(Esai) Adanya Oligarki Kesusastraan Dunia

(Esai) Adanya Oligarki Kesusastraan Dunia

Oleh Muakhor Zakaria  *

Setelah Toni Morisson meraih nobel sastra di tahun 1993, tidak pernah ada lagi penulis Amerika yang meraih nobel selama kurun waktu seperempat abad (25 tahun). Kalaupun Bob Dylan sempat dianugerahi nobel sastra di tahun 2016, itu pun bukan karena prestasinya sebagai sastrawan melainkan hanya sebagai musisi dan penulis lirik lagu. Persoalan ini menimbulkan polemik dan tanda tanya besar dalam dunia kesusastraan hingga saat ini.

Salah seorang panitia nobel di Swedia, Horace Engdahl pernah mengungkapkan salah satu alasan yang sangat kontroversial di mata dunia: “Itu kesalahan Amerika sendiri yang terlalu mengisolasi diri. Banyak penulis Amerika yang picik, mereka menolak terlibat dalam dialog kesusastraan dunia yang mengglobal tanpa batas, juga tak pernah serius menerjemahkan dan memperkenalkan sastrawan-sastrawan muda ke publik kesusastraan dunia. Sikap yang tidak bertanggungjawab inilah yang memenjarakan Amerika sendiri.”

Ungkapan yang terang-terangan disampaikan di hadapan para sastrawan itu sontak membuat para penulis dan intelektual Amerika kebakaran jenggot. Ditambah lagi pernyataan yang terang-terangan disampaikan di hadapan wartawan menjelang penganugerahan nobel beberapa waktu lalu: “Kursus menulis kreatif yang sering diselenggarakan lembaga-lembaga sastra adalah salah satu penyebab tumpulnya kesusastraan Barat (Amerika dan Inggris).”

Mari kita uraikan pernyataan yang kontroversial dari panitia nobel sastra tersebut secara arif dan bijaksana. Perkara minimnya terjemahan karya sastra di negeri adikuasa tersebut berbanding lurus dengan menjamurnya kursus-kursus sastra di Amerika dan Inggris, juga di Indonesia yang disponsori oleh kedutaan mereka. Secara eksplisit, Engdahl menegaskan bahwa maraknya pelatihan dan kursus penulisan kreatif, adalah biang kerok yang menyebabkan tidak adanya kreativitas masyarakat yang dilakukan secara independen berdasarkan hati dan jiwa-jiwa yang merdeka.

Oleh karena itu, karya-karya yang muncul, khususnya dari negeri-negeri dunia ketiga – yang disponsori oleh mereka – hanya berkutat di wilayah kurikulum sekolah, dan hanya akan menjadi formula penulisan yang melahirkan keseragaman selera dan cita-rasa. Inilah bahayanya studi-studi sastra yang dipropagandakan Amerika dan Inggris, suatu keseragaman yang menimbulkan dampak negatif yang sangat merugikan bangsa ini. Sampai-sampai kita kesulitan menyimak dan mencerna kekayaan khazanah sastra dari negeri-negeri lain, seperti Jerman dan Prancis, Afrika, Jepang, terlebih lagi sastra Timur-Tengah. Ironis sekali, bahkan sastra Arab pun tak mampu kita simak, semisal karya Najib Mahfudz (Mesir) atau Orhan Pamuk (Turki). Padahal negeri ini dikenal sebagai muslim terbesar yang mendasarkan diri pada literatur kitab suci dan hadits Nabi berbahasa Arab.

Mohon maaf, jika saya menyampaikan gugatan yang dinilai tendensius, mengingat perjalanan mengarungi dunia sastra Eropa hingga Asia Tenggara, saya menghadapi problem dalam siklus dan belenggu yang sama. Buruknya hasil terjemahan dari bahasa asing, selera membaca yang sangat minim, dan inilah yang menyebabkan banyak penerbit independen (semisal Hasta Mitra yang banyak mengedit karya-karya Pramoedya) merasa kesulitan mencari penulis-penulis muda berbakat, karena keseragaman yang dipropagandakan Amerika-Inggris (Anglophone).

Kita mengenal bahasa Inggris sebagai lingua franca di mana kehidupan sehari-hari mengenai politik, ekonomi, teknologi, jurnalistik – termasuk sastra – seakan-akan menjadi rumus umum, bahwa setiap karya sastra yang akan mendunia mesti dibahasakan dulu ke dalam bahasa Inggris. Setidaknya, dengan sistem sublisensi dari penerbit yang menancapkan kaki di kedua negara Anglophone tersebut.

Tetapi fakta di lapangan, dengan posisinya sebagai lingua franca, Inggris dan Amerika (yang juga berbahasa Inggris) memiliki tradisi penerjemahan karya asing yang sangat minim ketimbang kreativitas negera-negara Eropa seperti Jerman (Frankfurt) dan Prancis. Sungguh menyedihkan, posisi Inggris yang mestinya berfungsi sebagai “kiblat” dan referensi kesusastraan dunia, ternyata sangat terbelakang dari sisi penerjemahan karya asing, dan sangat tertinggal jauh dengan pesatnya kesusastraan dan penulis-penulis muda di Eropa.

Pada saat mahasiswa-mahisiswi Eropa berjibaku meneropong dan menganalisis beberapa karya sastra Indonesia yang banyak dibahas di harian-harian nasional dan media daring, justru lembaga-lembaga sastra kita malah asyik masyuk ke dalam belenggu dan siklus buatan pemerintah yang disponsori kedutaan yang notabene adalah kaki-tangan Amerika dan Inggris juga. Padahal, mereka terang-terangan menampilkan diri selaku induk-semang dari oligarki dan imperialisme kesusastraan global.

Kapan kita mau mandiri? Kapan kesusastraan kita mau maju, kalau disibukkan dengan lisensi dan segala tetek-bengek aturan yang diseragamkan secara sentral dari sang induk-semang? Apa bedanya dengan soal-soal sastra dan bahasa Indonesia dalam Ujian Nasional (UN) yang disentralkan dari Jakarta, lalu menuntut anak-anak pelajar Papua hingga Aceh, Baduy hingga Dayak, agar menjawab soal-soal yang sudah diseragamkan dari pusat, tanpa ada pengecualian?

Dalam salah satu riset yang dilakukan Universitas Rochester (New York), yang kemudian merilis proyek yang bernama Three Percent (sejak 2007), suatu istilah yang sebenarnya mengandung pelecehan terhadap minimnya hasil terjemahan berbahasa Inggris yang hanya mencapai 3 persen saja dari semua jenis buku di dunia. Bayangkan, kalau saja kita pecahkan dari jenis buku sastra yang terbagi ke dalam novel,  puisi, cerpen, drama, hingga kritik sastra, maka angka itu hanya mencapai 0,7 persen saja. Suatu angka yang tentu saja sulit diandalkan jika Indonesia mengacu dari bahasa Inggris sebagai rujukan kesusastraan dunia.

Lalu apa yang mesti kita tunggu? Dan apa yang harus kita lakukan? Jawaban yang masuk akal, belajarlah dari jejak-langkah Pramoedya Ananta Toer sebagai satu-satunya novelis Indonesia yang pernah beberapa kali masuk nominasi nobel. Di hadapan penulis novel Pikiran Orang Indonesia, di sela wawancara untuk penulisan buku 100 Tahun Bung Karno (Liber Amicorum) Pramoedya sempat berujar bahwa karya-karyanya baru dibaca orang belasan tahun setelah penulisannya. “Jangan terlalu bergantung pada atasan, dan jangan berharap banyak pada suatu instansi dan lembaga apapun. Kerjakan apa yang mesti dikerjakan, dengan kesungguhan hati!” tandas Pram.

Secara eksplisit Pramoedya menganjurkan kemandirian dan independensi dari sikap dan karakter penulis kita. Biarkan diri Anda menjadi cermin yang mati tak bernyawa, namun masih memancarkan sinar terang keindahan. Ketimbang mereka yang suka berkoar dan bergerombol, tapi perannya tak beda jauh dengan domba-domba gemuk yang siap disembelih untuk mengisi perut-perut buncit majikannya. *

 

*Pengamat sastra mutakhir Indonesia, dosen perguruan tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Banten Selatan.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: