Puisi Natal Karya Khoshshol Fairuz

Puisi Natal Karya Khoshshol Fairuz

HATI SANTA TERBUAT DARI SEPARUH DOA

 

Santa sibuk memungut air mata anak-anak

Malam ini

Satu kantung penuh dengan hadiah

Satu kantung penuh udara

Ia pun sebetulnya tengah gundah

Sementara jatah kasih dari Bapa tak terhingga

Hadiah dalam kereta rusa ada batasnya

Ho-ho-ho

Santa membetulkan topinya yang panjang

Sebelum ia menuju satu rumah

Dijualnya bot tebal sebelah kiri

Ia menukar dengan uang logam

Di trotoar dan emperan toko itu akhirnya

Kado berpita serba warna dijatuhkan

Sebenarnya Santa tidak pernah salah alamat

Ia bukan Bapa

Ia memberi

Tapi tidak semua menerima

 

 

POHON NATAL DARI BAMBU

 

“Ayah, aku mau pergi ke hutan menebang pinus”

Pohon natal bisa dibuat dari anyaman bambu, Nak

Kauiris sedikit di bagian hijaunya

Kemudian sisihkan yang putih

“Tapi ayah, aku takut terluka”

Kau sedang tidak menebus dosa

Kau tidak pernah melihat darahmu

Mengalir dari mata

Sederas aliran vena

Lalu turun memenuhi baskom

Di bawah salib itu

“Ayah, kubilang pada Tuhan, aku ingin pohon natal yang bagus”

Ke gerejalah

Esok mestinya ada kebaktian

Dan tentu pohon natal yang indah

Meski terbuat dari bambu jua

Natal tetap turun

Damai menyertaimu

 

 

 

KASIH

 

Aku benci menjadi manusia

Maka setelah hari kematianku ditentukan

Aku hidup kembali menjadi seekor anjing pada malam menjelang natal

Kulihat bangunan telah berubah, tahun di kalender mungkin juga berganti entah berapa

Gereja-gereja sudah tak mampu megah

Hanya salib yang tampaknya berdiri sendiri di bagian depan rumah-rumah

Ia sudah tidak tersedia dalam bentuk yang mudah dibawa; percaya

Aku heran kepada nyanyian dan bunyi merdu lonceng

Kini telah berubah menjadi alat berbentuk kotak tipis menyala saja

Para jemaat dan toko hiasan pohon pinus

Memutarnya sekeras mungkin di seberang sana

Berharap para pejalan kaki membeli hal kudus yang dibungkus

Kemudian membawanya sebagai hadiah natal

Konon, Santa kudengar sudah pensiun dini

Aku ingin gembira bersama anak-anak

Tapi semua orang merasa ini petanda buruk

Natal kali ini aku dilempari roti sekeras batu

Ketika menyadari pelipis kananku semerah Yesus

Aku memohon jadwal kematian dipercepat

Dan hidup kembali

Sebagai bukan apa-apa

 

 

 

 

 

 

Biodata penulis: Khoshshol Fairuz, lahir di Cilacap, bekerja penuh waktu sebagai tukang cuci piring di Penerbit Kertasentuh, Jombang. Instagram: @fairuzef

 

 

 

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: