumur 17 tahun, anak satu-satunya di keluarga kami. Memang betul aku tidak bersekolah, aku hanya menjalani sistem Paket A, B dan C yaitu penyetaraan tingkat pendidikan dasar dan menengah. Untuk merasakan pelajaran dari seorang guru disekolah saja aku tidak pernah, Maka aku hanya belajar membaca dan menghitung dari kakak sepupuku yang bernama Ahmad yang sudah sarjana, ia dulu juga mengambil sistem paket untuk pendidikan dasarnya . Mungkin karena kampung kami jauh dari keramaian. Kampung kami hanya sebuah pemukiman nelayan kecil di sebuah pulau bernama pulau “Meresak” aku pun tidak begitu tahu mengapa orang zaman dahulu memberi nama pulau ini dengan nama seperti itu, dari cerita yang kudengar dari orang-orang tua di kampung bana Meresak berasal dari seseorang yang pertama membuka perkampungan di pulau ini akibat ia tersesat dilaut dan menemukan pulau tak berpenghuni, akibat perahu yang dipakainya rusak ia hanya hidup sendirian di pulau ini dan tiap hari merasa terdesak dengan bahan makanan yang kurang dan pada malam hari terdesak dengan binatang buas,  maka dari itu penduduk kampung menamakan kampung ini menjadi kampung meresak.

Hidup jauh dari keramaian kota membuat aku berandai-andai, apa rasanya hidup di kota, disana ada listrik, kendaraan darat. Lain hal disini hanya ada kapal motor nelayan, saat membuka mata keluar rumah hanya pemandangan laut lepas tak bertepi dan desiran ombak gagah menggulung. Hingga suatu ketika aku ingat kejadian itu, yang membuat keluargaku tidak melaut lagi, bahkan hampir para buruh nelayan tidak melaut. Kejadian itu bermula ketika pada suatu pagi yang cerah, gelombang dilaut pun alun menggulung.  Aku pada saat itu membantu ibu menjemur ikan diatas tempat khusus untuk mejemur di depan rumah. Tiba-tiba terdengar suara kapal motor yang berbeda dari kapal motor yang disewa nelayan, karena suara motor itu halus dan tidak berisik.

Aku dan ibu berjalan melihat siapakah yang datang menggunakan kapal pesiar kecil bermesin aneh itu. Aku bertanya kepada ibu.

“Bu, siapa yang datang ya bu? Apakah itu orang kaya yang bagi-bagi uang kepada penduduk.
Aku yang pada saat itu bertanya seperti itu kepada ibu.

“Ibu tidak tau nak, siapa itu. Mudah-mudahan hanya utusan pemerintah ingin membangun gardu listrik dipulau kita.

Terlihat raut wajah ibu sedikit ada keraguan dan penuh kehawatiran seperti bakal ada gelombang Tsunami menghantam pemukiman kami dipulau ini.

Juragan kapal di pulau ini adalah yang meyambut tiga orang yang turun dari kapal mewah itu.

Sebelumnya aku ceritakan, bahwa para nelayan disini sebagian besar perahu yang mereka gunakan untuk melaut mencari ikan adalah perahu sewaan yang di disewa dari Drajat.

Selelah disambut oleh drajat, para tamu yang berjumlah tiga orang yang hampir semuanya berbadan gemuk dan putih kulitnya, berjalan-jalan disepanjang bibir pantai di iringi Drajat, kulihat dari kerumunan orang yang berkumpul mengagumi kapal putih besar itu.

Para tamu dan Drajat sambil menunjuk-nunjuk arah bukit dan menunjuk sepanjang pantai. Aku tidak tahu apa maksudnya pada saat itu. Hanya terlintas dipikiran seperti apa yang dikatakan ibu, bahwa mereka akan membuat pembangkit listrik di pulau kami, sehingga aku bisa nonton Televisi nantinya dan tidak lagi bertemankan pelita minyak tanah dan obor tiap malam di rumah.

Setelah keesokan harinya seperti biasa aktifitas dipagi hari aku bangun sekitar pukul tujuh pagi, tanpa mencuci muka terlebih dahulu dan meyikat gigi terlebih dahulu aku lansung menuju ke teras rumah. Yang membuatku heran mengapa ayah tidah melaut seperti biasanya ia turun melaut sekitar pukul empat pagi. Pagi itu ayah dan ibu duduk di teras rumah saling berdiam diri tak ada sepatah katapun dari mereka berdua seperti baru habis bertengkar.

Aku yang kebingunagan melihat tingkah mereka berdua lalu menghampiri ibu, karena tidak berani dengan ayah.

Bu, ada apa, kok sepi sekali hari ini? Tidak ada nelayan melaut dan tidak ada suara kapal motor lewat?

Padahal niatku adalah mengapa ayah hari ini tidak melaut seperti biasanya?

Ibu masih saja diam dan hanya tersenyum. Aku sendiri tahu itu adalah senyum yang dipaksakan ia berusaha mengangkat alis sedihnya dengan berat supaya terlihat bahagia dan dengan niat menenangkanku.

Disini akan dibangun Pabrik Bauksit !

Aku terkejut, tiba-tiba ayah yang sejak tadi diam dengan tatapan kosong kearah laut mengucapkan hal itu,

Bauksit itu apa yah?

Bauksit bahan dasar pembuatan Alumunium dan Besi.

Dengan pengetahuan seadanya, ayah menjelaskan hal itu kepadaku yang belum mengerti sedikitpun tentang hal itu.

Ternyata kedatangan orang-orang beberapa hari yang lalu ditemani oleh Drajat adalah orang-orang dari kota yang ingin membangun tambang Bauksit di pulau ini, karena di Pulau Meresak ini beberapa tahun yang lalu telah dilakukan penelitian bahwa di Pulau ini terdapat bahan pembuatan Alumunium dan Mineral lainnya, dan Drajat secara sepihak menyetujui rencana pembangunan Pabrik tersebut tanpa berkompromi dan Sosialisasi kepada penduduk kampung.

Tanpa sengaja aku mendengar percakapan ibu dan ayah  tadi malam dari kamarku, karena dinding kami hanya dipisah dari anyaman bambu yang berlobang sehingga terdengar jelas percakapan antara ibu dan ayah.

Dipagi hari nya dengan malas aku beranjak dari tempat tidur yang tidak beranjang dan hanya sekeping tilam kabu-kabu yang sudah keras bergelombang. Mengingat percakapan Ayah kepada ibu tadi malam membuatku berpikir jau kedepan. Jika dibangun pabrik di kampung ini maka, nelayan tidak akan melaut lagi karena di pulau yang tidak terlalu luas ini akan dipenuhi tongkang dan kapal-kapal besar, laut tercemar, ikan-ikan akan lari jauh dari sekitar pulau. Dari kejadian ini aku teringat dengan Mas Hendri dan kawan kawan Mahasiswanya yang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di pulau kami setahun yang lalu. Mas Hendri mengatakan

“San, Pemandangan di pulau ini indah, apalagi pada saat matahari tenggelam. Kalianlah para Generasi Muda harus menjaga dan melestarikan alam tempat tinggal kalian ini, dengan menjaga terumbu karang, dan melarang nelayan menggunakan pukat harimau yang berbahaya bagi Ekosistem di dalam laut sekitar pulau.

Mas Hendri inilah yang memotivasiku supaya sekolah dan pergi ke kota dengan mengejar program Paket A setara Sekolah Dasar. Dari teman-teman Mahasiswanya juga Aku dan teman seumuran diajarkan membaca. Sayangnya kegiatan mereka di pulau ini hanya berselang Enam bulan, dan pada saat itu sebagai hadiah perpisahan mereka meninggalkan beberapa Kardus Besar berisi buku-buku pelajaran dan jenis buku lainnya sebagai program dari Kampus mereka.

Setelah mandi dan berpakaian seperti biasa pagi harinya aku bergegas menuju pendopo, pendopo ini adalah suatu tempat berkumpul,berdiskusi di kampungku. di pendopo ini tersedia lengkap bahan bacaan, buku-buku bagi penduduk, buku-buku tersebut diperoleh dari bantuan Pihak kampus Mahasiswa yang KKN tahun lalu. buku-buku yang terdapat di pendopo tersebut mulai dari buku tentang Alam, filsafat sampai tentang Hukum. menyusuri jalan setapak kampung ini membuatku semakin perihatin dan mengandai-andai hingga terlintas dibenakku

“Apakah yang dilakukan Drajat ini bertentangan dengan Hukum?

berjalan sejauh lebih kurang tiga ratus meter ini membuat betis sedikit pegas dan keringat bercucuran didahi, ditambah dengan sengatan matahari yang luarbiasa. terlihatlah pendopo tersebut, bangunan persegi beratapkan daun nipah dan tiang dari kayu meranti bangunan ini tanpa dinding, dan yang berdinding hanya tempat dan ruangan bagian penyimpanan buku. ada hal menarik yang kulihat setibanya di pendopo ini ternyata ramai sekali orang yang berkumpul, bukannya para orang tua tatapi para remaja dan pemuda kampung yang berkumpul, mungkin lebih dikatakan berdiskusi, tampak bang Ahmad sebagai pembicara. mereka duduk membentuk setengah lingkaran membuatku terheran-heran, aku menduga mereka mempunyai masalah sepertiku. dengan langkah kontai aku mengucapkan salam kepada mereka

Assalamualaikum

Wa’alaikumsalam, sahut orang-orang yang ada

“Masuk, kata bang Ahmad,

Ahmad ini adalah abang atau kakak sepupuku dari pihak ayah. dia adalah sarjana dan salah seorang pemuda banggaan kampung ini. karena Ahmad yang kudengar dari orang-orang semasa kuliah adalah seorang Aktifis Kampus yang cukup terkenal dalam berorasi.

“sini, kata Ahmad

“iya bang.

“ada masalah apa kamu kesini?

“ah enggak, aku  cuma mau membaca saja, eh, rupanya banyak orang yang lagi ngobrol disini

dengan sedikit senyum terpaksa aku menjelaskan maksudku datang ke pendopo kulihat ahmad seperti biasa senyum dengan mata terpejam tanda bersikap ramah kepada siapa pun,

“duduklah disini dulu dengarkan percakapan kami ya

“aku hanya mengangguk saja

Ahmad memulai kembali percakapannya dengan orang-orang entah apa yang mereka bicarakan, hingga aku mendengar dan aku akhirnya mengerti ternyata mereka juga membahas tentang pengaduan dan keluhan masyarakat kampung tantang rencana akan dibangunnya pabrik Bauksit. mereka juga membahas Drajat telah menerima suap dari para bos-bos calon pemilik pabrik tersebut dengan tujuan supaya proses perizinan pembangunan berjalan dengan lancar, bukan hanya itu yang kudengar dari percakapan mereka bahwa Drajat telah membuat pernyataan persetujuan palsu bahwa masyarakat telah bersedia untuk dibangunnya pabrik dikampung ini. jangankan persetujuan, bersosialisasi dengan masyarakat dan tetua kampung saja tidak ada.

ini penuturan sendiri dari anak dari pembantu Drajat dirumahnya. ia mendengar orangtuanya bercerita. menurut Ahmad ini merupakan salah satu Tindak Pidana Korupsi.

“Drajat telah melakukan tindakan-tindakan terlarang yang sudah jelas melawan hokum dan merugikan orang lain karena telah menerima suap dari seseorang atau oknum . tutur Ahmad dengan tegas

“beberapa orang yang hadir dalam diskusi tersebut aling pandang dan mengangguk saja

“baiklah, kita harus menentang kegiatan haram ini, kita sebagai pemuda harus melawan tidakan yang merugika ini, korupsi harus diberantas, kasihan kepada penduduk kampung yang tidak tahu menahu tentang rencana Drajat ini. besok kita akan mengadakan orasi di depan rumah drajat, kita menuntut ia untuk mengakui segala perbuatannya. siapa yang setuju ?

“Saya

“iya

tampak semua yang hadir mengacungkan tangan keatas tanda setuju. aku yang pada saat itu duduk diam. seakan-akan berkobar semangat untuk menentang korupsi, dan yang pernah diceritakan oleh bang ihsan mahasiswa KKN dulu, beliau menceritakan tentang Soekarno, bahwa Soekarno adalah seorang orator ulung yang bisa membuat masyarakat dan orang yang tidakk bersemangat jadi bersemangat karena mendengar pidatonya dan ini yang kurasakan selepas mendengar pernyataan Ahmad tadi.

kesokan harinya aku dengan berjalan agak cepat, berusaha tepat waktu hadir di pendopo dan ternyata para pemuda yang lebih kurang berjumlah belasan orang telah berkumpul untuk bersama-sama menuju rumah Drajat.

“sudah siap kau dik? kata Ahmad

“siap bang, hehe…

dengan senyum cengengesan aku menjawab

mereka mulai berjalan menuju rumah Drajat dan setibanya dirumah Drajat, rumah yang tergolong bagus diantara rrumah penduduk kampung ini sedang sepi, halaman tampak lengang. tapi orang-orang tahu bahwa ia pasti ada dirumah.

Dengan berbekal spanduk yang dibuat dari kain bekas dan cat bekas kapal, bang Ahmad selaku orator lansung menyuarakan opini nya terhadap apa yang dilakukan oleh Drajat, dengan berteriak didepan rumah Drajat

Pada saat itu menurutku tidak terlalu mengerti apa yang diucapkan Ahmad, pada tiap akhir kalimat yang diorasikannya dilanjutkan dengan kata “iya betul” dari para warga yang berada di belakang Ahmad.

Setelah berselang sekitar satu jam,  keluar pembantu atau bisa dikatakan sebagai bibi penunggu rumah Drajat dengan wajah ketakutan karena melihat para warga sudah berkumpul didepan rumah dengan membawa atribut lengkap. Aku yang hanya berdiri diam sambil memperhatikan sekitar.

Ahmad tampak berjalan ke depan menghampiri bibi penjaga rumah drajat tersebut terlihat mereka sedang berbicara dengan masih terlihat ketakutan dari wajah si bibi. Ahmad mulai berbicara dan ia mengatakan bahwa Drajat tidak ada di rumah dan sedang berada di kota.

Tampak wajah-wajah para warga terlihat kecewa dan berduyun mereka mulai meninggalkan pelataran rumah Drajat. Setibanya kembali di pendopo Ahmad mengatakan bahwa hal ini harus dilaporkan ke pihak yang berwajib, ia berencana untuk ke kota.

Setelah beberapa bulan kemudian entah apa yang dilakukan ahmad, pada saat ia kembali ke desa dan membawa koran daerah, pada koran tersebut berisi tentang penangkapan Drajat karena telah menyalah gunakan wewenang, terbukti menerima suap dari PT. Yoki dan mendapatkan sebuah rumah diperumahan Elit di kotadan  menipu warga melakukan tindak pidana korupsi.

Para warga yang mendengar berita tersebut tampak senang dan bersyukur, pabrik yang berada di desa juga akan ditutup karena memiliki izin ilegal. Pada saat itu ku mulai mengerti dari kejadian ini bahwa segala sesuatu harus diperjuangkan, duduk menunggu menyerah pada nasib juga sesuatu yang tidak dibenarkan.

 

 

 

*APRIADI (Seorang pendidik yang berasal dari Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat yang hobi menulis Fiksi, Alumni IAIN Pontianak)

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: