(Esai) Seni Menemukan Cinta

(Esai) Seni Menemukan Cinta

Eksistensi manusia adalah ko-eksistensi. Begitu ungkapan Gabriel Marcel. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendirian tanpa orang lain. Adanya manusia berarti ada bersama dengan hidup orang lain. Seperti saya, sesamapun hadir sebagai subjek dengan keunikan & ciri khas yang di miliki. Kehadiran orang lain bukan sebagai objek bagi diriku, melainkan subjek seperti halnya diriku.

Kekuatan memang menyatukan manusia dan yang memungkinkan manusia membangun kehidupan ialah cinta. Relasi manusia tidak akan berarti jika tidak disandarkan dengan cinta. Cinta itu membuat “Aku” dan “Engkau” menjadi “Kita”. Seperti yang di katakan Gabriel Marcel “Kita” adalah communion (kebersamaan) yakni kehadiran “Aku” dan “Engkau” dalam bentuk sempurna. Untuk mencapai derajat ini di perlukan keterbukaan dan kesediaan manusia dalam membangun relasi antar pribadi yang bersifat kreatif. Maka dasar daripada cinta ialah tak lain menghormati eksistensi dan hidup sesama manusia.

Menjadi jelas bagi kita bahwa cinta merupakan kebutuhan dasar bagi perkembangan hidup manusia, jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka orang akan mengalami gangguan baik dari psikis maupun batinnya. Abraham Maslow seorang teoritikus yang berasal dari Amerika mengatakan, tanpa cinta pertumbuhan dan perkembangan kemampuan orang akan terhambat. Setiap orang membutuhkan cinta. Terhalangnya pemenuhan kebutuhan akan cinta sebagai penyebab utama salah penyesuaian. Haus cinta merupakan sejenis penyakit karena kekurangan, jelas Maslow.

Manusia membutuhkan cinta, sama halnya ia membutuhkan makanan dan minuman. Karena itu, apa yang di sebut cinta harus terus menerus diupayakan terwujud agar manusia tidak kekurangan “gizi” rohani. Bagaimanapun kerajaan cinta semestinya ditegakkan agar manusia dapat berkembang dengan seutuhnya.

Adapun yang dikatakan oleh Leenhouwers menunjukkan bahwa orang yang punya rasa benci atau bersikap acuh tak acuh terhadapat orang lain tak mampu mencintai sesamanya. Orang yang bersangkutan akan mengisolasi dan menutup diri terhadap orang lain. Sedangkan cinta mencari kontak pada tingkatan inti pada orang lain, sedangkan sikap acuh tak acuh tidak berminat terhadap inti pribadi orang dan hanya ingin berkontak di permukaan saja (Leenhouwers, 1988:229).

Dilansir dari Liputan.com menjadi suatu perasaan yang mendasari banyak hal dalam hidup manusia. Salah satu yang banyak dikaitkan dengan perasaan tersebut adalah hubungan romantis.

Meskipun begitu, dalam sebuah hubungan romantis, harus diketahui bahwa cinta tidaklah sama dengan nafsu. Menurut Tjhin Wiguna, dokter spesialis kejiwaan Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, nafsu merupakan suatu perasaan yang terkait dengan fisik saja.

“Sedangkan cinta itu terkait dengan hubungan yang ada emosinya,” kata Tjhin secara virtual kepada Health Liputan6.com, dalam sebuah temu media beberapa waktu lalu, ditulis Senin (2/11/2020).

Tjhin mengatakan, dalam perasaan cinta ada “konten emosi” yang terkandung di dalamnya. “Makanya kita sebut cinta karena kita mencintai seseorang berarti kita terus mau membela dia, menyayangi dia, dan memberikan yang terbaik buat dia.”

Cinta itu menyatukan dua insan manusia, tetapi bukan peleburan dua pribadi yang berbeda menjadi satu pribadi. Jika terjadi peleburan seperti itu maka akan mematikan dua pribadi. Dengan demikian punahlah cinta. Daya pesona cinta terletak pada keunikannya masing-masing pribadi. Cinta hendaknya membuat dua pribadi semakin menemukan keunikan mereka masing-masing.

Jadi, konsep persatuan cinta itu bukan berarti menjadi satu dengan menghilangkan perbedaan atau keunikan masing-masing. Yang dimaksud persatuan disini ialah mau berpartisipasi secara aktif dalam ruang kehidupan yang sama untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan dua pribadi dengan segala keunikannya masing-masing.

Penulis
Irfani Arhani

Mahasiswi FSH UIN Jakarta

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: