Mewariskan sengketa

Mewariskan sengketa

Rizal De Loesie Hidup itu berjalan sejak subuh tumbuh di kelopak azan Dan embun yang mencumbui pucuk daun Langkah bermuassal, mengikuti aliran ridha Tuahan Pelataran di bawah tangkai langit dihembus serayu manja Maka menebarlah benih kebaikan Senantiasa bersyukur sepanjang sajjadah waktu Yang masih terjela. Tuhan memberi jalan, kalimah menunjuk arah Ikuti segala sunnah. Kita memberi …

+ Read More

Rasa yang pernah ada

Rasa yang pernah ada

mungkin rasa sudah tiada, tapi kenangan selalu muncul begitu saja, tanpa harus memikirkannya, bayang-bayang ilusi ini membuatku terus memikirkannya, bagaimana rasaku saat itu, apakah aku senang, bahagia bak menari-nari di atas awan? tapi percuma saja, aku sudah memaksa untuk melupakan perasaanku tentang nya, tapi aku tidak pernah sedikitpun lupa tentang kenangan yang pernah terukir bersamanya, …

+ Read More

Saksi Kepergian

Saksi Kepergian

Saksi Kepergian Rizal De Loesie Malam melipat suara jangkrik, di luar pasti dingin sekali. Hujan telah puas membasuh kenistaan yang melekat pada pohon, pada pagar-pagar tinggi rumah. Dan sebagian pada hati yang masih terbalut dengki. Karena hati sering menjadi benih menumbuhkan pertentangan, menyuburkan kebencian, dan patah. Ruangan ini tanpa raung, hanya sunyi bergelimpangan di meja, …

+ Read More

Puisi-Puisi Rizal De Loesie

Puisi-Puisi Rizal De Loesie

Puisi Perempuan Bermata Sipit Rizal De Loesie Siur angin pada rambutmu Adalah puisi Kutitip sebilah senja di bola matamu Nanti tiba jua masa Kulayarkan diksi Agar kau benar hidup Dalam puisi Engkau, Perempuan bermata sipit Puisi kujerang dihangat tubuhmu Karena puisi tanpa mu Adalah sia-sia merindu Bandung, 2020 Rindu Ditandai Rizal DeLoesie Dalam ranum purnama, …

+ Read More

Ruang Hati Tak Tertata

Ruang Hati Tak Tertata

Sendiri diantara panorama malam senandungnya membawa kesenduan senyap beriringan waktu menghantui imajinasi beku, melayang penuh hampa Gusar, resah dalam rebahan berujar alam bawah sadarku hitam ini akankah berlalu ? dimana kunci jeruji pekat hati ini? hingga membelenggu mata batinku Ambruk ruang hati tak tertata redup tak berpendar kusam penuh debu lusuh terkoyak penuh noda