Puisi – Hikayat Zaman Salto

Puisi – Hikayat Zaman Salto

Puisi : Didin Emfahrudin

 

Maukah engkau mendengar hikayatku

aku ingin mengongeng padamu wahai bocah yang manis nan lugu

sebuah hikayat peradaban manusia di zamanku kini

zaman itu itu kusebut ia, zaman salto

 

Jungkir balik abu-abu warna peradaban manusia di zaman itu

kamuflase neo-kompeni kembali mengebiri

untuk mimpi kuasa dunia dan berleha di satu kursi

bahtera meloncat-loncat

menerobos gerbang angkasa

bumi diatur dari layar tanpa bicara

sulap dua jempol mengerakkan apa saja di dunia

 

Agama-agama menjadi alasan sengketa

saling benci hingga pertumpaan darah

bangsa-bangsa tak harus lagi ada identitas pembeda ia

adat dan budaya itu jaman usang

pasar-pasar rakyat keramaiannya tergilas hilang

manusia telah lupa ia manusia

wanita berpakaian pria, juga sebaliknya

 

Maling-memaling sibuk berjamaah

di atas mimbar bebas, kami asyik meraciknya

perniagaan syahwat bukan sebuah hal yang hina

yang bertahta lebih mulia dari para kharisma tetua

 

Semua anak wajib sekolah berjurusan kaya dan bertahta

bukan lagi jurusan siswa

pemilik ilmu-ilmu bijaksana

yang salah menjadi benar

yang benar bisa masuk penjara

 

Kuatkan pondasiku dan saudara seiman-sebangsaku selalu, duh gusti

menapaki jua mengembara di zaman salto ini

meski akar tunggang falsafah kami tengah di serabutkan

pilar-pilar karakter di gilas mafia penyusup pendidikan

oleh alunan madzab global yang kian bergentanyangan

 

Kurikulum memisahkan ilmu ber-Tuhan dan ilmu berkarir dunia

bukankah pencarian ilmu juga sebuah manivestasi tuk mengamba

wahai taman-taman karakter yang masih tersisa di zaman salto

teruslah engkau membuktikan

sebuah paradigma sejatinya apa itu pendidikan

membentuk manusia berkeadaban

bahwa di zaman salto ini

kami tak memulu mengejar akselerasi modern yang semakin tak berperasaan

 

Ah, sungguh lucu dan asyiknya hidup di zaman salto itu

candaan kolosal yang selalu saja berulang sama

dalam tiap siklus perputaran zaman di hamparan bumi raya

rentengan mozaik berkeping-keping peradaban umat manusia

 

Lamongan, 2019

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: