(Esai) Pendatang Baru yang Mencengangkan

(Esai) Pendatang Baru yang Mencengangkan

Muhamad Thorik

Peneliti Program Historical Memory Indonesia

Jangan bicara soal wibawa dan kharisma. Orangnya kelihatan aneh, agak culun, sepintas orang lain menganggapnya tak punya harapan akan masa depan. Dia bukan tipikal penyair seperti yang tergambar dalam novel Perasaan Orang Banten, yang suka kegenitan, bahkan terjebak pada keangkuhan intelektual. Tapi siapa menduga, dalam pikiran orang ini tersimpan cita-cita setinggi langit, yang bahkan keluarganya sendiri pun tak bisa menangkapnya.
Dialah Zinedine Zidane. Ketika tampil di tengah lapangan ia mengenakan senjata perdamaian, menciptakan gelora permainan yang puitis, bahkan memanusiakan para pesepakbola dunia. Seperti halnya novelis Mesir yang digemari Gus Dur, Najib Mahfudz, ia tidak banyak bicara, namun kalbunya bicara dengan semua orang. Seperti biasa ia nongkrong di warung kopi, tak banyak orang mengenalnya, tetapi setiap detil peristiwa mengalir dalam jiwanya, menciptakan susunan kata dan kalimat dalam ruang-ruang imajinasinya.
Begitupun Zidane, ia lebih mirip sebagai penari Prancis ketimbang pemain sepakbola. Ia menebarkan benih-benih positif yang ketika masuk ke tengah lapangan, sepuluh pemain lainnya tersirami kedamaian, kekaguman, dan semangat motivasi yang mengilhami relung-relung kalbu mereka.
Dari perspektif lain, saya pun teringat kata-kata penulis kelahiran Cilegon, Banten, yang tiba-tiba memunculkan novel berjudul “Pikiran Orang Indonesia”. Ia bicara soal pengendapan pikiran dan perasaan. Ketika semua orang mengejar popularitas yang instan dan semu, ia menarik diri untuk mencapai sublimasi, sampai akhirnya masuk ke tengah lapangan permainan.
Selama ini, ia menjatuhkan pilihannya untuk mengasah kualitas diri, ke dalam, bukan ke luar. Orang yang mengenal dirinya – boleh jadi tak banyak – tentu memahami ia punya ambisi, pengetahuan dan teknik yang jitu dalam mengolah kata. Ia membuat diksi bergerak ke mana saja sesuai dengan perasaannya. Ia memahami bahwa bahasa bukanlah logika yang formalistik belaka.
Semua orang tahu, tentu ia juga punya masa lalu, sebagaimana Zidane punya masa lalu. Ia punya pengalaman kepedihan, kegetiran dan absurditas kehidupan. Tetapi, apakah penting membesar-besarkan masa lalu yang nelangsa, ketika kita tak mampu membeli sepatu sepakbola, sementara di sisi lain tidak sedikit orang-orang yang tak mempunyai kaki.
Ketika tampil ke tengah lapangan, ribuan penonton tersenyum gembira. Mereka bukan hanya menyaksikan keindahan Zidane menari di tengah lapangan, tetapi juga terinspirasi oleh kata-kata Zidane di koran-koran, majalah, siaran televisi dan internet. Rasa syukur yang dipancarkan itu menorehkan garis, komposisi dan warna tersendiri, menciptakan pesona kerasulan yang menjiwai rasa syukur dan kesabaran yang tinggi.
Proses kreatif untuk penulisan novel Pikiran Orang Indonesia sebegitu adanya. Dalam penuturan penulisnya, ia pernah mengadakan penelitian historical memories, menghimpun naskah dan rekaman ratusan korban-korban yang dipulangkan dari tahanan politik Orde Baru selama puluhan tahun. Untuk penulisan buku 100 Tahun Bung Karno (Liber Amicorum), ia pun bekerjasama dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Noam Chomsky, Ben Anderson hingga Peter Dale Scott. Bersama Pramoedya, ia pun menuliskan artikel panjang dengan judul, “Semua Lawan Bung Karno Sekarang Terseret ke Meeja Mahkamah Sejarah” (Hasta Mitra, Jakarta 2001).
Tidak menutup kemungkinan para seniman dan sastrawan juga yang terlampau masuk sebagai anak-anak emas dewa kemenangan, lalu menjadi pengikut setia Orde Baru – terutama yang senior – bersiap-siap saja menghadapi era generasi milenial yang tanpa tendeng aling-aling. Mereka akan membuka segala hal yang selama ini dianggap tabu untuk dipersoalkan.

      Mereka akan leluasa membuka problem politik 1965 dalam kacamata sejarah masakini, yang diprediksi banyak kalangan sebagai problem terbesar yang akan menjadi tema sentral dalam khazanah sastra Indonesia hingga seratus tahun ke depan…. ***

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: