MENGENAL SUDUT PANDANG, MERABA KEHIDUPAN LEWAT IAKU

MENGENAL SUDUT PANDANG, MERABA KEHIDUPAN LEWAT IAKU

Iaku, Buku Puisi Ari Kpin
MENGENAL SUDUT PANDANG, MERABA KEHIDUPAN LEWAT IAKU

Iaku, Buku Puisi
Ari Kpin
(Rumput Merah, Bandung 2018) 112 halaman + iv

“Memainkan not yang salah bukanlah hal yang fatal. Bermain tanpa hasrat, itu baru tak termaafkan.” Begitu kata Ludwig Van Beethoven, seorang komposer dari Jerman.
Seperti yang diketahui, sekarang di Indonesia tidak banyak penyair yang menonjol dengan cara pembawaan pembacaan puisinya. Ari Kpin muncul sebagai seorang sosok kharismatik yang dalam setiap penampilannya membawakan puisi dengan hasrat tersendiri agar maknanya bisa sampai kepada pendengar, lewat tampilan musik yang apik, yakni musikalisasi puisi. Ia mengakrabkan puisinya lewat musikalisasi.
Dalam buku kumpulan puisinya, Ari Kpin menulis 99 puisi. Puisi-puisi yang Ari Kpin tuliskan memiliki tema yang beragam, seperti percintaan, alam, pertaubatan, kenangan, pengalaman hidup, dan curahan hati yang mendalam. Beliau mampu membuat pembaca masuk kedalam imaji-imaji yang Ia coba hadirkan. Walaupun ada beberapa imaji yang Ia hadirkan tak sesederhana milik Sapardi. Ada beberapa diksi yang membuat imaji kita harus berpikir jauh untuk menemukan maknanya.
Terdapat suatu puisi yang menarik perhatian karena dijadikan sebuah judul, yaitu “Iaku”. Hal menarik dalam puisi tersebut adalah adanya suatu yang tak biasa, yaitu sebuah permainan sudut pandang yang tak wajar dipakai, yang menjadikan maknanya lebih mengena.
⋯/lewat cermin yang terpasang di dinding/ ia pandangi bayangannya sendiri/ sosok lelah dan menua/ sosokku/⋯
(“Iaku”, Ari Kpin)

Pada penggalan puisi di atas, seolah penyair menceritakan seseorang yang bukan dirinya karena memakai kata ganti Ia. Namun ternyata orang yang diceritakannya itu adalah dirinya sendiri karena diikuti larik sosoku.
Tidak sedikit puisi yang ditulis Ari Kpin disisipi menggunakan bahasa Sunda, yang bisa menambah wawasan pembaca dalam pemeroleh istilah kosakata. Seperti puisi yang berjudul “Fragmen Nyamuk”, “Aku Hanya Ingin Mengecup”, “Iaku”, dan “Kuseduh Senyummu”.
Aku hanya ingin mengecup barusuhmu/ Bukan bibirmu/ Namun kau malah menggrimiskan kata-kata/ Meski muruhpuy tapi peureus/ Lalu aku nyiwit ceuli saeutik/ Sebab kulihat/ Hari gerimis masih ada poyannya/ ⋯
(“Aku Hanya Ingin Mengecup” Ari Kpin)
Berikut merupakan penggalan puisi Ari Kpin yang berjudul “Aku Hanya Ingin Mengecup” yang disisipi bahasa Sunda. Zaman sekarang sangat diperlukannya musisi, sastrawan atau penyair daerah yang bisa memperkenalkan bahasanya ke khalayak umum, agar bahasa tersebut tetap lestari.
Puisi yang berhasil adalah puisi yang memiliki makna ganda (multitafsir). Dalam buku kumpulan puisi Iaku, di dalamnya terdapat kemultitafsiran makna.
⋯/Tak kau terima bungamu dibandingkan/ Kau pun akan marah/ Bila ia dilecehkan/⋯
(“Raflesia, Ini Bukan Puisi”, Ari Kpin)
Berikut merupakan penggalan puisi yang berjudul “Raflesia, Ini bukan Puisi”. Didalamnya terdapat kemultitafsiran makna, yang bisa saja raflesia itu adalah bunga, disisi lain raflesia itu mengibaratkan seorang perempuan.
Bisa dikatakan buku ini berhasil membuat pembaca terkecoh akan makna yang tersirat di setiap puisinya. Ari Kpin berhasil mencurahkan segala kegundahannya dengan menggunakan perumpamaan yang menarik dan tidak biasa. Jika pembaca ingin benar-benar mengetahu makna yang sebenarnya, maka mereka harus membedah puisi ini dengan menggunakan pisau analisis yang cocok. Seperti kata seorang penulis Indonesia, Deassy M. Destiani: “Dengan melihat, aku tahu. Dengan mendengar, aku mengerti. Dengan menjalani, aku paham.” ***(Paskal A.S Al-Habib)

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: