(Esai) Soal Jurnalistik dan Sastra Kita

(Esai) Soal Jurnalistik dan Sastra Kita

–          Oleh Irawaty Nusa

–          Peneliti Program Historical Memory Indonesia

 

Pemenang nobel kesusastraan, Svetlana Alexievich (2015) pernah tinggal di pengungsian selama sepuluh tahun lebih dikarenakan opini-opininya yang tak disukai oleh para birokrat dan penguasa di negeri Belarusia. Selama beberapa tahun ia bergerilya dengan menulis esai-esai yang hanya dipublikasikan oleh koran-koran lokal, karena ia memahami dominasi rezim yang mampu menciptakan oligarki persuratkabaran pada koran-koran nasional.

Begitupun Pramoedya Ananta Toer, ketika beberapa kali masuk nominasi untuk nobel kesusastraan, ia pun tak disukai bukan hanya oleh rezim penguasa, tetapi juga oleh teman-teman seniman yang telanjur mencari penghidupan di bawah naungan institusi atau lembaga kebudayaan yang dibangun Orde Baru dan para kroninya.

Kita pun bisa memahami ketika beberapa penulis muda memilih bergerilya “mempublikasikan” naskah-naskahnya, mengingat tidak jarang kaum birokrat dan politisi memandang miring dan sinis pada perkembangan sastra dan jurnalistik. Bahkan dianggap melawan atau membangkang posisi status quo mereka. Bagi kaum politisi dan birokrat, lebih nyaman mendukung proyek-proyek penulisan dengan meniscayakan program-program yang diajukan (melalui proposal), kecuali beberapa gelintir dari mereka yang mau berpikir maju mengalami pencerahan secara intelektual.

Karena itu, dalam orasinya pada acara peluncuran buku “100 Tahun Bung Karno” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2001), Pramoedya tak henti-hentinya mengajak para sastrawan dan jurnalis muda agar menjadi penulis independen. Lebih tajam lagi dinyatakan bahwa jurnalistik dan karya sastra, sebagai hasil kreasi yang melampaui zaman mitologi (sastra lisan), harus tampil mengungkapkan ekpresinya dalam membangun kesadaran umat.

Seperti halnya daya imajinasi yang terungkap dalam karya jurnalis Alexievich, memang membutuhkan waktu berbulan bahkan bertahun-tahun untuk sampai dicerna dalam olah pikiran masyarakat. Dan kita pun bisa memahami ketika ada jurnalis dan sastrawan yang sudah puluhan tahun menyimpan naskahnya, kemudian berumah-tangga, melahirkan dan mengasuh anak-anaknya hingga dewasa. Lalu, ketika sudah merasa cocok momennya, naskah itu pun diluncurkan ke publik hingga dibaca oleh jutaan pembaca dan penikmat sastra.

Hal itu dimungkinkan, karena pada awalnya setiap karya jurnalistik maupun sastra dibaca secara individual, kemudian didengar dan diperkenalkan secara kolektif. Namun, dari kodrat primernya tetaplah ia sebuah bacaan yang diolah dalam pikiran, kemudian dicerna secara imajinatif, dinikmati dalam cita-rasa seorang pribadi sebagai bahan komunikasi individual. Karena itu, dapat dipahami ketika penulis novel Perasaan Orang Banten menyatakan bahwa karya-karya yang lahir berdasarkan hati, hanya akan dapat dinikmati oleh pembaca yang sanggup membuka mata hatinya.

Sikap individualis itu akan terus mengalami suatu fase di mana jurnalis dan sastrawan memandang bahwa kerendahan hati menjadi keharusan bila seseorang sudah mengolah cita-rasa yang lebih matang dan dewasa. Karena toh karya seni maupun media massa (sosial) pada akhirnya akan dinikmati oleh banyak orang, tidak lagi eksklusif dan individual.

Sangat berbeda dengan epos maupun mitologi yang justru menghendaki integritas nilai-nilai tradisional. Mitologi dari kodratnya meniscayakan konsep kesemestaan yang diakui sebagai hukum keramat warisan leluhur dan dianggap sakral dan abadi. Sedangkan, jurnalistik maupun karya sastra lahir dari pribadi-pribadi yang mengalami kemajuan pemikiran dari evolusi kesadaran yang berdiri di luar konsensus kelompok, dengan konsekuensi dihujat dan ditolak para pembaca atau penguasa.

Tetapi sejatinya, ia tetap bersikap independen meskipun berseberangan dengan kaum seniman yang sibuk mengabdi pada proyek-proyek bikinan penguasa. Lebih ekstrim lagi, Pramoedya menegaskan bahwa para penulis dan intelektual yang menyatakan dirinya “netral”, lalu berdiam diri melihat ketidakbecusan politisi dan penguasa dalam mengelola sistem, berarti mereka sedang berpihak kepada ketidakadilan. Tipikal semacam ini, begitu marak sepanjang 32 tahun kekuasaan militerisme Orde Baru. Seumumnya mereka senang bergerombol, berkerumun, hingga tergoda oleh lirikan dan rayuan kaum politisi yang dari kodratnya memang suka bergerombol dan berlindung dalam sekat-sekat kepartaian.

Beda dengan penulis yang konsisten ingin pergi dari kungkungan kolektivitas lama. Setidaknya, ia mampu berdiri di luar ring peradaban kampungnya. Begitupun seorang jurnalis yang konsisten pada idealismenya, sama juga menghadapi godaan dan cobaan berat, yang memang harus ditanggung oleh kekuatan mental sang jurnalis itu sendiri.

Dari perspektif lain, sosiolog August Comte pernah menyatakan bahwa mitologi-mitologi lama, termasuk pemahaman agama yang dogmatis, setelah meningkat kepada dimensi metafisika, harus terus diperjuangkan agar bermuara kepada ilmu-ilmu positif yang mengupayakan kedewasaan dan kedaulatan berpikir suatu bangsa yang berperadaban luhur. Peningkatan dimensi pemikiran ini sudah meninggalkan kepatuhan buta pada penguasa sebagai simbol “iman dogmatis”, hingga tidak cuma membeo dan membunglon saja dari ketetapan sang penguasa.

Tak beda jauh dengan pelajar dan mahasiswa yang bisanya cuma menghafal pelajaran dan manggut-manggut, tetapi giliran ditanya untuk menjabarkan hafalannya, dia melongo bagaikan burung beo. Dan pantas saja jika nantinya dia menjadi para akademisi dan intelektual-intelektual tukang yang gampang mengabdi pada kapitalisme maupun imperialisme asing.

Karena itu, sebuah karya sastra dan jurnalistik, yang telah menjadi kesepakatan masyarakat dunia, berupaya untuk terus berjuang dan mengorbankan ruang waktunya. Membentuk manusia-manusia beriman yang dewasa (reflektif) yang mengikutsertakan fakultas, bakat dan potensi manusia, termasuk yang paling hebat dalam diri manusia, yakni kekuatan akal dan imajinasi.

Secara religius, dapat pula diartikan bahwa semuanya itu adalah anugerah Tuhan yang harus terus diolah, dikreasi, dikembangkan dan ditingkatkan terus kualitasnya. Sebab, ketika pemikiran masyarakat membeku, mandek pada kepercayaan mitologi, tunduk pada sistem kekuasaan korup yang ekploitatif, maka tak lebih dari badut-badut bergerak yang kualitasnya sama dengan burung kuntul maupun orang-orangan sawah. Dengan demikian, bisa diputar-putar seenaknya laiknya wayang beber.

Coba perhatikan cuplikan novel “Perasaan Orang Banten” berikut ini (hal. 115-116):

      “Sebetulnya para hadirin kurang tertarik mendengar pidato politik, yang mereka pun sering mendengar pidato serupa di televisi maupun radio. Meski begitu mereka berusaha tenang dan tertib. Beberapa ibu-ibu yang berdiri di barisan belakang saling berbisik-bisik sekiranya pidato itu diiringi pula dengan alunan musik-musik dangdut.

      Selang beberapa saat, seseorang maju dan melangkah pelan-pelan ke depan mimbar. Matanya berputar-putar memperlihatkan keangkuhan dan rasa percaya-diri. Orang itulah yang dinamakan “jurkam” (juru kampanye), badannya tinggi dan gemuk, mengenakan jaket kuning dan topi blangkon, yang dilingkari dengan pita-pita kuning pula.

      Karena perutnya yang buncit itu, Pak Majid sesekali melirik ke arah Pak Salim yang sedang menggelar dagangan, seakan-akan ingin menyamakan ukuran perutnya. Namun Pak Salim menolak untuk dipersamakan, karena si jurkam itu dalam penilaiannya: lebih mementingkan isi perutnya daripada isi otaknya.

      Dalam rangkaian acara kampanye itu, konon beberapa waktu yang lalu sang calon gubernur itu pernah pula mengundang Kiai Cepot dalam acara majlis zikir di mesjid agung Serang, dan dihadiri pula oleh artis-artis ibukota, seperti Komeng, Omas dan Malih.”

Karena itu, dunia sastra dan jurnalistik, karena ia meleburkan diri dalam komunitas kebudayaan yang berlangsung, ia tidak lagi mengikatkan diri pada pemahaman komunitas tertentu. Tetapi, lebih terbuka dan universal. Media yang dipakainya adalah bahasa dan kata-kata yang diprakondisi oleh timbulnya suatu kebudayaan pasca-lisan (epos), yakni kebudayaan membaca buku atau media massa (sosial).

Dakwah yang pertama kali ingin disampaikan tak lain adalah pribadi-pribadi yang serius mengolah pembaruan, kesadaran, serta berani melawan arus massa tradisional, terutama mereka yang disebut pemikir atau intelektual. Jadi, siapa lagi kalau bukan mereka yang mahir membaca, punya waktu dan suasana kondusif untuk menyerap ilmu. Bahkan, merekalah yang menghargai pemikiran eksploratif dan inovatif, yang derajatnya lebih tinggi dan mulia ketimbang mengunyah mentah-mentah warisan mitologi lama yang harus ditinggalkan, hingga pendewasaan masyarakat kita mengalami proses revolusi dan percepatannya. Insya Allah. ***

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: