Essay – Manifesto Orda

Essay – Manifesto Orda

Mengawali narasi ini saya akan sedikit menyampaikan bahwa pendidikan adalah sebuah senjata yang paling utama, yang paling mutkhir, yang paling jitu dalam kancah survive kehidupan. Lantaran di dalamnya sebuah pendidikan terdapat sebuah samudra keilmuan yang mana ada partikel-partikel ilmu yang dapat digunakan sebagai media atau alat pelicin untuk melewati pejalnya kehidupan. Dan juga, sudah merupakan suatu hak dan kewajiban bagi semua orang dari semua golongan, baik yang tua dan muda, kaya dan miskin, sehat dan sekarat untuk mengakses pendidikan dan mencari ilmu. Mengutip ucapannya Tan Malaka di buku Madilog, ’bahwa kemerdekaan takkan berkibar bila rakyat Indonesia tak mengedepankan akal dalam mengupayakan kecerdasan.’ Dalam pesan singkat ala kadarnya chat kepada mantan tersebut tersimpan misi utamanya sebuah orda. Orda ialah sebuah organisasi yang berisikan mahasiswa asal daerahnya dengan tujuan mempererat silaturrohmi, menambah relasi, dan mempertegas interaksi sosial dengan dibarengi melakukan misi-misi tertentu yang berorientasi dalam dunia pendidikan di daerah asalnya. Sedangkan misinya orda adalah memotivasi para siswa/i yang hendak lulus SMA-sederajat untuk memiliki rasa niat serta minat menyandang predikat ‘maha’ di profesinya sebagai siswa atau sederhananya punya rasa niat dan minat melanjutkan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu di perguruan tinggi. Salah satu bentuk pengimplementasian dari kata motivasi adalah diadakannya agenda roadshow campus dari masing-masing orda, yaitu sebuah agenda blusukan ke sekolahan-sekolahan SMA untuk mendistribusikan informasi kampus asal orda tersebut dengan gaya dan sikap lugas, humor, santai, serta agak sedikit genit.

Contohnya Argabayu, sebuah orda produk Nganjuk yang menghimpun mahasiswa-mahasiswi asal Nganjuk yang melanjutkan karir pendidikan di kota Surabaya. Banyak sekali mereka melakukan serentetan agenda-agenda yang bisa dikatakan rempong, seperti Roadshow Campus, Expo Campus, simulasi SBMPTN, dan lain-lain demi menyongsong hari-hari sibuk; pendaftaran kampus, tak luput juga bisa jadi sebuah bentuk sikap alibi daripada menganggur, glibak-glibuk koyok semongko lebih baik melakukan pergerakan, meski hanya dengan niat ikut-ikutan saja. Asas dasarnya orda Arghabayu melakukan itu semua ialah sebuah rasa kesadaran di dalam benak para anggota-anggotanya. Kesadaran akan pentingnya sebuah relasi, ketika anggotanya bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki kemungkinan dapat dijadikan pasang hidup, jangan naif, Bung. Tapi kemungkinan-kemungkinan kecil pasti sering terjadi. Lalu pentingnya informasi mengenai kultur kota dan pengeluaran biaya hidup yang dibutuhkan di kota yang hendak disinggahinya, pentingnya pengarahan kampus sesuai kompetensi dasar adik-adik kelasnya, dan pentingnya mengenai informasi kampus seperti tips pendaftaran sesuai jalur pendaftaran yang adik-adik inginkan.

Namun tidak hanya berhenti disitu saja, seperti yang sudah saya paparkan di paraghrap pertama, yaitu mempererat tali silaturrohmi antar anggota. Argabayu ialah orda yang tak hanya sebagai agen of information tapi juga sebagai wadah yang menampung segala kegabutan mahasiswa/i non-ormek dan ukm kampus yang juga bernotabe sebagai orda terbesar se-Nganjuk) juga menyelenggarakan agenda ndek-ndek’an di Surabaya, Safari Kampus atau istilah lainnya kunjungan ke kampus tetangga, misalnya. Umpamanya anggota Argabayu ITS minggu ini menjenguk Argabayu region Uinsa atau kampus-kampus lainnya yang masih berada di dalam kota Pahlawan tersebut. Anggota Argabayu telah saling ajak-mengajak untuk saling jenguk-menjenguk, berpelukan, cipika-cipiki untuk yang perempuan, dan bagi laki-laki cukup bersalaman saja sambil menebar senyum sumringah tanpa cipika-cipiki karena saru, lalu bertukar cerita dan pengalaman saat menjalani masa perkulian kepada sesama anggota Argabayu yang lainnya. Sebuah aktivitas lunggoh bareng crito nabi-nabi tanpa memandang status sosial, paradigma politik, ideologi, dan agama. Karena keharmonisan dan kesolidan sebuah orda ditentukan oleh eratnya silaturrohmi. Simulasinya begini, sebuah kendaraan sejenis motor, katakanlah begitu, dapat melaju kencang secepat kilat bukan hanya karena faktor jokinya menarik gas dengan menggebu-gebu, tapi faktor-faktor lainnya berupa racikan mesin ala mekanik dan kualitas spare part dari ban luar sampai noken-as juga memiliki pengaruh yang tinggi. Sama halnya dengan sebuah orda, sebuah komunitas dapat besar dan memiliki eksistensi yang wah tidak hanya bermodalkan kata-kata bijak, jargon dan yel-yel semata, tapi antara ketua-wakilnya beserta jajaran staff pembantunya juga harus menjaga komunikasi dengan cara saling mendukung eratnya sebuah tali silaturrohmi.

Namun belakangan ini tidak sedikit pula mahasiswa/i yang tidak mengerti wacana di atas dan hanya numpang berak di tanah perantauan. Artinya, mereka tidak memiliki kesadaran untuk merubah suatu kondisi yang kian semrawut, minimal belajar berbenah diri di dalam suatu organisasi daerahnya. Mereka telah di sibukkan oleh deadline tugas dari dosen, brand fashoin yang sedang ngetrend atau duduk seksi di cafe-cafe modern yang begitu gemerlap dan jauh dari kesulitan hidup rakyat kecil. Di sana mereka dapat leluasa berbicara tentang artis idola, film populer, dan meramaikan khasanah istighibah club.

Padahal, pada hal kebangkitan suatu daerah itu ditentukan oleh kontribusi golongan akademisi, mahasiswa terutama. Mengutip perkataan tokoh lagi, Soekarno, berpendapat bahwa tugas utama mahasiswa dalam melanjutkan revolusi kemerdekaan adalah menjadi pelopor. Pelopor apa? Jawabnnya ada di kata ke empat dalam paraghrap ini. Bagaimana mungkin suatu bangsa ini akan berkembang dan maju pesat jika para golongan akademisinya yang sedari kampung halaman berpamitan merantau untuk mencari ilmu namun sesampainya di tanah perantauan hanya numpang berak?

Waktu-waktu yang seharusnya digunakan untuk berdiskusi, mengasah skill bersosial, serta merancang trobosan-trobosan untuk masalah yang melanda daerahnya malah habis digunakan untuk tunduk dihadapan lcd laptop menyelesaikan tugas dari dosen demi sebuah kertas yang bertuliskan huruf A dan angka 4. Itu mahasiswa bodoh, kemungkinan besar ia tidak mengerti dan tak menyadari akan sumpah Tuhan yang tidak akan merubah suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau berubah. Kenapa saya katakan mereka berkemungkinan tidak faham akan sumpah Tuhan tersebut? Kita tahu semua orang dari berbagai kalangan tak terkecuali mahasiswa sangat mendambakan yang namanya keadilan, kesajahteraan, kebahagiaan, dan sejenisnya. Tapi kenapa di tengah-tengah musim paceklik keadilan, surutnya kesejahteraan, dan kebahagiaan yang nyaris nihil ini, mereka-golongan akademisi, malah sangat berantusias merealisasikan ambisi sendiri? Jika mereka menginginkan yang namanya perubahan, kenapa mereka tidak memulainya? Apakah mereka pantas dikatakan akademisi jika masih menganut sistem partikularisme ala boujuis?

Marilah kawan, mari kabarkan (bahwa) di tangan kita (ada) segenggam arah bangsa (lagu khas mahasiswa: Buruh Tani) dengan aktif di sebuah organisasi kampus dan orda. Karena di situlah jalan pengabdian kepada rakyat, bukan malah jadi babu konglomerat. Nanti seiring berjalannya waktu akan menemukan sebuah keasyikannya bernaung di orda, yakni ketika seringnya terjadi dialektika yang dapat memberikan kegembiraan dalam menempuh pendidikan di perantauan, bahwa tidak ada yang perlu dibawa khawatir dalam cadasnya perantauan dalam segi apapun.

 

Achmad Fauzi Nasyiruddin, seorang mahasiswa Ushulluddin dan Filsafat UINSA Surabaya

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: