Saksi Kepergian

Saksi Kepergian

Saksi Kepergian
Rizal De Loesie

Malam melipat suara jangkrik, di luar pasti dingin sekali. Hujan telah puas membasuh kenistaan yang melekat pada pohon, pada pagar-pagar tinggi rumah. Dan sebagian pada hati yang masih terbalut dengki. Karena hati sering menjadi benih menumbuhkan pertentangan, menyuburkan kebencian, dan patah.

Ruangan ini tanpa raung, hanya sunyi bergelimpangan di meja, kasur dan menempel di dinding,. Se cangkir kopi dihembus angin yang menyamun di sela jendela, tidak ada bingkai lukisan untuk mengingatmu, tetapi ingatan purba itu melumat sekeping hati yang kini menciut .

bulan pucat antara kabut terdampar di kaca jendela, sengaja terbuka, agar laron-laron menemukan kebahagiaan dibias cahaya. Begitu kebahagian terkadang semu, dan kesemuan menyaru bahagia.
Karena banyak bahagia hanya angan-angan.

Biarkan detak jam mengabarkan waktu. Sebab kebenaran tidak selalu datang di awal. Kepergian dan datang hanya selisih waktu, sementara kita saksi mendebatkan

Begitu hidup selayak rentang layar di tengah badai, berusaha mengapung perahu dengan keseimbangan hati dan jiwa, mendayung agar sampai ke tujuan. Selebihnya layar merupa takdir.

Di sini, kususun rangkai kata untuk mendamaikan hati, karena hati harus dijaga hati-hati. Karena sesungguhnya akulah sebenar saksi ketidak berdayaan. Dan engkau adalah murni kepergian,

Bandung, 2020

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: