Puisi – Natalia dan Lautan Tuhan

Puisi – Natalia dan Lautan Tuhan

Aku ingin bercerita
Tentang lautan
Tentang mahakarya tuhan
Yang penuh tipu daya

Suatu kali aku berlayar di Mediterrania
Selangkangan eropa selatan
Panas. Tua. Beradab.
Aku kira Sicily dan Sardegna tak keberatan aku bermain dengan puisi puisi
Sebuah seni bercinta ala Pompeii
Di tepi pantai mereka yg putih berdebu
Di kaki kaki lusuh italia

Suatu kali aku menyebrangi Atlantik
Lepas landas dari Madeira
Diberkati ibu ibu penjual kanvas
Aku dilambaikan tangan seiring kapal berjalan.
Tercekat. Masih saja tuhan menaruh manusia ditengah kumpulan samudera.
Ada cinta disana. Di jalanan. Di toko souvenir. Di bar-bar murah. Di kanvas seorang ibu.
Aku penuhi diri dengan doa doa yang baik.
Sepanjang Atlantik.
Aku bergumam tidak ingin mati seperti Titanic

Sore sore. Bersandar di Barbados
Saat tali kapal diikat. Saat itu cinta sekarat.
Aduhai bagaimana kerasnya laki laki terhadap dirinya sendiri.
Coba kau lihat. Perempuan berkulit kecoklatan itu menari di depanmu.
Matanya adalah ruby. Mulutnya adalah rum. Tubuhnya adalah jerat.
Memabukkan. Mematikan.
Selamat datang di Karibia, kawan!
Kenalkan kawanku Maria. Kuantar kau ke kamar.

Ada sebuah dongeng dari utara.
Tentang cahaya cahaya indah. Memukau.
Kerajaan kerajaan gelap. Senandung gereja.
Kidung langit.
Kapal bergerak menuju Baltik. Kenakan batikmu. Lupakan Maria yang tidak lagi asyik.

Beginilah kehidupan sirkus laut.
Untuk tampil prima, kamu sebelahkan perasaan.
Tuan muda terhibur. Lampu dimatikan. Sandiwara berakhir. Kita berkemas.
Angkat sauh. Kita berlayar.

Baltik. Di bulan April.
Apa yang lebih merona dari pipi manismu?
Dialah Saint Petersburg di kala gelap.
Cahaya cahaya yang bunda dongengkan setiap malam.
Tentang kota yang terang benderang.
Bangunan bangunan besar. Jalanan yang lebar.
Idealisme dingin.
Privyet, Russia!

Hari ini aku berjanji dengan Natalia.
Sepenuh hati. Demi lautan tuhan.
Aku rindukan tangan tangan pucatnya.
Pelukan canggungnya.
Rambut merahnya.
Ranum tubuhnya.
Seketika bertemu. Dia berlari. Aku terbang.
Menghampiri raga masing masing.
Berbaring berdua dengan dia ditengah Palace Square.
Menghitung bintang. Menghitung dosa. Menghitung mayat mayat komunis.
Menghitung tank perang. Menghitung sejarah sejarah palsu.
Tak kah kau hitung perasaan ini?
Aduhai bagaimana kerasnya seorang laki laki terhadap dirinya sendiri.

Natalia, aku ingin berbaring berdua denganmu seperti ini saja sampai tua.
Aku tak ingin kembali ke kapal.
Bisa kah..

Rakasiwi. Pribumi. Sirkus Laut.
Ditengah karantina kapal. Kutulis sajak ini hanya untuk mengenang, berbagi apa yang telah kulewati selama menjadi pelaut.
Stay alive, kawan. Jangan mati di usia muda.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: