(Esai) Sastra: Kecerdasan Mengidentifikasi Diri

(Esai) Sastra: Kecerdasan Mengidentifikasi Diri

–         CHUDORI SUKRA

–         Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), Jakarta

 

Itulah tahun-tahun tumbuhnya bunga-bunga semerbak yang tercabik-cabik, saat pohon-pohon nyiur tegak menjulang tinggi, daunnya indah melambai-lambai, sebelum akhirnya tumbang karena sambaran petir. Pemandangan dan kenangan pahit itu begitu menghujam di sekujur tubuh. Ketika mayat-mayat dibiarkan mati terkapar, laiknya ayam-ayam tergeletak di depan pintu lumbung yang terkunci. Fajar kelam yang mematikan, mata air sebuah sumur yang terpercik darah.

Saya masih ingat ketika gagak-gagak hinggap di bubungan rumah, suaranya bersatupadu dengan tangis anak bayi yang baru lahir. Kain putih yang terpotong dua antara kafan dan popok bayi. Ya, di tahun-tahun itulah kesendirian yang asing begitu mencekam karena ganasnya bisu, kekeluan lidah dan keterkatupan bibir. Saat lahirnya anak-anak yatim yang tak terurus, dan siap menyongsong masadepan Indonesia dengan benih cinta dan dendam. Juga masih ingat ketika saya menyaksikan seorang ibu yang berteriak-teriak tanpa suara, karena anak satu-satunya telah mati terbunuh dalam suatu aksi kerusuhan dan penjarahan massal.

            Paragraf-paragraf awal dari novel Pikiran Orang Indonesia (POI), membawa pembaca kepada situasi yang khaotik, absurd, seakan tidak masuk akal. Hal itu bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kerusuhan Mei 1998, saat anak-anak muda Indonesia berdemonstrasi hendak menurunkan rezim militerisme Orde Baru pimpinan Soeharto, yang berkuasa selama 32 tahun. Ketika kita membaca beritanya, muncullah perasaan kesal, marah, bahkan rasa muak. Meski pada akhirnya, kita menyadari bahwa segala sesuatu bisa terjadi dalam kehidupan yang fana ini.

Tetapi, seandainya realitas yang terjadi ingin disampaikan dalam bentuk karya sastra, atau cerita fiksi, sang penulis mesti bekerja eksta keras, dengan penuh ketelitian dan kecermatan berpikir. Peristiwa tragis itu mesti dijelaskan secara runtun, khususnya menyangkut motif, latarbelakang kejadian, para pelaku, termasuk sistem nilai dalam masyarakat tempat peristiwa itu terjadi. Dengan cara-cara seperti itulah, sebuah cerita fiksi dalam karya sastra, bisa dipahami oleh nalar dan akal sehat.

Kenyataan hidup yang kita saksikan secara tiba-tiba, baik kejadian sederhana maupun berat, seperti maling ayam yang dipukuli massa, koruptor yang lari ke luar negeri, atau mahasiswa yang tertembak aparat, seakan-akan tidak memiliki kaidah yang harmoni, senyawa, dan saling berkaitan. Hal itu mungkin terjadi dalam realitas kehidupan yang terpantau seketika, sepotong-sepotong, seakan tidak ada sebab dan akibat. Tetapi kecermatan dalam karya sastra adalah suatu proses sanering yang teliti dan cekatan, hingga pembaca menemukan bagian-bagian tertentu yang terselip dalam pikiran dan perasaan, khususnya mengenai apa dan mengapa hal itu bisa terjadi.

Ketika membaca novel POI, saya teringat penjabaran Mark Twain dalam bukunya “Following the Equator”, bahwa kisah fiksi yang ditulis sastrawan, meskipun bentuknya tidak sama persis dengan kenyataan hidup, ia dapat memantulkan lebih dari sekadar kenyataan hidup itu sendiri. Ia merupakan hasil seleksi dan pemadatan kenyataan yang disaksikan atau didengar oleh penulisnya. Karena itu, segala hal yang bersifat remeh-temeh, ngawur, bertele-tele, dan segala yang berceceran dalam realitas hidup, sanggup ditepiskan oleh penulisnya, lalu dikemas dan diramu sedemikian rupa hingga begitu menarik dan menawan di hati publik.

“Sering saya bertanya-tanya, ada apa dengan diri saya? Apa yang salah pada diri saya? Apakah saya ini menderita semacam penyakit? Sering saya merasa bahwa kehidupan sehari-hari saya adalah penyakit, meski tak pernah mengerti penyakit apa yang bersarang di tubuh saya?”

Sangat interesan, inilah paragraf pertama yang ditampilkan oleh novel POI. Tokoh Haris yang digambarkan itu seakan-akan “saya” sungguhan. Ya, saya dalam konteks tahun 1965, tahun 1998, maupun tahun 2020 di saat kekisruhan Virus Corona sedang merebak di mana-mana. Apa yang berubah pada manusia Indonesia? Novel itu menggugat kepribadian dan karakteristik kita semua, menggugat fenomena keindonesiaan kita, jatidiri kita sebagai bangsa beradab, beragama, dan berpancasila.

Wajar saja ketika peluncuran novelnya di pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, penulisnya disamper beberapa mahasiswi yang menangis tersedu-sedu. Lalu, apa yang mereka tangiskan? Dalam konteks saat ini (bukan saja pasca 1965), para mahasiswi itu pernah menyaksikan bagaimana seseorang telah diperlakukan sewenang-wenang, dituduh PKI (dipersekusi), hingga salah satu dari keluarganya menderita paranoid hingga skizofrenia hingga saat ini. Konon, ada di antara mereka yang salah satu keluarganya masih berobat dan direhabilitasi di Rumah Sakit Jiwa, karena trauma dengan tuduhan “orang PKI”.

Kiranya novel Pikiran Orang Indonesia yang pernah saya perkenalkan dalam artikel “Membangun Akal Sehat” (Kompas, 24 April 2018) dan “Agama Tanpa Akal dan Hati Nurani” (Kompas, 21 November 2018), layak menjadi bahan kajian dan penelitian yang menimbulkan efek terhadap batin dan kejiwaan pembaca. Para pembaca novel akan membayangkan diri sebagai karakter yang berada dalam situasi sang tokoh, hingga menimbulkan kepekaan dan empati yang lebih tinggi dalam jiwanya.

Ketika membaca tokoh Haris, Arif, atau Ida, pembaca mampu memahami para tokoh itu dari dalam dirinya. Itulah yang membuat seorang pembaca cerita fiksi pintar mengidentifikasi diri, sekaligus cerdas memahami watak dan karakteristik orang lain. ***

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: