(Esai) Sejarah Militerisme Asia dan Orde Baru

(Esai) Sejarah Militerisme Asia dan Orde Baru

(Sisi Lain Novel Pikiran Orang Indonesia)

Oleh Feri Malik Kusuma (Kepala Divisi KontraS, Jakarta)

Bila kita mendalami karya-karya sastra Asia, khususnya para peraih nobel dari Jepang seperti Kawabata atau Yukio Mishima, kita dapat melihat moral puritan bangsa Asia yang sangat paternalistik. Dalam novel Pengakuan Sebuah Topeng atau Kuil Kencana (Yukio Mishima) dapat kita saksikan tokoh-tokoh yang memiliki loyalitas tinggi kepada atasan. Segala daya dan motivasi yang bergerak seakan hanya diperuntukkan bagi harga diri dan penghormatan kepada para penguasa, yang akan terus mereka bela sampai menghadapi risiko maut sekalipun.

Keterkaitannya dengan karakter pada penokohan novel Pikiran Orang Indonesia memang sangat relevan. Di situ nampak bahwa kematian dianggap komoditas yang murah sekali. Udin Sjafrudin (wartawan), Marsinah (buruh), Wiji Thukul (seniman) hingga Munir (aktivis HAM) dan ribuan korban lainnya selama kekuasaan militerisme Orde Baru. Mereka ditenggelamkan oleh budaya kekejaman dan sadisme, serta pandangan remeh terhadap sesuatu yang disebut luka, rasa sakit hingga mati.

Kematian yang dianggap komoditas itu diperuntukkan bagi harga diri, wibawa pemerintah, serta kelangsungan institusi militer (sebagai pihak yang mengabdi) demi penghormatan kepada petinggi militer Soeharto (sebagai tuan yang diabdi). Bandingkan dengan para pengikut gerakan ISIS yang dipulangkan ke Indonesia, yang sebenarnya memiliki esensi sama, bahwa penghormatan kepada sang guru (almu’tabir) adalah syarat mutlak menjadi anggota yang baik.

Kematian yang estetis dengan mengatasnamakan tuan yang diabdi, telah memiliki sejarah panjang di wilayah Asia, serta tergambar jelas dalam moralitas dan etika kaum samurai, hagakureyamato damaschii, moral bushido hingga pilot-pilot Kamikaze. Kekejaman dan moral samurai ini berbanding lurus dengan para perakit bom bunuh diri, baik yang tersembunyi maupun yang diledakkan di tempat-tempat umum. Dalam prinsip hagakure, semua bentuk kekejaman dan sadisme itu hanya ditujukan kepada yang terhormat sang Daimyo. Karena memang seorang samurai sejati dididik secara jiwa-raga untuk setia dan taat kepada tuan yang diabdi.

Selain itu, di dalam ajaran hakagure (samurai) terkandung filsafat cinta, tetapi kecintaan itu dipupuk sedemikian rupa agar menemukan puncak kesempurnaan dalam loyalitas tanpa reserve kepada sang penguasa. Sama halnya dengan doktrin militerisme di masa Orde Baru, yang memandang kebebasan berpendapat dan pemikiran kritis kaum muda dianggap sebagai ancaman kekuasaan yang harus ditumpas dan diberantas habis.

Dalam Pikiran Orang Indonesia nampak jelas, bahwa tokoh semacam Aris maupun Darso dianggap sebagai batu sandungan bagi kelangsungan doktrin tri upaya cakti, yang lahir dari petuah para petinggi militer Orde Baru. Dalam kitab Hagakure, yang ditulis seorang samurai, Jocho Yamamoto (1659-1719) terungkap bait-bait yang dikutip oleh para pilot Kamikaze. Karya Yamamoto itu pernah dihidupkan kembali setelah restorasi Meiji, bahkan dianggap sebagai buku pegangan wajib bagi para militer yang dikerahkan di medan pertempuran selama masa perang dunia kedua.

“Kalaupun saya dilahirkan kembali sebanyak tujuh kali, saya tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari  menjadi seorang samurai Nabeshima, serta mengabdikan hidupku sepenuhnya demi Han (keluarga besar pangerannya),” demikian tulis Yamamoto.

Seorang analis budaya dan antropologi samurai Jepang, James Clavell, menggambarkan dalam novelnya yang terkenal “Shogun”, bagaimana tradisi yamato damaschii perihal pangeran yang menganjurkan kekejaman dan sadisme itu, rupanya sangat mencintai simbolisasi rafinesse, yakni pecinta para pelayan-pelayan seksi nan cantik, yang diperlakukan sebagai budak bagi pelampiasan nafsu birahinya. Di sini kita melihat adanya pertalian peradaban Asia, juga perkawinan antara kecantikan, darah dan luka-luka. Sebagaimana novelis muda dari Jawa Barat, Eka Kurniawan melukiskannya dalam novel “Cantik Itu Luka”.

Pada novel Pikiran Orang Indonesia, kita melihat bagaimana tokoh Aris yang berhubungan mesra dengan kekasihnya Ida Farida, lalu dihadapkan pada siksaan dan pemukulan bertubi-tubi dari petinggi militer yang menuduh Aris telah keluar dari barisan protokoler. Lagi-lagi, kebebasan individu dan hak berpendapat yang bertabrakan dengan doktrin-doktrin militerisme Orde Baru. Ditambah lagi dengan sentimen primordial yang dengan sengaja dikobarkan oleh pihak penguasa.

                Tapi pada prinsipnya, seumumnya karya sastra yang baik, novel Pikiran Orang Indonesia berbeda jenis pewartaannya dengan Cantik Itu Luka. Ia lebih mendekati karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang bukan melegitimasi kekuasaan, tetapi lebih mengedepankan nilai-nilai kebaikan ketimbang hanya estetika dan keindahan bahasa semata.

Novel Pikiran Orang Indonesia bukan diperuntukkan demi kepentingan seni dan hiburan semata, tetapi sengaja ditulis pengarangnya sebagai sarana dakwah, syiar, power of influence, atau sumber legitimasi untuk mengajak pembaca memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. ***

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: